
Marsha merana, karena ancamannya akan membocorkan rahasia. Zie meninggalkannya begitu saja saat pulang kuliah. Sebenarnya diam-diam sahabat Marsha itu dihubungi oleh Jeremy. Meski tidak ada rasa cinta di hati pria dewasa itu, tapi tetap saja dia tidak rela jika Marsha terus dibodohi. Bisa-bisa jatah bulanan selama Marsha menikah dengannya nanti ikut dihabiskan oleh Andro.
Zie memang tahu Jeremy adalah calon suami Marsha, dia juga tahu kalau sahabatnya itu masih berhubungan dengan Andro, oleh karena itu Jeremy curiga jangan-jangan Zie tahu rahasia dibalik pernikahannya dan Marsha.
“Duh … Om seperti tidak tahu bagaimana Marsha saja, kalau bisa dua kenapa harus satu?” jawab Zie. “Dia bahkan sempat memintaku mendukungnya melakukan poliandri.”
“Dan apa kamu mengiyakan?” Jeremy melotot tak percaya. Menurutnya Marsha masih bau kencur, tapi entah kenapa pikiran gadis itu bisa sangat ekstrim.
“Ish … si Om, mana mungkin aku mendukung Marsha berbuat hal gila? apa dia sapi mau dikawani banyak pria?” celoteh Zie. Ia gusar, bahkan menengok kanan dan kiri takut jika ada yang melihatnya di sana. “Sumpah aku tidak enak menemui Om diam-diam, kalau Marsha tahu, aku bisa dipecat menjadi bestie.”
“Zie, tidak ada juga pria yang mau menikahi sapi,” kata Jeremy.
__ADS_1
Gadis itu pun bengong, hingga sadar akan maksud ucapan calon suami temannya ini. “Bercanda Om nggak lucu deh. Oke, baiklah maksudku pejantan,” ucap Zie membetulkan ucapannya.
Jeremy pun mulai mengulik, dia sudah biasa melakukan negosiasi dengan rekan bisnisnya sehingga untuk menggali informasi dari Zie sangat mudah dilakukan.
“Marsha ingin terus pacaran dengan Andro meski sudah menikah dengan Om nanti, tapi apa Om tahu? menurutku Marsha itu terkena pelet, kata Mother i sih begitu.”
“Siapa mother i? apa dia ibumu?” tanya Jeremy kebingungan.
Jeremy menekan kening. Dia berpikir kalau Zie ini juga menjadi anak Kimi dan Richie, sudah pasti pasangan suami istri itu akan mati muda. Ia berkali-kali dibuat tercengang mendengar penuturan Zie tentang Marsha.
“Jangan bilang Marsha soal ini ya, Om! aku pun pasti akan takut jika disekap dan hampir diini-ono.”
__ADS_1
Jeremy tak langsung merespon. Ia malah berpikir, mungkinkah rasa cinta Marsha ke Andro awalnya adalah rasa ingin balas budi, tapi berakhir menjadi sebuah dorongan psikologis? Ia yang pernah melakukan terapi kejiwaan menelaah masalah ini dari pengalamannya sendiri.
“Semakin ke sini aku semakin ingin menyadarkan Marsha, dia sudah punya calon suami yang sangat dewasa, kaya, bisa memeberikan apa saja, tapi kenapa terus saja berhubungan dengan Andro yang hanya bisa minta-minta,” keluh Zie. Gadis itu mendengkus kasar, pundaknya turun. disesapnya orange juice di gelas dengan gesture malas.
“Bantu aku memisahkan mereka!” pinta Jeremy.
Terang saja Zie kaget, bola matanya memindai wajah Jeremy. Menurut Zie hal ini memang sudah seharunya dilakukan Jeremy. Sebagai calon suami Marsha, Jeremy harus bertindak tegas, dia tidak bisa membiarkan begitu saja Marsha yang berselingkuh secara terang-terangan.
“Katakan saja apa yang bisa aku lakukan untuk membuat si the bor sadar. Oh … ya Om untuk penyekapan Marsha saat itu, aku merasa semuanya memang sudah direncanakan,” ujar Zie. “Dan aku curiga Andro biang keroknya dibantu papanya si Galaxy.”
“A-a-apa?"
__ADS_1
Jeremy tergagap, jika benar kecurigaan Zie, jelas dia tidak akan tinggal diam, dan membiarkan Andro menjadi-jadi. Baginya Marsha bukanlah calon istri, tapi adik kecil yang harus dilindungi.