
"Sudah pulang?"
"Belum ini masih kuliah sambil jalan."
Jeremy tersenyum melihat tingkah istrinya. Dia sengaja bertanya seperti itu saat Marsha masuk ke minibar tempatnya duduk bersama Rey.
Istrinya itu mengambil sebotol air mineral, menyandarkan badan ke kulkas lalu sengaja merosot kemudian meluruskan kaki.
"Capeknya aku, kenapa bisa ya ada orang yang mau kuliah sampai S3," keluhnya.
"Apa kamu tidak dingin duduk di bawah, sini duduk di atas," titah Jeremy penuh perhatian.
"Kalau bisa aku bahkan ingin masuk kulkas, gerah sekali." Marsha mengibaskan tangan di depan muka. Ia menatap AC lalu remote yang tergeletak di dekat Rey.
"Kak Rey tolong turunkan suhunya. Apa neraka bocor hari ini?"
"Brtttt.... "
Jeremy sampai tersedak, sedangkan Rey sudah sibuk menurunkan suhu AC seperti yang diinginkan Marsha. Gadis itu kembali menenggak air dari botol dan sukses membuat Cantika heran dengan tingkahnya.
__ADS_1
"Sya ngapain duduk di sana?"
"Dia sedang cosplay jadi gelandangan," ujar Jeremy sekata-kata. Terang saja Marsha melotot dan menggelembungkan pipi untuk menunjukkan kekesalannya.
"Heh, kak Je. Apa yang kamu minum itu? Kamu tidak boleh minum miras ya!"
Marsha tiba-tiba bangkit, dia membuat Cantika kaget karena cara berdiri gadis itu yang sangat heboh. Marsha menyambar gelas Jeremy lalu mencium isinya, dia menoleh ke arah tempat sampah dan mendapati botol kosong dari minuman pereda panas dalam.
"Dia minum cap Kingkong, bukan miras Marsha," ucap Rey sambil terkekeh geli. Tak lama pria itu menunduk dan membuang muka karena merasakan sesuatu yang aneh di dada.
"Kakak sudah mandi belum?"
Jeremy mengacak rambut sang istri gemas, dia lantas turun dari kursi dari pada harus diceramahi Marsha untuk segera bergegas pergi ke kamar mandi. Bukannya menyusul, Marsha malah duduk di kursi bekas Jeremy, dia menoleh Rey dan melempar senyuman manis.
"Kenapa?"
Marsha seketika mendapat ide di kepala, dari pada menjodohkan Zie dengan Peter, kenapa tidak benar-benar menjodohkan sahabatnya itu dengan Rey. Menurut gadis itu Zie akan jauh lebih baik mendapat pria yang seumuran.
"Kak Rey, mau tidak mencoba PDKT sama Zie?"
__ADS_1
"Apa?"
Marsha mendekat ke arah Rey untuk merayu, dia bahkan berbicara dengan nada suara lirih meski tak ada satu orang pun yang berada di radius satu meter dari mereka.
"Kenapa kakak kaget, apa jangan-jangan kakak sudah punya gadis yang disuka?" Selidik Marsha.
Rey mengangguk sebelum tersadar, setelah itu menggelengkan kepala cepat karena hampir saja membuat kesalahan.
"Kak Rey, Zie itu baik. Dia juga cantik, aku jamin bersamanya akan membuat hari-hari kakak semakin ceria."
"Apa kamu sudah bilang Zie? Kalau dia mau, aku akan mencobanya," jawab Rey dengan senyuman manis.
Marsha yang sangat senang sampai tak sadar memeluk Rey dari samping. Ia mengucapakan terima kasih berulang sebelum melompat turun dari kursi.
"Kalau begitu aku akan memberitahu Zie," kata Marsha yang kegirangan. "Tapi, aku mau mengecek bayi tuaku dulu, apa dia sudah selesai mandi atau belum."
Rey mengiyakan lantas meminta Marsha hati-hati melangkah, gadis itu selalu bersemangat, tingkahnya yang ceria membuat Rey terpesona, jika saja Marsha bukan istri dari kakaknya, tentu semuanya akan terasa lebih mudah bagi dia.
"Huh....kenapa aku punya pikiran seperti itu?"
__ADS_1