Pernikahan Tak Terduga : UNEXPECTED MARRIAGE

Pernikahan Tak Terduga : UNEXPECTED MARRIAGE
Bab 41 : Wisuda Part 2


__ADS_3

“Ah …. Ku kira siapa gitu,” cibir Marsha, bukannya bahagia karena melihat Jeremy datang wajah Marsha malah langsung bermuram durja.


“Kamu pikir siapa? siapa yang kamu harapkan datang membawa bucket uang seperti ini?” ketus Jeremy.


Marsha pun membuang muka sebentar sebelum menatap calon suaminya ini. “Siapa saja asal tidak Je-re-my Ra-har-ja,” sinisnya.


Jeremy pun dengan sedikit memaksa menyerahkan bucket bunga itu, tapi Marsha mengembalikannya lagi karena dia tidak mungkin membawanya naik ke atas panggung saat menerima ijazah dari kepala sekolahnya nanti.


"Bawa dulu Om! aku mau taruh mana nanti?"


Jeremy cemberut, akhirnya dia memilih meletakkan bucket itu kembali ke mobilnya.

__ADS_1


Acara wisuda sekolah Marsha pun berlangsung. Kimi dan Richie begitu bangga melihat putrinya yang sudah beranjak dewasa. Namun, tidak dengan calon mantu mereka yang malah terlihat sibuk dengan benda pipih di tangan. Baik Richie dan Kimi hanya membiarkan, keduanya tahu bahwa Jeremy pasti banyak pekerjaan, datang untuk menemani Marsha Wisuda pasti butuh effort besar, apa lagi pria itu benar membawakan bucket bunga uang seperti yang Richie bilang.


“Lihat Pi, dia itu cowok yang disukai Marsha,” bisik Kimi ke Richie.


Karena ucapan istrinya, Richie pun menatap pemuda yang saat ini sedang berada di atas panggung. Pria itu malah memulas senyum di bibir, dia agak terkesan juga dengan selera Marsha, Andro bertubuh tegap, tampan, siapa pun gadis menurut Richie pasti akan tertarik. Namun, sayangnya dia tidak menyukai pemuda itu. Dari cerita Kimi Andro sering dibelikan barang-barang mewah oleh sang putri, Richie jelas tidak mau Marsha berjodoh dengan laki-laki yang hanya modal perkutut doank. Bagaimana nasip anak cucunya nanti?


“Jer, apa kamu tahu kalau Marsha menyukai anak itu?” tanya Richie karena penasaran. Pria yang dia ajak bicara itu lantas memasukkan ponsel ke kantong celana, dia melihat Andro yang sudah beberapa kali dia temui lalu mengangguk.


“Apa?” Richie mengeluarkan suara agak kencang karena kaget, hingga Kimi menyenggol lengannya. Bahkan Daniel menoleh ke arah mereka.


“Jika tas kremes seharga lima puluh juta saja Marsha belikan untuknya, apa lagi motor seharga tiga puluh jutaan Pi.” Jeremy tersenyum aneh, padahal dia mencibir tapi di mata Richie calon mantunya itu seperti sedang merasakan ironi.

__ADS_1


“Bukan begitu Jer, apa mungkin Marsha masih berpacaran dengan anak itu?” Kening Richie terlipat halus, sedangkan Jeremy terdiam. Ia bingung harus menjawab apa.


Namun, akal bulus pria dewasa itu memang tidak bisa disepelekan. Jeremy mengangguk, dia merasa pasti akan menyenangkan membuat Marsha kesulitan. Dengan jujur dia berkata bahwa sepertinya Marsha dan Andro masih berhubungan. Jeremy juga bilang kalau sepertinya gadis itu masih sangat berat menerimanya sebagai calon suami. Tak hanya berakting layaknya aktor profesional memasang muka sedih, Jeremy juga bertanya ke Richie apa yang harus dia lakukan agar Marsha mau menerimanya sepenuh hati.


“Jer, untuk itu Papi tidak bisa memberimu banyak saran, maaf ya kalau kesannya menjerumuskan, yang bisa Papi lakukan hanya memberimu semangat. Semangat ya Jer mengambil alih beban hidup kami,” ucap Richie yang seketika mengaduh karena Kimi mencubit kecil pinggangnya.


Kimi melotot, dia bahkan menyatukan giginya seolah mengancam sang suami. Hingga Jeremy yang melihat hanya bisa tersenyum dengan sudut bibir.


“Sekarang aku tahu dari mana keanehan Marsha diturunkan,” gumam Jeremy dalam hati. Ia pun bertepuk tangan seperti yang lainnya saat sang master ceremony berkata serangkaian acara sudah dijalani.


Namun, kesialan hampir datang pada Jeremy, dia lupa bahwa Marsha benar-benar jimat hidup sesuai sugestinya pada diri sendiri. Menjelekkan gadis itu di depan Kimi dan Richie sama halnya mencari penyakit. Saat mengantri keluar dari ballroom acara wisuda itu, sebuah pengeras suara yang menempel pada tembok tiba-tiba jatuh dan nyaris menimpanya. Semua orang yang melihat berteriak dan Jeremy terbeku karena baru saja selamat, dia merasakan sebuah tangan menariknya dan saat menoleh ternyata adalah –

__ADS_1


“Marsha!”


__ADS_2