Pernikahan Tak Terduga : UNEXPECTED MARRIAGE

Pernikahan Tak Terduga : UNEXPECTED MARRIAGE
Bab 76 : Selamatkan Aku!


__ADS_3

Penculik itu pun mencari nomor pak Ogah yang dimaksud Marsha, dia mendekatkan ponsel sampai terdengar bunyi panggilan itu terhubung. Marsha mulai takut, dia berharap pilihannya tidak salah.


“Ayo, Pak! angkat! Nyawaku di tanganmu,” gumam Marsha di dalam hati.


Sementara itu, di saat yang bersamaan ternyata pak Ogah-sopir pribadi Marsha sedang duduk di teras bersama pembantu. Ia prihatin dan takut hal buruk menimpa anak majikannya itu.


“Aku wis ganteng-ganteng pakai batik, lha … kok malah Non Marshanya diculik. Ini pasti karena mau nikah tapi tidak mencari hari yang baik,” ujar Pak Ogah.


“Hadeh … kita itu sedang cemas, tidak usah memikirkan hal macam itu lho Pak.” Pembantu Kimi geleng-geleng kepala. Ia tidak percaya dengan hal-hal seperti itu, sehingga menganggap remeh ucapan Pak Ogah.


Mereka sama-sama membuang napas kasar, hingga ponsel Pak Ogah dengan nada dering sikok bagi tigo berbunyi. Pria paruh baya itu pun merogohnya dari saku kemeja, dia sampai mendekatkan benda pipih itu ke muka untuk melihat siapa yang menghubungi.


“Non Marsha telepon, mau apa ya dia?” tanya Pak Ogah ke pembantu Kimi.


“Non Marsha? Dia ‘kan hilang Ogah … Ogah, buruan angkat siapa tahu ada penting!”

__ADS_1


Sebuah pukulan mendarat di punggung Pak Ogah dari rekan seperbabuannya. Pria itu pun bangkit, menggeser tombol hijau di layar HPnya sambil masuk ke dalam rumah.


“Halo … Non, Non Marsha,” panggil Pak Ogah.


“Pak Ogah! Katakan pada Papi aku diculik, aku mau dibakar hidup-hidup di gudang, buruan Pak, aku tidak mau menjadi daging panggang di sini,” teriak Marsha ketakutan.


Pak Ogah tergopoh dia memberikan ponselnya ke Richie yang masih berusaha meminta bantuan ke kolega dan kenalan. Pria itu bingung karena sang sopir nampak sangat cemas.


“Non Marsha, Non Marsha mau disate,” ucap pak Ogah.


“Eh … salah, maksudnya mau dibakar, Tuan tanya saja sendrii, ini Non Marsha menelepon,” imbuh pak Ogah sambil memberikan ponselnya ke Richie.


Fokus semua orang seketika terarah ke pria itu. Richie malah terdiam, dia bingung hingga suara putrinya terdengar berteriak dari ponsel yang sudah berada di tangannya.


“Pak Ogah, selamatkan aku mereka sudah menyiram bensin ke sekitarku, cepat ke sini.” Suara Marsha terdengar mulai bergetar, Richie tahu putrinya itu pasti sedang ketakutan dan menangis.

__ADS_1


“Marsha, ini Papi, di mana kamu sekarang?”


Kimi pun seperti mendapat harapan, dia dekati suaminya untuk ikut mendengarkan perbincangan mereka. Tak tinggal Diam, Rey pun meminta temannya untuk melacak nomor ponsel Marsha.


“Papi, ini om penculiknya bilang kalau Papi tidak segera ke sini, bukan salah dia.”


“Papi akan ke sana, tunggu! Papi pasti akan ke sana.”


Richie mencoba menenangkan sang putri, bersamaan dengan itu Rey dan Jeremy sudah lari lebih dulu menuju mobil, Jeremy berteriak bahwa dia sudah mendapatkan lokasi keberadaan Marsha.


“Pi, akan aku bagikan lokasinya, Papi jangan lupa meminta bantuan pemadam kebakaran jika benar-benar terjadi kebakaran,” ucap Jeremy. Ia mempasrahkan kemudi kepada Rey. Adiknya itu bahkan langsung menginjak pedal gas dan melesat meninggalkan kediaman Richie.


“Sial! harusnya aku menikah hari ini,” umpat Jeremy. Ia membuat Rey semakin tak enak hati, seandainya saja dia tidak berkata ‘iya’ saat Marsha mengeluh, mungkin saja gadis itu tidak akan diculik seperti ini.


“Aku tidak akan bisa hidup tanpa dia,” kata Jeremy. Tanpa sadar dia membuat hati sang adik mencelos.

__ADS_1


“Bagaimana bisa aku hidup kalau jimat hidupku tidak ada.”


__ADS_2