Pernikahan Tak Terduga : UNEXPECTED MARRIAGE

Pernikahan Tak Terduga : UNEXPECTED MARRIAGE
Bab 171 : Pamit


__ADS_3

“Kamu bohong, Sya. Nggak mungkin nggak terjadi apa-apa tapi kamu ambil cuti. Kamu nggak mau jujur sama aku? Apa kamu udah nggak nganggap aku teman?”


Zie terus mendesak agar Marsha mau bercerita tentang alasannya mengambil cuti kuliah.


Marsha sebenarnya tidak mau jujur, tapi karena Zie terus bertanya seperti itu, membuatnya terdesak dan hanya bisa menangis.


“Lho, kok nangis.”


Zie kebingungan melihat Marsha meneteskan air mata, ada rasa bersalah di hatinya. Gadis itu beranggapan sudah memojokkan sang sahabat, Zie pun mengajak Marsha duduk agar bisa bicara dalam kondisi yang lebih tenang.


“Sebenarnya ada masalah apa, Sya?”


Marsha menghela napas kasar, sepertinya dia memang tidak bisa berbohong ke sahabatnya ini.


“Ada masalah dengan kandunganku, Zie.” Marsha akhirnya memberitahu yang terjadi.


Zie jelas terkejut mendengar pengakuan itu. Matanya bergerak memindai wajah sedih Marsha. Ia keluarkan tisu dari dalam tas dan memberikannya ke sahabat terbaiknya ini.


“Masalah seperti apa?” tanya Zie menatap cemas.


“Aku terkena preeklamsia, dokter menyarankan agar aku banyak istirahat dan tidak terlalu banyak pikiran. Aku dan kak Je ingin yang terbaik untuk bayi kami, jadi aku putuskan ambil cuti saja sampai melahirkan nanti,” ujar Marsha menjelaskan.


Zie tak bisa berkata-kata, dia sebenarnya bingung apa itu preeklamsia, apa mungkin Marsha terkena penyakit mematikan? banyak tanda tanya di kepala Zie, hanya saja untuk meminta penjelasan ke Marsha, lisannya tidak mampu.


Apapun itu, pasti sangat gawat hingga Marsha memutuskan berhenti sementara waktu dari aktifitas perkuliahan.


“Kalau tahu alasanmu demi kesehatan, aku pasti mendukung, Sya. Yang terpenting kamu dan bayimu sehat. Meski kita akan jarang bertemu, tapi percayalah kalau aku akan selalu ada untukmu,” ujar Zie sambil menggenggam telapak tangan Marsha.

__ADS_1


Zie memulas senyum, sebelum meraih tubuh Marsha dan memeluk sahabatnya itu.


"Ah... Marca, kamu harus sehat-sehat terus ya!" bisik Zie.


****


“Bagaimana kuliahmu, Zie?"


Sore itu Gia yang sedang membaca majalah di ruang tamu melihat sang putri baru saja pulang. Zie terlihat lemas dan hanya mengangguk-angguk menjawab pertanyaannya. Zie membuang napas panjang lalu merebah di samping Gia yang sedang bersantai.


“Ada apa? Kenapa wajahmu tertekuk lesu seperti itu?” tanya Gia yang merasa jika putrinya tidak seceria biasanya.


“Marsha mengambil cuti kuliah, aku sedih karena pasti akan jarang bertemu dengannya, Ma.”


Zie menjawab dengan nada suara lemas, dia bahkan merangkul lengan Gia dan menyandarkan kepala dengan manja di lengan wanita itu.


“Apa ada masalah?” tanya Gia lagi.


“Zie, setiap orang yang berumah tangga, pasti memiliki masalah mereka sendiri-sendiri. Contohnya Mama, meski Mama terlihat bahagia, tapi sebenarnya Mama sedikit sedih karena empat tahun menikah dengan papamu belum juga hamil. Di sisi lain Marsha masih sangat muda dan sudah diberi kepercayaan hamil, tapi kini memiliki masalahnya sendiri,” ujar Gia.


Zie hanya diam mendengarkan, di dalam hatinya dia bertanya-tanya mungkinkah kelak dia juga akan mendapat cobaan setelah berumah tangga? tapi siapa yang akan menjadi suaminya nanti, mungkinkah Peter? atau....


Sudahlah!


“Sekarang kamu support saja apa pun keputusannya, dia pasti tahu mana yang terbaik untuknya. Doain juga dia, jangan lupa doain Mama juga,” ucap Gia. Ia menepuk lengan Zie dan menyadarkan gadis itu dari lamunan.


***

__ADS_1


Malam harinya Jeremy pulang larut karena lembur, sesampainya di kamar, dia melihat Marsha yang ternyata belum tidur dan masih bermain ponsel sambil berbaring dengan posisi meringkuk.


“Kenapa kamu belum tidur?” tanya Jeremy sambil naik ke ranjang.


Marsha membalikkan badan, tersenyum lebar saat melihat sang suami sudah pulang.


“Kakak kenapa baru pulang, apa banyak pekerjaan?” tanya Marsha.


“Iya,” jawab Jeremy. “Kamu sudah minum obat?”


“Belum!"


Jeremy terkejut mendengar jawaban Marsha, keningnya berkerut antara ingin marah dan cemas dengan kondisi istrinya ini.


“Kenapa belum minum obat? Kamu tidak boleh melewatkan waktu minum obat, Sya!" kata Jeremy dengan nada penuh penekanan.


“Aku mau minum obat kalau ada Kak Je, kalau nggak ada kakak, obatnya terasa pahit,” ucap Marsha dengan sedikit nada candaan.


Jeremy membuang napas kasar, merasa Marsha sangat manja. Namun, dia sendiri mencoba untuk memaklumi, karena tahu sang istri masih labil.


“Ya sudah, ayo minum obatnya. Kamu juga tidak boleh tidur malam-malam, harus banyak istirahat,” ujar Jeremy mengingatkan lagi.


“Aku nggak bisa tidur kalau kakak tidak ada di sampingku. Jadi aku menunggu kakak pulang,” balas Marsha menanggapi ucapan sang suami.


“Hishhh.... bohong, kamu itu tidak bisa tidur karena belum buka bra,” sindir Jeremy dengan nada godaan. Dia menunjuk bagian dada Marsha dengan mata menyipit.


"Kak, apa kita tidak boleh melakukan itu sampai nanti aku melahirkan?" tanya Marsha tanpa rasa malu.

__ADS_1


Jeremy diam seribu bahasa, dia bingung menjawab dan hanya bisa menggaruk tengkuknya.


"Itu ... "


__ADS_2