Pernikahan Tak Terduga : UNEXPECTED MARRIAGE

Pernikahan Tak Terduga : UNEXPECTED MARRIAGE
Bab 54 : Bilang Saja Cemburu


__ADS_3

Rey masih sibuk mengomentari tayangan sinetron di saluran burung berenang saat tiba-tiba telinganya mendengar bunyi klakson mobil Jeremy. Ini masih terlalu awal, dia heran kenapa kakaknya itu sudah pulang. Rey pun bersikap biasa, dia bergegas menyambar remot di atas sofa untuk mengganti tayangan, karena bisa dipastikan Jeremy akan masuk ke rumah. Jangan sampai kakaknya mencibir, menganggap dia melihat sinetron kumeringis.


Setelah memarkirkan mobilnya, Jeremy berjalan keluar sambil mematahkan leher ke kanan dan kiri. Rasa penat yang mendera, membuat dirinya ingin segera mandi lalu beristirahat. Namun, apa yang akan ditemuinya di dalam jelas akan memberi kejutan.


“Kamu sudah pulang?” tanya Jeremy saat mendapati Rey berada di ruang tengah. “Kemana saja seharian?”


“Hah … apa Kak Je masih perlu bertanya? Aku pergi bersama Marsha. Ngomong-ngomong, dia sekarang sedang ada di dapur, membantu Nenek membuatkan makan malam. Dia memaksa ke sini tadi.”


“Apa?” Jeremy melongo. “Rey jangan terlalu dekat dengannya, berbahaya!” ucapnya sambil berjalan menjauh.


Pria itu bergegas ingin menemui Marsha. Jangan sampai gadis itu menghancurkan dapur Cantika dan membakar seisi rumah. Jeremy tidak yakin calon istrinya itu bisa memasak. “Bagaimana kalau kompor meledak, atau wajan terbakar? Aku harus menyelamatkan nenek dari bahaya,” cicitnya sambil berjalan cepat.


Sementara itu, Rey yang ditinggalkan merasa aneh dengan tingkah sang kakak. Sungguh, di dalam hati pria itu ingin terus menggoda Jeremy. Rey sampai menduga mungkinkah sikap aneh yang ditunjukkan pria berumur tiga puluh tiga tahun itu karena dia sedang cemburu?


_

__ADS_1


_


“Marsha!” panggil Jeremy.


Putri Richie itu menoleh sambil memasukkan telunjuk ke dalam mulut untuk menjilaat sisa makanan. Keningnya berkerut mendapati calon suaminya menyipitkan mata.


“Ah … Je sudah pulang,” sapa Cantika. “Kebetulan masakan yang Marsha dan Nenek buat sudah siap!” serunya sambil berjalan dari dapur menuju ruang makan. Wanita itu meletakkan piring berisi masakan ke atas meja. Sejak tadi tidak ada satu pun pembantu yang boleh mendekat untuk membantunya dan Marsha.


“Oh … kak Je sudah pulang.” Marsha menyapa dengan senyuman manis, tapi setelah itu cuek. Dia memilih memanggil nama sang calon adik ipar.


“Kak Rey, ayo makan!”


“Bagaimana kabarmu hari ini? Apa pekerjaan di kantor lancar?” tanya Cantika dengan nada lembut.


“Semuanya baik-baik saja.” Jeremy melepas jas, matanya terus tertuju pada Marsha, dia curiga kenapa gadis itu bisa berakhir memasak dengan Cantika setelah pergi besama Rey.

__ADS_1


Mendapati tatapan mata Jeremy yang mencurigakan. Rey malah seperti terpacu untuk menggoda, dia sengaja memberi perhatian ke Marsha dengan menaruh lauk di piring gadis itu, bahkan mencoba mengusap sudut bibir gadis itu yang belepotan. Rey masih berpura-pura tidak tahu, padahal wajah Jeremy berubah. Kakaknya itu terlihat kesal.


“Rey, apa kamu menyukai gadis itu? jangan Rey, tidak boleh! dia hanya akan membuat hidupmu berantakan,” gumam Jeremy di dalam hati.


Mereka pun menikmati acara makan itu dengan tenang, hingga Marsha merengek ke Rey untuk di antar pulang ke rumah.


“Aku yang akan mengantarmu pulang nanti,” Jeremy menyela ucapan . Gayanya masih seperti biasa, dingin. Pria itu menikmati makanan dengan elegan.


“Kakak pasti capek, aku tidak mau merepotkan, kakak istirahat saja di rumah!” tolak Marsha dengan lembut.


“Beristirahat dengan tenang sana,” gumamnya di dalam hati seolah menyumpahi Jeremy agar cepat mati.


“Kalau kamu tidak mau merepotkan orang, pulang saja naik taksi,” ketus Jeremy. Cantika dan Rey sampai menatap heran. Sedangkan Marsha memilih tersenyum menunjukkan kepalsuan.


“Tenang saja! aku akan mengantarmu.” Rey tersenyum manis.

__ADS_1


Jeremy meletakkan sendok dan garpu ke piring. Matanya menyipit karena ucapan Rey barusan lalu berkata,“Marsha adalah calon istriku, jadi jelas jika ada aku. Aku lah yang bertanggungjawab atas dirinya.”


“Katakan saja kakak cemburu,” cicit Rey.


__ADS_2