
Hari itu, Jeremy duduk termenung di meja kerjanya. Pria itu tidak sedang bingung memikirkan masalah perusahaan, melainkan pesta yang akan diadakan oleh Richie dan Kimi untuk merayakan hari ulang tahun Marsha yang jatuh dua hari lagi. Bukan tanpa alasan Jeremy bersikap seperti ini, masih segar diingatan pria itu bagaimana Marsha membuat dirinya malu di pesta ala Bollywood saudari Kimi. Marsha saat itu memaksanya menari, dia terjatuh lalu gadis itu menindihnya dan dengan enteng menyuruhnya berpura-pura pingsan, konyolnya dia hampir mau melakukan itu. Beruntung akal sehatnya masih dia pakai sehingga tidak terpengaruh oleh ide gila Masha.
Bagi Jeremy pesta dan Marsha adalah sebuah kombinasi racun yang bisa membuatnya mati dalam hitungan detik. Sayangnya Jeremy lupa bahwa setelah pesta ulang tahun Marsha nanti, masih akan ada satu pesta lagi yang harus dia lalui, apa lagi kalau bukan pesta resepsi pernikahannya dengan gadis itu.
Jeremy memejamkan mata, ulang tahu ke sembilan belas Marsha adalah momentum yang sangat ditunggu oleh Nova dan Cantika, tapi tidak dirinya. Sebulan setelah gadis itu berulang tahun dia harus dipusingkan dengan serentetan kesibukan menjelang pernikahan salah satunya adalah lamaran. Jeremy terus memejamkan mata sampai tertidur, hingga Peter bingung saat ingin meminta tanda tangan.
Sekretaris Jeremy itu sudah berkali-kali mengetuk pintu dan akhirnya memilih masuk ke dalam karena tidak mendapat jawaban, dia takut Jeremy melakukan tindakan berbahaya salah satunya meminum racun sianida karena pusing memikirkan ulang tahun Marsha. Sejak tiga hari yang lalu atasannya itu memang sudah berkeluh kesah, dan Peter menganggap Jeremy terkena sindrom pra nikah. Berulang kalI Jeremy berkata padanya-
“Setelah ulang tahun Marsha aku benar-benar akan menjalani masa-masa sulit. Peter! Doakan semoga aku kuat menghadapi cobaan ini.”
__ADS_1
Ia bahkan menepuk pundak Jeremy untuk menguatkan saat atasannya itu mengeluh. Peter menggeleng, dia letakkan berkas ke meja dan hendak memutar tumit, tapi Jeremy lebih dulu bergerak dan membuka mata.
“Anda pasti sangat lelah Pak sampai tidur sambil duduk,” ujar Peter.
Jeremy tak menjawab, dia membuka berkas yang dibawa sekretarisnya itu lantas mencoba kembali fokus, tapi sayang tidak bisa. Apa lagi saat notifikasi pesan di ponselnya berbunyi, pria itu bergegas membukanya dan seperti yang sudah dia duga, calon beban hidupnya yang mengiriminya pesan.
[ Om, jangan lupa bawa kado yang besar, mau itu kotak doank pokoknya kado Om harus yang paling besar, aku tidak ingin malu di depan teman-temanku memiliki calon suami yang pelit ]
“Dia meminta kado besar, carikan aku kardus kulkas atau apa pun lalu bungkus dengan rapi,” ucap Jeremy. Dia melempar ponselnya ke meja dan kembali fokus ke berkas di depan.
__ADS_1
“Astaga Pak, kenapa Anda pelit sekali ke calon istri, berikan saja dia bunga papan bertuliskan selamat ulang tahun semoga husnul khotimah.”
“Terserahlah aku serahkan itu padamu,” kata Jeremy. Ia pikir Peter hanya bercanda tak tahunya sekretaris tampan itu benar-benar melakukan apa yang dia ucapkan. Dan tepat di hari ulang tahun Marsha yang kesembilan belas, sebuah karangan bunga datang dengan ukuran lima meter lebih ke rumah. Sontak saja Richie dan Kimi heran, apa lagi kalimat yang tertulis di sana.
“Tunggu! apa menantumu mengirim bunga papan ini untuk anak kita?” tanya Richie keheranan.
“Dia calon menantumu juga,” balas Kimi. “Apa sedang trend mengirim bunga dengan ucapan aneh seperti ini?”
Kimi dan Richie masih berdiri bersisian di teras, sedangkan Marsha yang melihat bunga papan itu dari depan pintu rumah nampak cemberut.
__ADS_1
“Apa dia mendoakan aku cepat mati?” gerutunya.