Pernikahan Tak Terduga : UNEXPECTED MARRIAGE

Pernikahan Tak Terduga : UNEXPECTED MARRIAGE
Bab 79 : Demam Sawan


__ADS_3

“Andai saja pria yang ada di sampingku lebih muda.”


Jeremy menoleh ke arah Marsha, keduanya sedang mencoba baju yang akan digunakan di acara pernikahan mereka nanti. Marsha membuang napas dari mulut, wajahnya terlihat pasrah, tapi bibirnya tak henti mencibir.


“Memang kamu pikir aku kakek-kakek?” sembur Jeremy, ingin rasanya dia kunyah kepala Marsha.


Jeremy membuang muka menghadap ke arah depan lagi, dia menatap pantulan dirinya dari kaca di ruang VVIP sebuah butik milik perancang busana ternama. Di sebelahnya Marsha juga melakukan hal yang sama. Gadis itu nampak mengenakan gaun model ball gown dengan bagian pundak terbuka.


“Ya, setidaknya bukan Om-om lah,” jawab Marsha. “Sepertinya dulu Papi dan Mami tidak berdoa dulu saat memprosesku, jadi nasib anaknya seperti ini.”


“Tidak ada hubungannya MRT! Pintar sekali kamu menyambung-nyambungkan hal yang tidak masuk akal.” Jeremy gemas.


Bagaimana tidak? kekacauan di hidupnya yang disebabkan oleh Marsha, semakin terpampang nyata di depan mata.


“Aku ingin menikahi pria yang mencintaiku apa adanya, tapi nyatanya aku malah menikah dengan pria yang mencintaiku ada apanya.” Marsha menurunkan pundak, dia geleng-geleng dengan bibir yang sudah maju dua senti.

__ADS_1


“Apa kamu menyindirku? Kamu salah, aku bahkan tidak akan mencintaimu meski kamu ada apanya, dan apa adanya.” Jeremy menatap Marsha dari pantulan cermin. Keningnya bahkan mengernyit dengan mata menyipit.


“Oke, kita lihat saja siapa yang akan melarikan diri di malam pertama,” tantang Marsha.


_


_


Semua orang disibukkan dengan persiapan pergelaran pernikahan Marsha dan Jeremy. Richie bahkan harus beberapa kali menjelaskan ke koleganya kenapa membiarkan anaknya menikah di usia sangat muda. Ia beralasan bahwa menikah bernilai ibadah, putrinya sudah menemukan pria baik yang bisa menjaga dan membimbingnya, jadi untuk apa dia menentang.


“Ah … Anda bisa saja, Pak. Bilang saja Anda mau bulan maduan lagi dengan istri.”


Ledekan seperti itu membuat Richie hanya bisa tersenyum ala iklan pasta gigi. Ia tak peduli, yang penting Marsha tidak terjebak pergaulan yang salah. Lagi pula Jeremy juga sudah berjanji tidak akan menghamili anaknya dulu. Namun, tak ada yang menyangka di sini ada perbedaan persepsi antara Richie dan sang calon mantu.


Richie berpikir Jeremy akan menggunakan sejenis alat kontrasepsi, sedangkan Jeremy sendiri berpikir bagaimana mungkin dia menghamili Marsha, kalau menyentuh gadis itu saja dia tak sudi.

__ADS_1


***


Sore itu Marsha hanya berguling-guling bak gentong air di atas kasur. Dia sudah percaya diri tidak akan grogi, tapi nyatanya dia malah ketakutan. Badannya bahkan sedikit demam karena esok hari adalah hari pernikahan yang dinantikan semua orang, tapi tidak dinantikan olehnya.


Zie datang, gadis itu sengaja menginap di rumah Marsha agar besok pagi bisa langsung ikut bersiap didandani MUA. Gadis itu tak segera naik ke kamar sang sahabat, tapi memilih mengobrol bersama Kimi dan Sara juga Mina di ruang tengah.


“Zie, apa kamu tidak mau menikah muda juga?” tanya Mina- tante Marsha yang kadang julidnya tak tahu situasi. Karena sudah menjadi bagian dari anggota geng sultini blok kamboja, begitulah kelakuan Mina sekarang.


“Ah … tante, nanti. Aku ingin kuliah S2 juga, menikah tidak ada dalam kamusku. Aku ingin menikah di usia dua puluh delapan tahun,” ucap gadis bernama lengkap Aura Queenzie Brawijaya itu.


“Lama banget Zie, anak Marsha mungkin sudah TK,” seloroh Sara. Ia tidak tahu bahwa Kimi dan Richie meminta Jeremy dan putrinya menunda memiliki anak.


Ya, tidak bisa Kimi bayangkan sang putri akan mengandung dan melahirkan di umur dua puluh tahun. ‘No’. Kimi tidak akan membiarkan itu sampai terjadi. Ia tahu kehamilan di usia masih muda memiliki banyak resiko.


“Sudahlah biarkan saja, kita tidak bisa menyuruh semua orang membuat keputusan yang sama,” kata Kimi.

__ADS_1


Zie tersenyum, senang juga dia dibela oleh Kimi. Ia bahkan dengan manja menyandarkan kepala ke pundak ibunda Marsha itu, sebelum tiba-tiba pembantu datang dan membuat mereka semua kaget.


“Non Marsha Nyonya ... Non Marsha, dia sepertinya kena sawan penganten.”


__ADS_2