
Hari itu Jeremy pergi ke kantor polisi untuk memberikan kesaksian kembali. Ia benar-benar malu saat bertemu dengan Richie di sana. Kesalahan emoji yang dia kirimkan membuat Jeremy serasa ingin berkamuflase menjadi mahkluk invisible agar tak terlihat mertuanya itu.
Namun, hal ini jelas hanya imajinasi Jeremy belaka, karena saat bertemu sang mertua langsung menepuk lengan dan bertanya bagaimana keadaannya.
"Besok check up terakhir. Sepertinya tidak akan ada masalah, Pi. Karena Marsha benar-benar lihai mengganti perban. Aku heran kenapa dia tidak kuliah jurusan kedokteran saja," kata Jeremy dengan senyuman lebar.
"Dia bilang tidak mau menghilangkan nyawa orang. Lagi pula Maminya tahu bagaimana sifat Marsha, dia itu ceroboh. Bayangkan jika dia salah menjahit pembuluh darah." Richie mengedikkan bahu seolah ngeri jika hal itu benar terjadi.
Jeremy pun ikut tersenyum dan menganggukkan kepala. Ia lantas menanyakan apa tujuan Richie datang ke kantor polisi.
"Aku ingin menekan mereka, aku merasa penanganan kasus ini sangat lambat," ucap Richie.
Jeremy juga menyadari hal ini, hingga takut juga jika sampai orang jahat itu masih mengincar nyawa sang istri.
"Oh... ya Je, kok bisa kamu mengirim emoji kotoran di grup? Kam... "
"Salah pencet Pi, itu karena Marsha tiba-tiba memelukku jadi aku kaget," potong Jeremy cepat. Ia merasa malu karena sudah berbuat hal ceroboh.
__ADS_1
Kening Richie pun berkerut, dia seperti mendapat jawaban dari kegelisahan pasal hubungan putri dan mantunya ini.
"Marsha pasti posesif," tebak Richie.
"Ya, dia bahkan menjewer telinga sekretarisku, hanya karena Peter datang ke rumah dan menemaniku bekerja, padahal aku sendiri yang minta Peter untuk membawa pekerjaan ke rumah beberapa hari yang lalu."
Richie dan Jeremy sama-sama melempar senyum, kebahagiaan mereka kini sama, yaitu memiliki Marsha.
__
"Tidak mau!"
Marsha dan Zie sedang duduk di kantin kampus setelah kuliah selesai. Marsha baru saja membujuk Zie untuk mencoba berkenalan dengan Peter, dan seperti dugaannya Zie menolak mentah-mentah.
"Sampai kapan kamu akan terus menunggu Sean, dia bahkan sudah menolak cintamu."
Marsha mencebik lalu melengos karena terlalu kesal ke Zie yang bucinnya setengah mati ke sang sepupu. Zie selalu bilang bahwa dia melihat kesamaan di dirinya dan Sean. Mereka sama-sama memiliki kenangan buruk dan hal traumatis. Inilah yang membuat gadis itu merasa bahwa Sean layak dicintai sepenuh hati.
__ADS_1
"Aku hanya masih ingin tahu alasan Sean menolak cintaku dulu, padahal kami sudah sangat dekat," ucap Zie lalu menyanggah pipi dengan ke dua telapak tangan.
"Apa kamu mau menyusul dia ke Inggris? Sana susul, dia pasti sudah hidup bebas dengan teman-teman bulenya," sewot Marsha.
Zie tak bisa membalas jika Marsha sudah bicara dengan kecepatan tinggi, dia memilih mengalah. Dan ini adalah salah satu kunci dari kelanggengan hubungannya dengan sang sahabat.
"Zie, aku sepertinya menyukai kak Je."
"Hem... "
"Kok cuma Hem sih," amuk Marsha, dia merasa Zie tak antusias dengan curahan hatinya.
"Lha terus gimana? Dia itu suamimu, sudah jelas kamu memang harus menyukainya, kalau bisa cintai dia dengan sepenuh hati. Lalu berikan aku keponakan yang lucu."
"Zie kamu membuatku malu, hubunganku dan Kak Je kamu lah yang paling tahu. Aku tidak mau memulai itu dulu, meski aku penasaran bagaimana rasanya."
Marsha keceplosan hingga membuat Zie geleng-geleng kepala.
__ADS_1
"Ya udah sih, kalian bisa pacaran dulu. Pacaran halal kek tagline bakpao megahore," ucap Zie dengan sorot mata penuh keyakinan.
"Dia memang sudah menawarkan hal itu padaku, apa aku terima saja?" gumam Marsha.