Pernikahan Tak Terduga : UNEXPECTED MARRIAGE

Pernikahan Tak Terduga : UNEXPECTED MARRIAGE
Bab 125 : Ingin Kamu Bangun


__ADS_3

Operasi Jeremy berjalan dengan lancar. Semua keluarga pun akhirnya bernapas lega. Begitu juga dengan Marsha. Meski masih belum boleh menemui suaminya yang masih berada di ICU untuk observasi, tapi dia bersyukur sesuatu yang buruk tidak terjadi.


Hingga setelah tiga jam semenjak Jeremy dipindahkan, akhirnya Marsha diperbolehkan melihat kondisi pria itu.


Marsha sedetik pun tak ingin beranjak dari samping suaminya. Kimi sudah beberapa kali mencoba membujuk sang putri untuk istirahat, tapi Marsha menggeleng untuk menolak.


“Mi, apa bius yang dokter anastesi suntikkan? Kenapa kak Je belum bangun juga?”


Marsha mendongak untuk mencari jawaban ke Kimi. Namun, wanita yang melahirkannya itu malah menepuk pundaknya lalu memandangi wajah sang menantu yang masih terbaring lemah.


“Biarkan dia istirahat, nanti juga dia bangun. Apa kamu tidak lelah? Apa mau Mami siapkan kamar untukmu?” tanya Kimi. Sedih juga dia melihat putrinya bertingkah seperti ini.


“Tidak mau, aku mau menjadi orang pertama saat suamiku membuka mata.”


Kimi membuang napas panjang. Ia tak bisa berbuat apa-apa karena sang putri memang sangat keras kepala. Hingga Kimi memutuskan keluar dari sana dan menemui orang-orang yang masih menunggu di luar.

__ADS_1


Namun, di sana nampak sepi. Kimi hanya mendapati Richie.


“Apa kamu sudah melihat CCTV nya?” tanya Kimi.


Suaminya itu mengangguk, lantas menjelaskan lebih dulu bahwa Rey dan Cantika izin pulang. Mereka akan kembali nanti. Lagi pula, hanya satu orang yang diperbolehkan masuk ke ruang ICU di mana Jeremy dirawat. Putri tunggalnya jelas keras kepala dan tak mungkin mau pergi dari sana.


“Kim, apa kamu bisa menebak apa yang aku lihat?” tanya Richie. Meski masih dugaan, tapi dia tidak bisa menyembunyikan fakta yang dilihatnya dari CCTV yang kini sudah diamankan oleh polisi.


“Aku melihat Marsha ke sana datang bersama Zie, sedangkan Jeremy datang beberapa menit setelahnya bersama seorang wanita.”


“Mia? Siapa dia?” kening Richie pun membentuk guratan halus. Meski pernah bertemu dengan dokter yang bekerja di rumah sakit sang istri, tapi Richie tidak mengingat namanya.


“Aku yakin dia Mia, dia salah satu dokter muda berpotensi di rumah sakit ini,” jelas Kimi. “Untuk masalah ini kita bicarakan nanti, sekarang yang terpenting adalah kesehatan Jeremy. Aku juga takut kalau Marsha sampai sakit. Putrimu itu tidak mau beranjak sedikitpun dari samping suaminya.”


“Dia pasti sangat mencintai Jeremy.”

__ADS_1


Kimi malah gemas, dia bahkan mencubit pinggang sang suami sebelum berkata, “Jelas dia harus mencintai Jeremy, mereka 'kan suami istri.” Kimi memandang Richie dengan ekor mata. Suaminya itu tidak peka dengan apa yang dia rasakan. Sebagai wanita, dia memiliki firasat bahwa Jeremy memiliki hubungan dengan Mia.


_


_


Marsha masih diam dan memandangi wajah pucat Jeremy. Tangannya perlahan terulur dan menggenggam tangan kanan sang suami. Marsha menunduk dan kembali meneteskan air mata. Ia tidak tahu perasaan apa yang dimilikinya saat ini, yang pasti dia sangat takut jika sampai Jeremy mati.


“Om Je, bangunlah! Jangan berpura-pura tidur terus. Kamu pasti mengerjaiku ‘kan?” Marsha berbicara sendiri, dia berharap Jeremy bisa mendengarnya meski pada kenyataannya dia juga sudah tahu itu mustahil. Gadis itu menyematkan jemarinya di sela-sela jemari sang suami.


“Om, aku mending jadi janda cerai dari pada janda ditinggal mati,” ucap Marsha asal. Ia sudah kehilangan akal sehat karena terlalu sedih hingga bicara ngelantur. “Om, aku masih punya sembilan permintaan, aku akan menggunakannya sekarang. Sembilan permintaan itu akan aku jadikan satu, aku hanya ingin Om bangun lalu memakiku.”


Tepat setelah mengatakan itu, pundak Marsha bergetar hebat. Ia menunduk dan menangis lagi. Tangannya terus menggenggam tangan Jeremy yang tanpa dia sadari mulai mengedipkan mata.


“Jika itu kurang, aku akan melakukan apa pun yang Om mau tapi Om harus bangun.”

__ADS_1


Marsha masih saja terisak, hingga tangisnya seketika berhenti saat dia merasakan tangan Jeremy bergerak dan bahkan menggenggam jemarinya.


__ADS_2