
“Kamu ingin beri nama siapa?” tanya Jeremy.
“Serafina, bagaimana menurut Kakak? Serafina artinya bersinar dan bersemangat, aku ingin putri kita tumbuh seperti itu,” jawab Marsha dengan senyum lebar penuh kebahagiaan.
“Nama yang cantik, lalu bagaimana kalau nama belakangnya dibuat gabungan dari nama kita. Serafina Jeresha Tyaga, bagaimana?”
Marsha tertawa senang, dia mengangguk mengiyakan nama yang diberikan oleh Jeremy, lantas meminta sang suami naik ke atas ranjang.
“Aku mau dipeluk,” ucap Marsha dengan manja.
Jeremy menuruti ucapan istrinya, dia duduk dan siap berbaring di ranjang. Namun, Marsha tiba-tiba kembali bicara hingga membuat Jeremy urung melakukan niatnya.
“Kak Je, tolong lepasin bra-ku dulu,” ucap Marsha lantas tersenyum lebar. Kelakuannya membuat Jeremy geleng-geleng kepala.
"Dari awal masalah ranjang kita tak jauh dari kutang," cibir Jeremy.
Keduanya pun berbaring bersisian, meski masih terpasang selang infus di tangan, tapi tidak membuat Marsha kesusahan memeluk sang suami.
“Aku sangat bersyukur karena bisa bertemu Kakak dan akhirnya memilikimu sebagai suami. Aku anak tunggal, terkadang masih bersikap kekanak-kanakan dan aku selalu merasa kesepian. Tapi karena kakak, aku bisa menjadi sosok yang berbeda,” ucap Marsha penuh rasa syukur.
“Aku juga bahagia karena mengenalmu. Meski aku sendiri tidak tahu nilai lebih dirimu, yang membuatku akhirnya jatuh cinta,” balas Jeremy sambil mempererat pelukan.
Marsha mencebik mendengar ucapan Jeremy, bisa-bisanya suaminya berkata sejujur itu. Padahal dia berpikir Jeremy akan sedikit memujinya meski berbohong. Bibir Marsha pun mengerucut karena kesal.
Jeremy tertawa melihat istrinya cemberut, hingga kemudian membelai rambut Marsha dengan lembut.
“Aku memang tidak tahu banyak, tapi ada beberapa hal yang aku ketahui dan kagumi darimu. Seperti, kamu yang menjadi donatur tetap di sebuah panti asuhan,” ujar Jeremy mengungkap yang diketahui agar istrinya tidak marah.
__ADS_1
Marsha terkejut karena Jeremy tahu tentang hal yang satu ini.
“Kak Je tahu?” tanya Marsha.
“Iya aku tahu,” jawab Jeremy.
“Aku tahu semuanya, tapi memilih diam dan tidak mau bertanya. Aku hanya berpikir jika itu pasti rahasia, sehingga kamu tidak menceritakannya ke aku."
“Hmm … bukankah kalau membantu orang tidak boleh dipamerkan?" kata Marsha.
Jeremy hanya tertawa, lantas memilih semakin mempererat pelukannya. Meski sudah menjadi ibu, tapi tetap saja Marsha masih polos.
***
Tiga hari kemudian, akhirnya Marsha sudah diperbolehkan pulang. Dia dan bayinya pulang ke rumah Kimi karena di sana ada lebih banyak pembantu, yang akan membantunya merawat sang bayi.
Di rumah itu ternyata seluruh keluarga sudah berkumpul, termasuk keluarga Daniel, Mina, juga Oma dan neneknya, bahkan Zie juga ada di sana untuk menyambut kepulangan Marsha.
“Akhirnya kamu pulang dan kini jadi mama muda,” ucap Zie memberi selamat atas kepulangan Marsha.
“Makasih,” ucap Marsha sambil memeluk Zie.
Semua orang juga memeluk bergantian dan mengucapkan selamat ke Marsha. ibu muda itu memandang putrinya yang kini digendong oleh Ghea dan Mina secara bergantian. Marsha sangat senang karena keluarganya berkumpul. Mereka begitu bahagia menyambut kehadiran buah hatinya dan Jeremy.
Jeremy menatap Marsha yang terlihat begitu bahagia, hingga kemudian mendekat dan menggenggam tangan sang istri, lantas mengajak Marsha keluar dari ruangan itu.
“Kak Je, mau ke mana?” tanya Marsha bingung karena Jeremy menariknya keluar rumah.
__ADS_1
“Ikut saja,” jawab Jeremy masih menggandeng tangan Marsha, berjalan melewati beberapa rumah dari kediaman sang mertua.
Marsha masih bingung, tapi tetap mengikuti langkah kaki sang suami.
Hingga Jeremy akhirnya berhenti di depan salah satu rumah yang berada di deretan perumahan itu. Rumah itu mewah dan cukup besar, hampir sebesar milik Kimi.
“Ini rumah kita, hadiah dariku untukmu,” ucap Jeremy berbisik di telinga Marsha.
Marsha masih bingung menatap rumah di hadapannya, hingga terkejut saat mendengar apa yang diucapkan Jeremy.
“Ru-ru-rumah kita?” Marsha begitu terkejut, tapi juga sangat senang dan bahagia.
“Iya, rumah kita,” ucap Jeremy, lantas menautkan jemari mereka.
“Berjanjilah untuk terus menemaniku seumur hidup serta membesarkan Sera bersama-sama,” ucap Jeremy.
“Kok Sera aja, apa adiknya nggak?” tanya Marsha dengan nada candaan.
“Aku mau membuat adik untuk Sera, tapi tidak mau kamu sampai hamil lagi.”
Tentu saja ucapan Jeremy membuat dahi Marsha terlipat halus.
“Aku takut kejadian seperti kemarin terulang, aku takut kehilanganmu,” ungkap Jeremy.
Marsha menatap Jeremy penuh kasih sayang, sebesar itu cinta sang suami padanya. Dia pun memeluk Jeremy dan langsung mendapatkan balasan dari pria itu.
“Aku sangat mencintaimu, Kak Je,” ucap Marsha.
__ADS_1
“Aku lebih mencintaimu, MRT.”
TAMAT