Pernikahan Tak Terduga : UNEXPECTED MARRIAGE

Pernikahan Tak Terduga : UNEXPECTED MARRIAGE
Bab 50 : Limited Edition


__ADS_3

Keesokan harinya, semua berjalan sesuai yang direncanakan oleh Rey. Pria itu mengajak Marsha pergi ke sebuah Mall untuk berbelanja.


Rey yang penuh perhatian menjemput Marsha di rumahnya. Hal ini membuat gadis itu merasa perlakuan sang calon adik ipar lebih manis jika harus dibandingkan dengan Jeremy.


Sampai di tempat tujuan, keduanya langsung menuju toko yang menjual berbagai merek sepatu, diantaranya Adidos, Niki dan Scheketer.


“Terima kasih sudah mau menemaniku,” ucap Rey sambil melepas sepatu yang baru dicobanya.


Marsha mengibaskan tangan kanan seolah tak suka dengan perkataan Rey barusan. “Tidak apa-apa. Santai! Aku juga bosan tidak ada kerjaan di rumah."


Rey tertawa, dia benar-benar merasa senang karena Marsha menerima ajakannya. Gadis itu bahkan berjalan memutari rak, untuk mencarikan sepatu yang sekiranya cocok dikaki Rey.


Tak terasa setengah jam sudah berlalu, dan mereka masih sibuk keluar masuk toko karena belum ada sepatu lain - yang cukup menarik perhatian Rey. Pria itu memang sudah membeli satu. Namun, rasanya sepasang saja tidak cukup untuk direktur Baskomsel seperti dirinya.

__ADS_1


Beruntung Marsha yang menemani Rey, bayangkan saja jika dia datang bersama kakaknya, sudah tentu akan habis dirinya dimarahi karena tak kunjung menentukan pilihan dan hanya melihat-lihat.


“Sha, belilah sesuatu! Aku akan membayarnya untukmu. Anggap saja hadiah karena kamu sudah mau menemaniku.”


Marsha terdiam sesaat. Rey sepertinya tidak tahu, jika hanya untuk membeli sepatu, tentu Marsha tak perlu menunggu hadiah dari orang lain. Uang saku dari gadis yang dijuluki "beban keluarga Tyaga" oleh Jeremy itu, bahkan bisa untuk membeli motor sport setiap bulan.


“Kamu mau membelikanku? Hem … tidak-tidak. Tidak perlu,” tolak Marsha sambil melihat kuku-kuku cantiknya yang slay.


“Kalau kamu memaksa aku akan memilih yang paling mahal. Bagaimana?” tantang Marsha. Gadis itu jelas hanya bergurau untuk melihat respon Rey. Biar saja dia dipikir cewek matre.


“Sudahlah! jangan sungkan padaku!”


Bagaimana cara Rey menjawab membuat Marsha semakin bertanya-tanya. Rasanya dia seperti sedang berkencan dengan pria tajir dibandingkan dengan calon adik ipar. Apalagi selama berpacaran dengan Andro, tak sekalipun cowok itu mentraktir atau membelikannya barang.

__ADS_1


Rey kembali mencoba sepasang sepatu, saat tiba-tiba ponsel di saku celananya bergetar. Ada orang yang sejak tadi menghubunginya, ponsel itu hanya mati sesaat lalu bergetar lagi. Rey akhirnya memilih untuk merogoh kantung celana.Dia melihat tiga panggilan tak terjawab di layar, hanya sebentar sebelum memilih memasukannya kembali ke kantung


“Kenapa tak diangkat? Siapa tahu penting. Mungkin dari pacarmu.” Marsha yang melihat pun heran.


“Aku tidak punya pacar. Kalau pun nanti punya, aku ingin mencari yang mirip denganmu.”


Marsha melongo, dia tergelak karena ucapan Rey yang dianggapnya sedikit gombal. “Mirip denganku? hah... tidak mungkin, karena aku ini limited edition, jadi tidak mungkin ada gadis yang mirip denganku."


Rey sepertinya baru sadar bahwa dia secara tidak langsung mengakui perasaannya ke Marsha, sehingga untuk menyembunyikan perasaan dan memecah kecanggungan, Rey pun membetulkan ucapannya.


“Maksudku apa yang disukai pria dari seorang gadis, semuanya ada pada dirimu.”


Marsha tersenyum, bukannya tersanjung gadis itu malah berpikir mungkin Rey sengaja mengajaknya pergi, untuk melihat bagaimana kepribadiannya.

__ADS_1


__ADS_2