
Jeremy naik ke atas ranjang, dia dorong tubuh Marsha dan langsung mengurungnya. Pria itu menaikkan ke dua tangan Marsha dan menggenggamnya erat di atas kepala gadis itu. Tatapan mata mereka saling beradu. Parahnya tak ada sedikitpun rasa takut di mata Marsha. Gadis itu menganggap Jeremy tak mungkin berani menyentuhnya lebih dari ini, Marsha tahu Jeremy hanya menganggapnya tak lebih dari keponakan atau bahkan adik.
“Aku pria normal, jadi jangan menantangku dengan hal berbau dua puluh satu,” ucap Jeremy. Matanya menatap tajam mata Marsha. Keduanya berusaha saling membaca pikiran yang terpancar dari indera penglihatan masing-masing.
“Aku gadis lugu, tapi suka nonton adegan dua satu,” kata Marsha tanpa rasa malu. “Aku penasaran bagaimana rupa Brontosaurus jika dilihat langsung.”
“Apa kamu anak TK?” cibir Jeremy.
“Aku sedang memuji Om, tahu! Brontosaurus adalah dino terbesar sepanjang sejarah. Tingginya bisa mencapai dua puluh tuju meter. Aku penasaran apa Bro Om Jeremy juga memiliki ukuran dua puluh tujuh senti?” tanya Marsha tanpa sedikit pun merasa takut. “Om, dia menempel pahaku,” imbuhnya.
“Sialan!”
Jeremy bergegas bangkit, dia menutupi kejantanannya dengan bantal. Sedangkan Marsha masih berbaring lalu menghentakkan betisnya.
__ADS_1
“Ah … tidak asyik, Om seharusnya mengaku saja bahwa aku bisa membuat Om horni,” ucap Marsha. Ia akhirnya duduk dan menatap Jeremy yang sekuat tenaga mengendalikan diri.
“Sya, jangan memprovokasi! kalau aku sampai lepas kendali dan melakukan itu padamu. Aku yakin kamu akan menyesal,” ancam Jeremy. “Pria yang sudah berada dalam mode tegangan tinggi susah untuk dijinakkan.”
“Tegangan tinggi? Apa Om sejenis menara sutet?”
Marsha mencibir, dia bukannya tidak tahu bahwa Jeremy sedang bersusah payah melawan birahinya sendiri. Marsha melihat wajah pria itu berubah. Jika dia melakukan satu gerakan saja seperti mencoba meloloskan lingerie-nya, sudah tentu Jeremy tidak akan kuat. Gadis itu tersenyum miring, membuat Jeremy lari di malam pertama adalah tujuannya.
Namun, Marsha salah. Jeremy membuang bantal dan kembali menerkam. Kini pria itu mencekal ke dua tangannya dan menekannya di sisi kepalanya.
Jeremy memulas smirk, dia dekatkan wajahnya dan menyasar bibir Marsha, dia menghitung satu sampai tiga, berpikir bahwa gadis itu pasti akan menendang atau melawan, tapi tak Jeremy sangka Marsha malah memejamkan mata. Gadis itu seolah pasrah dengan apa yang ingin dia lakukan.
“Lakukan saja! bukankah kamu sangat mencintai kak Mia? Mana mungkin kamu berani menciumku, dan sebelum kamu menanggalkan boxermu itu, aku akan tetap bertahan,” gumam Marsha di dalam hati.
__ADS_1
Namun, tak lama matanya membeliak, dia kaget karena Jeremy benar-benar menyentuhkan bibir mereka lalu menjauhkannya.
“Apa yang Om lakukan?” reflek Marsha bertanya.
“Pemanasan? Bukankah kamu sudah sering menonton video kakek Sugiono? Sebelum itu, bukankah si pria harus membuat wanitanya basah?” kata Jeremy dengan nada suara sensual.
Marsha mengerjab, tak bisa dibiarkan. Ia tidak mau melepaskan mahkota berharganya untuk Jeremy. Apa kabar enam bulan nanti? Dia tidak mau menjadi janda betulan mana sudah tidak perawan lagi. Marsha mulai panik. Matanya bergerak liar, terlebih Jeremy sudah menunduk untuk melihat bagian dadanya.
“Apa yang Om lihat?” tanyanya meski sudah tahu mata Jeremy tertuju di sana.
“Dadamu kecil sekali, apa bisa dihisap?”
Marsha meneguk saliva. Sepertinya dia harus kabur sebelum semuanya menjadi berantakan.
__ADS_1
“Om Jeremy ada kecoa di rambut Om!” teriak Marsha.