Pernikahan Tak Terduga : UNEXPECTED MARRIAGE

Pernikahan Tak Terduga : UNEXPECTED MARRIAGE
Bab 99 : Kecewa


__ADS_3

Dari pada membuat keributan di hari ke dua pernikahan, akhirnya Marsha memilih ikut Jeremy pulang. Mereka berkata semua baik-baik saja ke Kimi sehingga wanita itu lega.


Namun, di rumah Cantika, Marsha memilih mengurung diri di dalam kamar, dia tak mau makan malam, sampai Jeremy masuk ke kamar, gadis itu masih bermain dengan ponsel di tangan.


“Aku besok akan mulai memberimu nafkah, jadi sudah jangan cemberut. Kamu juga bisa memakai mobilku yang kamu sukai,” ujar Jeremy. Ia berusaha membujuk agar Marsha luluh.


“Hem … terima kasih.”


Melihat Marsha yang cuek, Jeremy tak enak. Padahal dia berniat meminta bantuan istrinya itu.


“Sya, bisakah kamu menemaniku keluar sebentar? Aku ingin menemui Mia.” Jeremy menggigit bagian dalam mulutnya setelah mengatakan hal itu.


“Tidak, besok saja kalau mau di rumah sakit, aku mau bertemu dengan piskolog, aku butuh mencurahkan isi hati ke dokter yang ahli di bidangnya, aku tekanan batin dua hari menikah denganmu,” omel Marsha.

__ADS_1


“Tapi Sya di rumah sakit bukan tempat yang aman.” Jeremy menolak.


“Siapa bilang, kalian hanya mau bertemu dan mengobrol ‘kan? kecuali berniat bertindak tak senonoh berdua. Rumah sakit adalah tempat paling aman, karena saat ada yang melihat, mereka pasti berpikir kebetulan kalian bertemu atau konsultasi kesehatan.”


Jeremy mencoba mencerna ide dari istrinya, sampai dia mengangguk dan merasa Marsha memang sangat cerdas. Menunjukkan ke orang-orang dan bersikap biasa memang malah akan meminimalisir kecurigaan.


“Ya sudah, besok kita ke rumah sakit.”


_


_


Namun, sudah hampir lima menit mencoba menghubungi kekasihnya tapi Mia tak juga membalas panggilan Jeremy. Pria itu berhenti di dekat lorong yang masih dekat dengan kantin, hingga mendengar suara yang sangat dia kenali berbicara.

__ADS_1


Jeremy mencoba melihat, dia kaget mendapati Mia sedang berdiri memunggunginya dengan ponsel di telinga. Pantas telepon dan panggilannya tidak dibalas atau pun dijawab, kekasihnya itu ternyata sedang sibuk menelepon.


“Iya, selama Je masih menjadi kekasihku maka aku tidak perlu bingung memikirkan uang dan biaya. Ia bahkan memberikanku kartu ATMnya. Kamu satu-satunya yang tahu, jadi aku mohon tidak perlu meminta orangtuaku agar menasehatiku meninggalkan dia, aku awalnya memang takut dicap menjadi pelakor, tapi karena Je meyakinkan aku sama sekali tidak takut.”


DEG


Jeremy menelan ludahnya, dia jelas mendengar ucapan Mia dan jelas tahu apa maksudnya. Tiba-tiba saja hati Jeremy mencelos, hingga dia memilih untuk menjauh agar Mia tak mengetahui bahwa dia mendengarnya. Pria itu memutuskan kembali ke mobil. Duduk sambil menunggu Mia atau Marsha menghubunginya lebih dulu.


_


_


"Jadi kamu merasa tertekan dua hari menikah dengan suamimu?" tanya Psikolog yang merupakan teman Kimi. Namun, jelas di dalam pekerjaannya dia tidak boleh membocorkan rahasia pasien karena sudah disumpah.

__ADS_1


"Iya, dia terlalu mengatur dan galak, hanya memakai kausnya saja di marah sampai kesetanan," kata Marsha. "Dok, berikan aku obat, atau apapun agar aku tidak uring-uringan saat melihat mukanya."


"Hem... tidak ada obat seperti itu Marsha, semua obat tentang keluhanmu itu hanya dirimu sendiri, cobalah berbicara dari hati ke hati dengan suamimu."


__ADS_2