Pernikahan Tak Terduga : UNEXPECTED MARRIAGE

Pernikahan Tak Terduga : UNEXPECTED MARRIAGE
Bab 145 : Belikan Aku Itu!


__ADS_3

Marsha mengangguk mantap saat resepsionis menujuk jenis waxing yang sering dipilih oleh Kimi. Tanpa berpikir panjang gadis itu pun memutuskan memakai yang sejenis.


Full Brazilian, Marsha berniat membuat peternakannya gundul.


Menunggu antrian perwatan, Marsha pun menerima sebuah pesan dari Zie. Sahabatnya itu bertanya tentang cara penggunaan krim wajah yang dia berikan beberapa hari yang lalu.


[ Tinggal oleskan saja ke mukamu, kata nenek Cantika harga krim itu mahal, tapi aku tidak cocok, mukaku rasanya sedikit gatal setelah memakainya ]


Zie membaca pesan Marsha sambil memegang jar kecil krim yang temannya itu bilang mujarab, hingga Zie tak melihat Mamanya berjalan mendekat. Gia - ibundanya langsung meraih krim yang diberikan oleh Marsha itu.


Gia yang tahu krim apa itu pun membentak, hingga Zie berjengket dan baru sadar krimnya itu sudah berpindah tangan.


"Queenzie, dari mana kamu mendapatkan ramuan ini?"


"Ra.. Ramuan apa sih, Ma?"


"Ini!" Bentak Gia dengan mata melotot bak baru saja melihat penampakan pocong berpita.


"Itu krim muka dari Marsha,Mama" jawab Zie yang tak tahu apa-apa.


"Astaga Zie, apa kamu tahu ini apa? Ini krim dua satu plus, harganya mahal bukan dipakai untuk muka tapi.... "

__ADS_1


Gia yang emosi seketika menutup bibir agar tak keceplosan.


"Sudah, berikan ke Mama. Biar Mama saja yang pakai," ucap Gia kemudian berjalan pergi meninggalkan sang putri.


"Ih ... Mama, itu krim muka buat glowingin muka aku," cicit Zie.


"Glowingin muka apa? Ini ramuan mak war untuk membuat suami klojotan."


_


_


Jeremy duduk sambil mengetuk-ngetukkan jemarinya ke meja, dia seketika mengingat pesan Kimi bahwa dia tidak boleh menghamili Marsha. Hingga pria itu berpikir untuk menggunakan pengaman.


Namun, sayangnya Jeremy malu pergi ke apotik atau minimarket untuk membeli barang itu. CEO tampan, berpenampilan elegan. Dia merasa malu sendiri.


Tak kehabisan akal, Jeremy mengeluarkan dua lembar uang seratus ribuan lalu keluar ruang kerjanya. Dia berdiri tepat di depan meja Peter dan berhasil membuat sekretarisnya itu kaget. Disodorkannya uang itu dengan tatapan nakal.


"Apa ada masalah?" tanya Peter. Ia pandangi uang yang Jeremy berikan.


"Belikan aku modnok!"

__ADS_1


"Apa? Apa kamu bercanda?" bentak Peter. Ia bicara tak formal ke Jeremy dengan wajah melongo.


"Tidak, aku serius. Belikan aku yang paling tipis dan tak terasa kalau dipakai."


"Hah ... " Peter membuang muka karena menurutnya perintah Jeremy terlalu gila. "Untuk urusan hohohehe pun kamu memintaku mengurusnya, kenapa tidak sekalian memintaku menghamili Marsha."


"Sembarangan!" Tangan Jeremy hampir melayang memukul kepala Peter, tapi sekretaris itu berhasil menghindar lebih dulu.


"Aku tidak mau, kamu beli saja sendiri. Aku tidak mengurus masalah pribadi atau bahkan masalah ranjang atasan." Peter menolak mentah-mentah. Sampai Jeremy mengancam memecat dirinya tanpa pesangon.


"Wah ... Kamu terlalu kejam, bagaimana aku menjawab ibuku kalau sampai mereka tanya kenapa sudah tidak bekerja lagi denganmu?" Cerocos Peter. "Masa aku harus menjawab, ini karena aku tidak mau membelikan modnok atasanku? Belum lagi bagaimana kalau mereka berpikir kita penyuka sesama jenis karena modnok itu?"


Jeremy mengambil kembali uangnya, dia tak menjawab ucapan Peter dan memilih masuk ke dalam ruang kerjanya.


"Tolong buat pengumuman, aku mencari sekretaris baru."


Suara Jeremy menggelegar. Peter pun kaget dan sudah berpikir bahwa atasannya itu sedang mencari pengganti dirinya. Ia pun buru-buru masuk ke dalam. Peter menelan ludah melihat Jeremy edang meletakan ponsel ke telinga. Ia tak tahu pria itu hanya bersandiwara.


"Ah.... Pak Jeremy, kenapa langsung dibawa perasaan? Saya akan membelikan apa yang Anda mau, apa ada rasa khusus yang Anda inginkan? Strawberry, cokelat, kacang hijau?"


"Kamu mau membelikan aku modnok atau bakpao?" Sinis Jeremy.

__ADS_1


__ADS_2