
Keesokan harinya, Marsha diminta keluar dari kamar dan menemui kedua orangtuanya di ruang tamu. Langkah kakinya begitu berat saat menuruni anak tangga, tentu saja karena dia sudah memiliki firasat buruk akan panggilan kedua orangtuanya ini.
Kimi sudah di ruang tamu menunggu kedatangan Marsha sejak tadi. Menatap sang putri yang berjalan dengan langkah berat dan tidak bersemangat.
“Duduklah!” perintah Kimi saat Marsha sudah sampai di ruang tamu.
Marsha hanya menurut dengan perasaan buruk yang menghampiri. Belum lagi tatapan sang mami yang terus terarah ke ponsel yang digenggamnya.
“Berikan ponselmu!” perintah sang mami sambil mengulurkan tangan. “Ada hal yang ingin Mami ketahui.”
“No! Untuk apa?” tanya Marsha sambil menyembunyikan ponselnya. Ini terlalu mendadak dan Marsha tidak siap jika sampai Kimi mengetahui isi di benda pipih itu.
“Tidak ada apa-apa dalam ponselku, lihat!” Marsha berusaha meyakinkan wanita di depannya, bahkan menunjukkan galeri foto di sana.
Beruntung semalam dia sudah mengantisipasi akan hal ini, dia berpikir untuk menghapus file di dalam ponsel, karena sudah merasa sang Mami mencurigakan.
Tak lama kemudian, Richie ikut duduk di ruang tamu. Keadaan itu semakin membuat Marsha tak bisa berkata apa-apa.
__ADS_1
“Bukan itu. Mami ingin melihat mutasi rekening tabungan kamu.” Kimi masih menengadahkan tangan untuk meminta ponsel sang putri.
Marsha begitu terkejut, hingga jantungnya hampir melompat keluar arena perkataan sang mami. Jelas hal itu bukanlah sesuatu yang bisa dia manipulasi.
“Bagaimana ini? Mami akan tahu jika aku mengirimkan uang pada Andro,” gumam Marsha dalam hati.
“Sya, kamu mendengarkan apa yang Mami katakan tidak?” Kimi memandang curiga ke putrinya.
Richie pun menatap Marsha, membuat gadis itu semakin bingung dibuatnya.
Marsha tak berkutik, sudah tidak bisa mengelak lagi, terlebih karena kini dua orang yang berkuasa di rumah itu sedang menatap curiga kepadanya. Akhirnya Marsha pun dengan terpaksa memberikan ponselnya ke Kimi.
“Sudah kami duga. Marsha, jangan bodoh. Sampai kapan kamu mau diperalat pemuda itu? Mengapa kamu memberinya uang sebanyak inj?” tanya Kimi. Wanita itu tak bisa menyembunyikan rasa kecewa. Anak gadis yang selama ini disangka sudah memutuskan hubungan dengan pemuda yang dianggap tidak baik olehnya, ternyata masih berhubungan.
“Marsha, kamu pikir kami memberimu uang untuk kamu berikan pada orang lain? Kami tidak masalah jika uang itu kamu pergunakan untuk kebutuhanmu, tapi kami tidak setuju jika kamu memberikan ke pria yang sudah jelas hanya memanfaatkanmu,” ujar Richie yang ikut kesal karena putrinya terus dimanfaatkan.
“Pi.” Marsha memandang sang papi yang juga kecewa kepadanya.
__ADS_1
Kimi dan Richie saling pandang, kemudian menganggukkan kepala seolah sedang memberi isyarat satu sama lain. Mereka semalam sudah membahas masalah Marsha, karena ternyata dugaan mereka terbukti, membuat keduanya akhirnya harus memutuskan yang terbaik demi keberlangsungan masa depan putri mereka.
“Mulai sekarang kamu hanya akan mendapatkan jatah seratus ribu saja perhari. Cukup tak cukup, pikirkanlah sendiri!” Kimi memberikan keputusan yang sudah dibuat sejak semalam.
Marsha terkejut dengan mulut menganga, bagaimana bisa orangtuanya hanya akan memberinya uang seratus ribu sehari. Ini tidak adil bagi Marsha, mana cukup uang seratus ribu untuk dirinya yang suka menghamburkan uang.
“Papi,Mami! kalian tega memberiku uang sedikit seperti ini? Bagaimana kalau aku ada apa-apa atau butuh sesuatu saat di kampus atau jalan?” Marsha berusaha membujuk agar kedua orangtuanya mengubah keputusan mereka.
“Tentu cukup,” ucap Kimi.
“Kalau mau pergi? Ada mobil, bensin juga selalu akan tersedia,” timpal Richie menjelaskan tentang fasilitas lain yang masih dimiliki Marsha.
“Kalau perlu, mungkin lebih baik kami memberikanmu sopir pribadi yang mengantar dan menjemput. Sekalian juga memastikan kamu tak bertemu dengan pemuda mata duitan itu,” imbuh Richie.
Marsha hampir menangis setelah mendengar keputusan itu, bahkan mimik wajah memelasnya kini tak mempan untuk meluluhkan hati kedua orangtuanya.
“Sial! Kenapa aku harus mengalami hal begini? Seorang Marsha hanya punya seratus ribu sehari? Lelucon macam apa ini?” Marsha menggerutu dan mengumpat begitu kembali ke kamar.
__ADS_1
Dia sampai mengacak-acak rambutnya karena kesal mendapat kesialan seperti ini.
"Kenapa aku sial sekali?" teriaknya frustrasi.