Pernikahan Tak Terduga : UNEXPECTED MARRIAGE

Pernikahan Tak Terduga : UNEXPECTED MARRIAGE
Bab 93 : Satu Ranjang


__ADS_3

“Cukup untuk kemarin, malam ini aku ingin tidur di atas ranjang dengan nyaman,” ucap Jeremy, dia bahkan langsung merebah dari pada ditendang atau diusir Marsha lagi.


“Tidur, tidur lah Om.” Marsha memilih duduk di sofa, dia menatap cek pemberian Aprilia lalu berpikir kapan waktu terbaik untuk mencairkannya.


Jeremy memunggungi Marsha, sepertinya badan pria itu remuk redam. Hingga pijatan dari pembantu Nova tadi meringankan rasa sakit dan membuatnya rileks. Tanpa berganti baju dan membersihkan badan, Jeremy terlelap, bahkan di saat Marsha masih belum mengantuk.


Gadis itu mencebik kesal, melakukan apa yang biasa dia lakukan sebelum tidur malam. Marsha mencuci muka, tak lupa berganti baju dan melepas kutangnya. Ia terdiam, menatap penutup dadanya itu yang dibelikan khusus oleh Nova dengan bordiran nama.


“Apa perusahaan fashion itu tidak ingin membuat produk dalaman baru? seperti bra atau celana kelap-kelip agar kalau lampu dimatikan seperti sedang disko.”


Marsha mengangguk sendiri, dia merasa idenya sungguh cemerlang. Dia berniat menyampaikan idenya ke perusahaan fashion itu.

__ADS_1


Setelah selesai dengan rutinitas malam sebelum tidur, Marsha mulai ragu. Haruskah dia tidur di ranjang yang sama dengan Jeremy, atau di sofa seperti apa yang dilakukan pria itu kemarin.


“Ah … untuk apa, tidak lucu ‘kan kalau aku besok encok seperti dia tadi," gumam Marsha. Ia akhirnya naik ke atas ranjang, menarik selimut dan memejamkan mata.


Namun, belum ada lima menit Marsha membuka matanya lagi. Ia merasakan dinginnya AC membelai kulitnya, padahal dia sudah memakai selimut. Bagaimana kalau Jeremy kedinginan dan terserang flu besok pagi? Begitu pikir Marsha, tapi alih-alih beranjak untuk mengambil remote AC, dia lebih memilih berbagi selimut dengan pria itu, hingga Jeremy yang sudah terlelap membalik badan, Marsha menelan saliva. Wajah Jeremy begitu dekat dengan wajahnya.


“Astaga dia memang tampan,” gumam Marsha. Berdebar juga jantungnya melihat paras om-om yang kadang sabar menghadapinya, tapi terkadang juga emosi jiwa.


“Tunggu! apa dia sedang pegang-pegang?”


Marsha tak percaya, hingga Jeremy malah mencurukkan kepala ke dadanya. Pria itu bahkan tersenyum saat membentur dada yang selalu dibilangnya tak seberapa.

__ADS_1


“Kenapa dia senyum-senyum? Apa dia sedang mimpi jorok?” gumam Marsha. Ia sekuat tenaga menyingkirkan tangan Jeremy, tapi pria itu malah semakin erat memeluknya seperti menganggap dia adalah guling.


Akhirnya Marsha pasrah saja, dia tak peduli. Paling besok pagi Jeremy yang akan kaget jika bangun dengan posisi masih memeluknya.


Namun, pikiran Marsha keliru. Saat membuka mata di pagi hari, dia sudah tidak menemukan Jaremy di atas kasur. Ia mengingat-ingat semalam tidur sambil dipeluk suaminya. Marsha bangun, dia menolehkan kepala ke kiri dan kanan, tapi tak menemukan Jeremy di dalam kamar itu.


“Apa dia malu dan melarikan diri? Dasar pria itu!” Marsha menggerutu, sampai dia hampir beranjak bangun menuju kamar mandi. Matanya melotot melihat Jeremy tidur dengan posisi tengkurap di bawah.


“Uncle Jeramy!” teriak Marsha, dia melompati tubuh pria itu lalu berjongkok di sebelahnya. Marsha menepuk pipi Jeremy berulang sambil terus memanggil nama sang suami. “Kenapa Om bisa di bawah? Apa Om pingsan? bagaimana ini?"


Marsha yang panik seketika terdiam, dia bahkan terduduk karena Jeremy ternyata sudah bangun dan dalam keadaan sadar.

__ADS_1


“Kamu menendangku lagi, MRT!”


__ADS_2