Pernikahan Tak Terduga : UNEXPECTED MARRIAGE

Pernikahan Tak Terduga : UNEXPECTED MARRIAGE
Bab 129 : Bertanya Pada Mia


__ADS_3

Ditinggal berdua di kamar perawatan tak membuat Marsha dan Jeremy bisa berbincang apalagi bermesraan layaknya pasangan suami istri pada umumnya. Ini karena mereka belum memiliki rasa.


Marsha naik ke atas ranjangnya lagi, duduk bersila dan menjadikan bantal sebagai tumpuan di mana dia bisa mudah bermain dengan ponselnya.


Jeremy hanya sesekali melirik. Ia sibuk menonton televisi karena hanya itu saja yang bisa dia lakukan sekarang.


"Sya, bisa bantu ambilkan ponselku," pinta Jeremy. Ia masih kesusahan bergerak karena bekas operasinya terasa ngilu.


"Bisa!" Jawab Marsha lalu melompat dan mengambil ponsel milik sang suami. Gadis itu memberikan benda pipih itu ke tangan Jeremy sambil memandangi layar ponselnya sendiri.


"Anak zaman sekarang, tidak sopan! memberikan barang tanpa melihat orang yang dituju," sindir Jeremy.


Marsha yang sadar seketika menurunkan ponsel di tangan lalu memberikan gawai suaminya dengan sopan.


"Ini Kak Jeremy yang cerewet," kata Marsha. Ia menyerahkan ponsel Jeremy dengan gaya sopan lalu duduk di tepian ranjang.


"Aku sedang berdiskusi ini, tugas kampus," ucapnya memberi alasan.


Jeremy hanya mencebik, dia lantas mengecek beberapa pesan yang masuk. Jeremy kaget karena ternyata peristiwa penusukan yang terjadi kepadanya sudah tersiar ke mana-mana. Bahkan teman-temannya mengucapkan belasungkawa.


"Sialan, aku belum mati!" umpat Jeremy kesal.

__ADS_1


Di saat Jeremy masih fokus dengan pesan teman-temannya, sebuah notifikasi masuk lagi. Kali ini notifikasi itu sukses membuat kening Jeremy berkerut. Seseorang menambahkannya ke sebuah grup dan ternyata Richie.


[ Je, ini Papi. Ini grup pria dewasa di keluarga kita. Papi masukkan kamu agar kita bisa berkoordinasi menemukan siapa pelaku penusukan di kafe itu]


Jeremy heran, grup itu diberi nama 'Trio wikwiik' isinya hanya sang mertua, Daniel dan Nic.


[ Baik, Pi ]


Jeremy hanya membalas singkat, dia bingung harus berbuat apa sampai tak sengaja menoleh dan melihat sang istri yang masih menunduk sibuk dengan ponsel.


"Sya, apa kamu tahu kalau Papi punya grup WA?"


"Ah ... Itu, aku tahu. Bahkan aku dulu sering jahilin Papi dengan mengganti nama grupnya," kata Marsha. Ia memandang Jeremy lantas bertanya lagi. "Yang isinya hanya Papi, paman Daniel dan paman Nic, kan?"


"Aku yang memberi nama itu, bagus kan?"


"Bagus dari mana? Aku dimasukkan ke sana sama Papi," kata Jeremy.


"Lho kok! nggak trio lagi donk nanti. Ah... kamu memang pengacau."


Alis Marsha bergelombang, sedangkan bibirnya sudah mengerucut dua senti. Ia nampaknya cuek dengan hal itu, hingga menyadari satu hal.

__ADS_1


"Kak Je!"


"Apa?"


"Papi kemarin bilang sudah menyerahkn CCTV ke polisi dan melihat isinya. Bagaimana kalau dia melihat kakak bersama kak Mia?" Marsha baru sadar, begitu juga dengan Jeremy yang seketika bingung.


_


_


Kimi yang menunggu Mia datang sengaja tak pergi ke kamar perawatan menantunya dulu. Ia memutuskan akan bertanya ke Mia dulu sebelum menemui Jeremy. Wanita itu harap-harap cemas, hingga akhirnya pintu ruangannya diketuk. Kimi yakin itu Mia dan langsung memintanya masuk.


"Dokter Kimi."


Benar dugaan ibunda Marsha itu, wanita yang dia tunggu akhirnya menampakkan diri. Mia membuka sedikit pintu dan setelah mendapat izin dia pun masuk ke dalam.


"Mia, duduklah!" titah Kimi.


"Apa ada yang penting Dok?" tanya Mia yang mulai tidak tenang. Ia takut jika Kimi menanyakan masalah di kafe.


Namun, dia tidak akan pernah bisa terus berlari. Dia bingung harus menjawab apa saat Kimi bertanya-

__ADS_1


"Apa yang kamu lakukan di kafe itu bersama Jeremy?"


__ADS_2