
Jeremy memulas senyum, sikapnya benar-benar seperti pria yang bahagia karena baru saja meminang pujaan hatinya. Mungkin Jeremy sedang mensugesti diri bahwa pegantin wanita di sebelahnya ini adalah Mia.
Marsha hanya bisa hahahihi, gadis itu mengucapkan terima kasih ke kerabat dan kolega yang datang di akad nikahnya. Ia bahkan kikuk saat sesi foto bersama, Marsha tak bisa membayangkan bagaimana acara resepsi nanti, dia akan dipajang di depan pelaminan dan berdiri bak boneka barbie. Marsha semakin kaget saat lagi-lagi diminta berfoto dengan pose mencium punggung tangan Jeremy.
“Kan tadi udah,” ucapnya untuk menolak.
Jeremy tertawa, dia lingkarkan tangan ke pundak Marsha sambil berbisik, “Istriku yang cantik, yang otaknya cuma setitik, bisa tidak kamu bersikap manis? Setidaknya untuk hari ini sampai selesai resepsi.”
Marsha mencebik, tapi seketika menolah dengan wajah semringah. Ia tarik tangan Jeremy dan menciumnya padahal sang fotografer belum siap. Alhasil untuk beberapa detik dia sudah berpose mencium punggung tangan Jeremy.
“Begini ‘kan yang kamu mau?” bisik Marsha.
“Sudah, tegakkan badanmu dan lepaskan tanganku!” Jeremy memerintah dengan mulut tak terbuka lebar.
Marsha pun menurut. Mereka kembali melempar senyuman di depan orang yang hadir sebelum menuju hotel tempat berlangsungnya resepsi.
__ADS_1
_
_
“Kenapa kakak masuk sini?”
Marsha yang hanya mengenakan celana pendek dan korset badan protes. Ia menoleh tim MUA yang membantunya berganti gaun dan menata rambut.
“Aduh mba Marsha gimana sih, kan Mas Jeremy udah jadi suaminya, lupa ya?” goda Rukiyah yang datang membawa minum ke MUA yang merias Marsha.
“Ah … cuma belum terbiasa saja,” elak Marsha. Ia sadar harus tetap bersandiwara sampai resepsi selesai.
Jeremy bersikap sok cool, dia bahkan membuka bajunya di depan semua orang dan dengan sengaja memperlihatkan badannya yang atletis dan enam roti sobek di perutnya yang cubitable. Marsha bahkan menelan saliva, dia tidak menyangka Jeremy memiliki tubuh yang sangat seksi. Pikirannya mulai berfantasi, membayangkan sesuatu berdiameter tiga senti. Eh...
"Ehem... ehem." Marsha berpura-pura batuk, mata para wanita yang ada di sana tidak bisa dikondisikan untuk tidak memindai badan Jeremy, dan itu sedikit mengganggunya.
__ADS_1
"Kalau sudah selesai kak Je bisa keluar dulu, jangan di sini!"
Marsha mengusir, dia melotot ke salah seorang MUA yang menoleh ke arahnya saat dia mengucapkan kalimat tadi.
Jeremy melengkungkan bibir, dia sediki geli dengan kesalahtingkahan Marsha. Jeremy ingat kalau gadis itu pernah menantangnya dengan kalimat 'lihat siapa yang lebih dulu kabur dari kamar di malam pertama'. Marsha tidak tahu bahwa dirinya sudah menyiapkan sesuatu untuk membuatnya lari tunggang langgang.
Jeremy mengerlingkan mata, dia keluar dari kamar itu sambil membenarkan jas yang nampak pas sekali di badannya. Siapa pun yang melihat Jeremy hari itu pasti akan terpesona. Marsha saja sampai terbengong dibuatnya.
"Non Marsha, sudah siap belum nanti malam?" goda Rukiyah.
"Siap apa sih Bik? kek mau wajib militer aja kek opa-opa Korea," sembur Marsha.
"Duh... anak perawan emang beda ya, masih mulus-mulus gimana gitu kek pantat bayi."
Semua orang menahan tawa, jelas yang dimaksud Rukiyah adalah malam pertama, tapi Marsha masih berpura-pura bodoh.
__ADS_1
"Halah Bibik, bilang aja gitu lho secara gamblang Bik, ngen..... tittttt (sensor) ," ucap Marsha dengan santainya. Ia sukses membuat semua orang melotot.