
Marsha pikir setelah sampai rumah dia bisa tidur dengan nyenyak atau sekadar beristirahat, tapi nyatanya dia malah dipusingkan dengan berondongan pertanyaan dari Nova, yang kebetulan sedang berada di kediaman Cantika hari itu. Marsha yang kesal pun memasang muka masam, hingga Jeremy yang sadar membantu dengan cara merangkul pundak sang istri dan mengajaknya naik ke atas.
“Kami lelah, wawancaranya besok saja ya!” ucap Jeremy dengan ekspresi yang dibuat loyo. Pria itu terus merangkul pundak Marsha sampai masuk ke dalam kamar.
“Aku menyelamatkanmu,” ucap Jeremy jemawa.
Marsha tak merespon, dia memilih merebahkan diri di ranjang, dan membuang napas kasar dari mulut. Gadis itu tak bergerak dari posisinya untuk beberapa saat, sampai Jeremy mendekat untuk memastikan keadaannya.
“Aku masih hidup Om Je, aku belum mati. Om bisa lihat dadaku masih naik turun, itu tandanya aku masih bernapas,” oceh Marsha.
“Ck … kamu itu, aku hanya takut kalau sampai yang dikatakan Peter benar. Kamu diikuti mahkluk astral karena makan sesaji,” ucap Jeremy yang asal memberikan alasan.
Marsha hanya mencebik, sebenarnya dia lupa membeli hadiah untuk Zie. Sahabat baiknya itu pasti akan kecewa karena beranggapan dia tidak mengingatnya. Marsha pun sedang memutar otak, dia tahu Jeremy membeli banyak arak untuk mengisi mini bar di rumah Cantika. Gadis itu berniat mengambil satu untuk diberikan ke Zie.
“Ah … itu lebih baik,” ucap Marsha tanpa sadar.
__ADS_1
Jeremy pun menoleh, matanya menyipit curiga mendengar celotehan sang istri. Apa yang dimaksud gadis itu dengan ‘lebih baik’. Tidak! Jangan sampai ada ide gila di kepala Marsha yang dirinya tidak tahu dan berakibat buruk.
“Apa yang lebih baik, Sya?” tanya Jeremy tanpa basa-basi. Ia yang hampir masuk ke kamar mandi berjalan mundur lalu berhenti dan menoleh ke arah ranjang.
“Om, tidak perlu tahu apa yang ada di kepalaku. Kita itu tidak dekat! Catat!” ucap Marsha dengan penekanan di akhir kalimat.
Jeremy kembali berdecak, berurusan dengan Marsha memang gampang-gampang susah, apa lagi membuat gadis itu luluh dan jatuh ke dalam pelukannya. Mungkin Jeremy harus menyelamatkan nyawa Marsha lagi agar hati putri tunggal Richard Tyaga itu jatuh kepadanya.
“Apa aku sudah gila? berharap bocil itu jatuh ke pelukanku?” gumam Jeremy di dalam hati. Ia menggelengkan kepala lantas mengerjap beberapa kali sebelum benar-benar masuk ke dalam kamar mandi.
“Kata orang-orang, menantunya Dinar langsung hamil setelah diberi ramun itu. Jadi, ramuan itu memang ampuh, untung aku mendapatkannya tepat sebelum mereka berangkat ke Bali. Tenang bestie, setelah ini kita pasti akan mendapat cicit.”
Ucapan Cantika beberapa waktu yang lalu terngiang di telinga Nova, sahabatnya itu juga sibuk memperhatikan dirinya yang masih terus mencari krim ibu perang milik Marsha. Wajah mereka semringah saat melihat apa yang dicari. Keduanya ingin melihat apakah krim itu sudah berkurang atau belum.
Perlahan Nova memutar tutupnya, dia menoleh Cantika yang memilih memejamkan mata tapi diam-diam mengintip. Dua nenek super kepo itu seketika bahagia dan girang melihat isi krim di wadah itu sudah berkurang banyak.
__ADS_1
“Lihat! apa kamu bisa bayangkan berapa kali selama liburan mereka hohohehe?” Nova kegirangan, dia menunjukkan krim super ampuh itu ke Cantika.
“Astaga, Jeremy pasti ketagihan. Pantas saja Marsha kelelahan,” sambung Cantika dengan ekspresi tak kalah girang.
_
_
Di waktu yang bersamaan di tempat yang tak jauh dari kediaman Kimi, seorang pria duduk di kursi empuknya sambil menghisap cerutu. Dia meniupkan asap ke atas lalu memandangi tiga orang yang sedang berlutut dengan wajah babak belur karena dihajar.
Ketiga orang itu adalah pria yang menculik Marsha. Selama ini mereka berdusta agar bisa lolos dari pria kejam ini. Namun, saat sang tuan tahu kebenarannya, mereka tak bisa lolos dan akhirnya mendapat balasan.
"Apa kalian tidak sayang istri dan anak kalian? hanya demi anak Richard Tyaga kalian berbohong?"
"Tuan, silahkan tuan culik saja gadis itu sendiri, lihat dan hadapi kelakuannya."
__ADS_1