
Marsha akhirnya diperbolehkan pulang karena kondisinya yang sudah stabil, tapi dia tetap harus kontrol dan melakukan pengecekan seminggu lagi untuk memastikan tidak ada komplikasi atau masalah dengan kandungannya.
“Biar aku bawakan barang-barangnya!”
Zie dan Peter datang ke rumah sakit siang itu, mereka pun membantu berkemas dan membawakan barang-barang Marsha.
“Terima kasih,” ucap Jeremy karena Zie dengan penuh perhatian mau membantu.
Mereka pun keluar dari rumah sakit bersama, Jeremy mendorong kursi roda yang diduduki Marsha karena dokter menyarankan agar Marsha jangan terlalu lelah.
Jeremy penuh perhatian membantu Marsha masuk ke mobil, sedangkan Zie dan peter memasukkan barang ke bagasi. Mereka pulang menggunakan satu mobil karena Zie dan Peter ke sana naik taksi.
Di sepanjang perjalanan, kabin mobil itu nampak sunyi, Marsha melamun sedangkan Zie terlihat sibuk melihat pakaian-pakaian bayi di sebuah market place.
“Bajunya lucu-lucu,” ucap Zie sambil tersenyum sendiri melihat banyaknya model pakaian bayi yang terpampang di sana.
Marsha pun penasaran dengan apa yang dilihat Zie, hingga kemudian ikut melihat ke ponsel sahabatnya itu.
“Sya, anakmu nanti kalau cewek pasti cantik, kalau cowok pasti tampan,” ucap Zie dengan tatapan tertuju ke layar ponsel.
Jeremy yang duduk di depan pun sedikit menoleh mendengar ucapan Zie, lantas membalas, “Lihat dulu bibitnya seperti apa!”
Zie mencebik karena Jeremy membanggakan diri, hingga kemudian memajujan badannya sampai ke sandaran kursi Peter yang sedang mengemudi. Gadis itu dengan sengaja menggoda.
“Kak Pet, apa kamu tidak iri dan tidak ingin segera menikah? Siapa tahu nanti kalau punya anak juga cantik atau tampan?”
Peter tampak malu-malu mendengar pertanyaan Zie, hingga dia pun menjawab, “Aku belum punya calon.”
“Ah … kak Pet, aku ‘kan ada,” balas Zie dengan santainya.
Peter pun terbatuk-batuk karena tersedak ludahnya mendengar ucapan Zie, kebetulan mobil berhenti di depan lampu merah dan Peter pun menoleh Zie dengan bola mata membulat sempurna.
Zie tertawa kecil melihat Peter yang terkejut sampai tersedak, hingga dia pun menepuk pelan punggung pria itu.
__ADS_1
“Aku hanya bercanda, jangan gede rasa!"
***
Sesampainya di rumah, Zie menemani Marsha di kamar, sedangkan Jeremy dan Peter masih berbincang di ruang tamu membahas pekerjaan.
“Zie, aku sebenarnya sedih,” ucap Marsha yang hendak mencurahkan isi hati.
“Kenapa sedih?” tanya Zie keheranan, dia pikir seharusnya Marsha bahagia karena sebentar lagi akan memiliki bayi.
“Mami sedih saat tahu aku hamil, itu membuatku merasa bersalah, Zie,” jawab Marsha sambil menundukkan kepala.
Zie memilih merangkul pundak Marsha, lantas mengusap-usap perlahan. “Mungkin itu hanya perasaanmu saja, mana mungkin mamimu begitu. Aku yakin mamimu pasti senang karena akan mendapat cucu. Kamu juga tidak perlu cemas, aku janji akan menjagamu dan juga menyayangi anakmu kelak ketika dia sudah lahir, seperti anakku sendiri,” ucap Zie menenangkan.
Marsha menoleh Zie, terharu karena mendapatkan teman sebaik gadis ini.
***
Malam harinya, Jeremy dan Marsha sama-sama masih terjaga. Mereka saling berpelukan di atas ranjang, tapi tidak ada pembahasan apa pun di antara keduanya.
Jeremy langsung melonggarkan pelukan, kemudian sedikit menunduk untuk bisa menatap wajah sang istri.
“Wedang roti?” Jeremy malah mengerutkan alis mendengar permintaan Marsha.
“Iya, wedang roti. Roti tawar disiram pakai kuah santan, pasti sangat enak.” Marsha membayangkan betapa gurih dan manis makanan itu sampai mereguk saliva.
Jeremy pun menengok ke jam dinding, waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, di mana pula dia harus mencari wedang roti.
“Ini sudah malam. Bagaimana kalau aku buatkan?” tanya Jeremy.
Marsha sedikit ragu dengan tawaran sang suami, dia pun menolak dan meminta Jeremy untuk beli saja di luar.
“Tapi ini sudah malam, Sya. Bagaimana kalau sudah muter-muter nyari, tapi tidak dapat?” tanya Jeremy membujuk agar Marsha mau dia buatkan.
__ADS_1
“Ya sudah, tapi janji rasanya harus enak,” jawab Marsha yang akhirnya pasrah.
“Kamu tunggu di sini, aku akan turun buatkan wedang roti untukmu,” ucap Jeremy lantas turun dari ranjang.
Saat baru saja sampai di dapur, Jeremy bertemu dengan Rey. Adiknya itu heran melihatnya membuka lemari penyimpanan seolah mencari-cari sesuatu.
“Kak Je mau apa?” tanya Rey.
“Marsha mau makan wedang roti, karena sudah malam, jadi aku berinisiatif untuk membuatnya sendiri,” jawab Jeremy tanpa menatap ke sang adik.
Rey yang kuliah di luar negeri dan terbiasa hidup mandiri, tampak lebih cekatan dalam melakukan sesuatu daripada Jeremy. Ia bahkan tahu di mana letak roti, sirup dan santan instan.
“Biar aku bantu!"
Jeremy pun tidak menolak, dia membiarkan Rey membantunya membuat kuah santan yang enak.
Setelah beberapa menit, akhirnya wedang roti pun sudah siap dihidangkan. Jeremy senang karena bisa memberikan apa yang diinginkan istrinya.
“Makasih ya, Rey. Aku akan bawa ini ke kamar,” ucap Jeremy ke Rey.
“Hem....” Rey mengangguk lalu menepuk pundak Jeremy.
Jeremy pun cepat-cepat membawa wedang roti ke kamar, lantas menyuapi Marsha perlahan.
“Tunggu!” Marsha menolak saat Jeremy hendak menyuapinya lagi.
“Kenapa? Tidak enak?” tanya Jeremy khawatir.
“Nggak, rasanya malah menurutku lumayan enak. Aku ragu kalau yang buat ini Kak Je,” ucap Marsha yang keheranan.
“Oh, sebenarnya yang buat Rey, tadi dia bantu buatin kuah santannya,” balas Jeremy.
Marsha pun akhirnya tidak heran kalau wedang roti itu enak, hingga dia tiba-tiba memiliki ide jahil untuk mengerjai suaminya.
__ADS_1
“Mungkin kalau Rey yang nyuapi, rasanya akan jauh lebih enak, kak!"