Pernikahan Tak Terduga : UNEXPECTED MARRIAGE

Pernikahan Tak Terduga : UNEXPECTED MARRIAGE
Bab 149 : Tidak Peduli Situasi


__ADS_3

Perasaan cinta yang sedang bersemi, membuat Jeremy dan Marsha seperti melupakan bahwa di dunia ini orang lain juga eksis dan tidak hanya menjadi anak kos bayar bulanan. Cinta yang sedang mengisi hati membuat keduanya tidak peduli dengan situasi dan kondisi.


Seperti saat ini, mereka sarapan sambil suap-suapan sampai membuat Rey tidak berselera.


“Bik, apa bisa memberiku garam?” bisik Rey ke pembantu yang baru saja menuangkan air minum ke dalam gelasnya.


“Untuk apa Tuan?”


“Untuk dilemparkan ke dua orang itu.”


Rey geleng-geleng kepala. Berbeda dengannya, Cantika bahagia dan bahkan menangkup pipi dengan siku bertumpu di meja, wajahnya berseri-seri karena bayangan memiliki cicit sudah terlintas di dalam benaknya.


“Jangan berangkat dulu!”


“Kita bahkan baru makan satu suapan,”balas Marsha. Sama seperti Jeremy dia juga bicara dengan cara berbisik.


“Kamar!”


“Lagi?”


“Brttt …. “ Rey yang mendengar perbincangan itu sampai tak bisa menahan rasa terkejutnya. Ia melongo karena tak lama Jeremy bangun menggandeng Marsha.


Kakak dan iparnya itu bergandengan tangan dengan riang menaiki anak tangga. Semua orang juga tahu kalau mereka pasti akan melakukan itu.


_

__ADS_1


“Apa kakak tidak ada rapat pagi ini?”


Marsha berjinjit sambil mengalungkan tangan ke leher Jeremy, setelah suaminya itu menutup pintu kamar. Penampilannya sudah rapi, tapi bisa dipastikan dia pasti harus mandi dan berganti kemeja lagi setelah ini.


“Sepertinya kita butuh bulan madu, Sya! Agar kita bisa puas melakukan itu, karena setiap detik yang aku pikirkan cuma kamu.” Jeremy menyentuh pipi mulus Marsha, dia berikan kecupan ke pipi sang istri lalu turun ke ceruk lehernya.


“Kak!” keluh Marsha yang merasa geli.


“Hem … kamu suka ‘kan?”


“As always.”


Jeremy menyentuh bibir Marsha, dia mengecup lembut daging tak bertulang itu sebelum lama kelamaan melumaat bagian atas dan bawahnya secara bergantian. Marsha yang memang bisa karena terbiasa tak mau kalah, menyenangkan Jeremy menjadi hal yang wajib dia lakukan. Gadis itu membalas ciuman suaminya tak kalah panas, hingga suara decapan bibir terdengar di kamar itu.


Tangan Jeremy mulai bergerak nakal dengan menyentuh paha Marsha, karena istrinya itu hendak pergi kuliah maka tubuh bagian bawahnya berbalut celana jeans panjang yang lumayan pas di badan. Ia menyadari Marsha mulai melepaskan tangan yang melingkar di lehernya dan beralih ke dasi. Gadis itu menariknya lepas sebelum menjauhkan kepala dan dengan cepat melepas kancing kemeja Jeremy satu persatu.


Dengan satu tangan yang merayap ke belakang, Jeremy melepas kait bra milik Marsha lalu menurunkan talinya sampai lolos dari tangan. Jeremy menghisap puncaknya dengan lembut, hingga Marsha menggigit bibir bawahnya.


Sensasi geli dan aneh dari perlakuan Jeremy ini sangat Marsha suka, apalagi sebelah tangan suaminya mulai memijat dan memilin bukit satunya. Marsha semakin tak bisa mengendalikan diri dan mulai mendesah halus.


“Kak!”


Tubuh bagian atas Marsha menggeliat, sepertinya baru semalam dia dan Jeremy menghabiskan waktu bercinta sampai ******* berkali-kali. Namun, pagi ini dia sudah sangat menginginkan dijamah lagi oleh pria itu.


Jemari Marsha menyentuh bagian belakang kepala Jeremy dan menggaruknya pelan. Ia tahu sang suami sangat menyukai perlakuannya, bahkan saat berhenti Jeremy akan melepaskan bibir yang sedang mengunci puncak bukitnya dan meminta dia menggaruk lembut lagi.

__ADS_1


“Pakai ya, Sya!”


“Tidak! kalau memang hamil aku juga hamil karena punya suami. Kenapa takut sih?” jawab Marsha.


Tatapan matanya yang sudah mulai sayu bertemu dengan tatapan Jeremy. Marsha tahu suaminya menawari itu karena sang mami melarangnya untuk hamil dulu.


Marsha menggeleng, dengan nakal dia berkata, “Buat aku hamil, Kak!”


Marsha sengaja meminta dengan suara manja, membuat satu sudut bibir Jeremy tertarik. Pria itu mengangkat tubuhnya menuju ke atas ranjang lalu membaringkannya. Tatapan Jeremy menelanjangi tubuh Marsha yang bagian atasnya sudah terekspos sempurna. Beberapa tanda merah keunguan yang dia buat semalam masih membekas di sana.


“Dasar istri nakal!”


Jeremy geleng-geleng karena Marsha sudah melepas resleting celana jeansnya lalu menggeser tubuh ke atas hingga celana itu melorot sempurna. Kedua tangannya dia angkat ke atas seolah tak sabar ingin menerima dekapan Jeremy.


_


_


_


Nitijen : kamu dari mana aja markonah?



Markonah : Maaf bestpetai, aku merantau. Makasih ya menungguku dengan sabar, aku doakan pantat kalian lebar.

__ADS_1


Scroll buat baca bab selanjutnya 👇


__ADS_2