Pernikahan Tak Terduga : UNEXPECTED MARRIAGE

Pernikahan Tak Terduga : UNEXPECTED MARRIAGE
Bab 85 : Saling Tantang


__ADS_3

“Om habis lihat setan?” tanya Marsha dengan santai. Ia bahkan tak peduli Jeremi memindainya dari atas ke bawah.


“Di luar aku melihat pembantu rumah menyamar menjadi pelayan hotel, mereka pasti sedang memata-matai apakah kita akan melakukan malam pertama atau tidak,” ucap Jeremi. Ia menyandarkan badan di pintu sambil terus menatap Marsha.


“Ya sudahlah, katanya Om capek, istirahat saja. Kita bisa berbagi ranjang, tapi jangan halangi aku memakai baju jaring laba-laba.”


Marsha tersenyum nakal, dia menaikturunkan alis mata sebelum masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


“Sial! dia benar-benar berniat membuatku menjadi seorang pecundang,”gerutu Jeremy. “Lihat saja nanti dasar MRT!"


Jeremy yang geram lantas membuka kancing kemejanya satu persatu, dia mencampakan kemeja itu begitu saja, tak hanya itu dia lepas juga celana dan melemparnya sembarangan. Pria itu hanya menyisakan boxer kemudian melompat ke atas ranjang. Ia berniat membuat Marsha kalang kabut.

__ADS_1


“Aku tidak akan mau kalah dengan bocah! Kamu pikir aku pria cupu?” Jeremy berpose di atas ranjang, dia memilih posisi berbaring yang nyaman. Beberapa kali pria itu berdiri untuk mencari posisi yang pas agar saat keluar dari kamar mandi, Marsha langsung melihat tubuhnya yang kekar dan menawan.


“Begini sudah keren ‘Kan?” gumam Jeremy, dia berbaring miring dan memakai tangan kanan yang ditekuk sebagai tumpuan. Ia tersenyum jemawa, sambil menghitung mundur untuk menyambut Marsha keluar dari kamar mandi.


“Astaga!”


Kepala Jeremy sampai terjatuh karena tangan yang dia pakai sebagai tumpuan tiba-tiba lemas. Jakunnya naik turun melihat baju yang dikenakan Marsha. Gadis itu memakai lingerie berwarna hitam dengan model robek-robek horizontal di bagian perut. Bagian atasnya transparan dan hanya menutup puncak bukitnya. Begitu juga dengan bagian bawah yang tertutup panties berenda-renda.


“Apa aku sudah sensual? Mirip cucu kakek sugiono tidak?” tanya Marsha tanpa rasa malu. Apa yang dia lakukan untuk mengerjai Jeremy sangat total. Marsha mendekat ke arah kopernya lalu mengambil sebuah benda mirip tablet hisap bernama mintacimin C.


“Ahhhh …. Om jangan pura-pura tidak tahu, ini namanya modnok tapi bacanya dari belakang.”

__ADS_1


“Marsha! Kapan kamu membeli benda seperti itu?” tanya Jeremy kebingungan.


“Beli? Di laci Papi banyak yang seperti ini, ada rasa strawberry, anggur, tapi tidak ada ayam dan kacang hijau karena ini modnok bukan bakpao,” kata Marsha. Ia masih terus tersenyum menggoda. Berjalan mendekat ke arah ranjang lalu merayap bak laba-laba betulan.


Jeremy menelan saliva, dia mundur dan malah terguling dari atas ranjang. Pria itu mengumpat kesal membuat Marsha tertawa. Namun, saat Jeremy bangun gadis itu kembali bersikap seperti tadi. Menggoyangkan dadanya yang tidak seberapa dan semakin membuat Jeremy geleng-geleng kepala.


“Ayo Om, kita ‘kan sudah resmi menjadi suami istri. Aku siap tawuran dengan Om di sini.” Marsha menepuk ranjang lalu mengusap spreinya, dia mengerling lalu menggigit bibir bawah.


“Tenang Jer, tenang! Anak ini pasti sedang bermain-main denganmu. Lawan saja, toh senjatamu tidak akan menggubrisnya,” gumam Jeremy di dalam hati. Sialnya dia merasakan sedikit sesak di bagian bawah sana.


“Om … bagaimana kalau memasukkan bola-bola cokelat renyah ke mulut? Om mau tidak?” tanya Marsha ambigu.

__ADS_1


Jeremy menarik napas dan mengembuskannya pelan. Ia pun menyipit dan membalas ocehan Marsha.


“Aku tidak perlu modnok, kalau kamu mau aku akan melakukannya dengan senang hati. Kamu pikir aku takut akan gertakan bocah sepertimu?”


__ADS_2