
Meski telah menyelesaikan urusannya dengan Andro, tapi ternyata masalah Marsha tak berhenti hanya sampai di sana. Ayah cowok itu merasa geram karena putranya tak lagi bisa mendapatkan sokongan dana. Papa Andro yang bernama Galaksi sudah berkoar-koar ke tetangga bahkan saudara kalau putranya memiliki kekasih anak seorang konglomerat. Hingga berita putusnya Andro dan Marsha menjadi tamparan besar baginya.
Pria itu marah, bahkan meremas udara di depan muka sang anak saat Andro berkata dirinya dan Marsha benar-benar sudah selesai. Gadis itu merelakan hutang yang tersisa dan memintanya untuk tidak mengganggu lagi.
Di malam yang sama, Mia sedang sibuk berkemas. Ia memilah baju yang hendak dia bawa pergi ke Inggris. Mia tanpa sengaja memasukkan salah satu sweeter mahal yang dibelikan oleh Jeremy, hingga mengingat dia sempat memasukkan pigura berisi fotonya dan Jeremy ke dalam laci meja rias.
Sudut bibir Mia tertarik, dia keluarkan foto dari pigura itu lalu merobeknya menjadi beberapa bagian. Mia membuangnya ke tempat sampah kemudian bergumam-
“Selamat tinggal Je, semoga kamu bisa hidup bahagia bersama Marsha.”
Sementara itu, Jeremy yang sedang dipikirkan oleh Mia sedang duduk bersama sang istri di taman. Sepulangnya bertemu Andro mereka memutuskan mampir ke tempat itu, karena Marsha ingin melihat bulan purnama.
Hembusan angin malam menyentuh permukaan kulit. Jeremy melepaskan jaket bombernya dan mengenakannya ke Marsha. Istrinya itu menoleh, meski sudah memakai baju lengan panjang, tapi malam itu memang terasa lebih dingin.
“Ayo kita pulang! Nanti kakak bisa masuk angin.”
__ADS_1
Marsha berdiri, dia meraih tangan Jeremy dan menariknya agar segera bangun. Namun, gagal. Suaminya itu tak bergerak. Jeremy malah menahan Marsha lantas tersenyum.
“Apa kamu sudah puas melihat bulan?”
“Sudah, ayo pulang! ini dingin,” ujar Marsha lagi.
“Apa sampai di rumah kita harus sama-sama bergelung di bawah selimut?”
Marsha tahu apa yang sedang Jeremy pikirkan. Meski malu-malu tapi akhirnya dia mengangguk kecil. Mereka pun memutuskan pulang malam itu, mengistirahatkan raga agar besok bisa beraktivitas seperti biasa.
_
_
Kimi diam. Ia memikirkan sedang apa putrinya sekarang. Meski yang dia tahu Marsha dan Jeremy hanya berpura-pura, tapi sebagai ibu, Kimi mengharap yang terbaik untuk masa depan Marsha.
__ADS_1
Waniat itu masih memandang ke arah langit, hingga sebuah tangan merengkuhnya dari belakang. Kimi menoleh, dia seketika bahagia mendapati Richie malam-malam datang ke rumah sakit.
“Pulang yuk, Mi!” bujuk Richie.
“Kenapa Papi bisa tiba-tiba ada di sini?” Kimi memutar tumit, dia menepuk lembut bagian depan baju Richie lalu menebak alasan sang suami.
“Papi pasti merasa kesepian, sudah tidak ada yang bawel sambil menunggu mami pulang.”
“Hem … rumah rasanya sangat sepi. Kamu masih bekerja dan Marsha pun sudah lama tidak pulang ke rumah.” Richie membuang napas kasar, pundaknya turun menunjukkan rasa kecewanya.
“Apa kita harus ke rumah nenek Cantika untuk menemui Marsha?”
Richie mengangguk setuju. Ia membuat Kimi buru-buru menghubungi Cantika agar sahabat mertuanya itu tidak kaget melihatnya datang malam-malam.
Namun, siapa sangka Kimi dan Richie harus dibuat menggaruk kepala saat tiba di rumah Cantika. Semua pembantu gagal memberitahu Marsha dan Jeremy bahwa dirinya datang. Mereka mengetuk pintu berulang kali tapi tak ada jawaban dari dalam.
__ADS_1
“Apa yang dilakukan mereka berdua? Mereka benar sudah pulang ‘kan?” gerutu Kimi.