Pernikahan Tak Terduga : UNEXPECTED MARRIAGE

Pernikahan Tak Terduga : UNEXPECTED MARRIAGE
Bab 128 : Menghangat


__ADS_3

"Apa kamu lupa? Kamu melepas dan melemparnya semalam?"


Jeremy bicara dengan penekanan agar orang lain tak bisa mendengar. Ia berjalan pelan kembali ke ranjang lalu duduk.


"Kembalikan kutang istriku!"


Jeremy menyambar benda itu dari tangan sang adik lalu memberikannya ke Marsha. Meski dengan bibir cemberut, Marsha menerimanya lalu kembali ke kamar mandi untuk memakainya.


Cantika dan Nova jelas melihat kecanggungan yang kentara di mata Jeremy dan Marsha. Lagi pula bisa-bisanya Rey mengacungkan kutang ke arah kakaknya.


"Aku pikir kalian berbuat mesum di rumah sakit," cibir Rey. Meski agak sesak juga saat dia mengucapkan kalimat itu.


"Kamu pikir aku sudah tidak waras? jahitan lukaku bisa jebol," jawab Jeremy asal, dia membuat dua nenek-nenek yang ada di ruangan bersamanya seketika saling pandang lagi.


"Menurutmu sebrutal apa?"


"Mungkin ibarat blender kecepatannya maksimal."


Jeremy menatap tajam Cantika dan Nova yang berbisik-bisik, lalu menoleh Marsha yang sudah keluar dari kamar mandi.


"Ini aku bawakan bubur ayam, untuk sarapan!" Rey menunjuk meja ruang tamu sambil memandangi Marsha. Gadis itu nampak canggung hingga mengangguk lalu menawari Jeremy.

__ADS_1


"Mau aku suapin?"


"Boleh," jawab Jeremy tanpa perlu berpikir. Ia senang diperhatikan seperti itu. Ternyata Marsha saat ada pada mode kalem sangat memesona.


Sementara itu, Kimi yang baru datang berjalan sambil mengingat cerita suaminya kemarin. Ia ingin menanyakan ke Mia langsung kenapa bisa datang bersama Jeremy.


Kimi tak ingin berprasangka dulu, semua orang butuh didengarkan alasannya kala melakukan sesuatu hal. Kimi berhenti di depan UGD, dia mencoba mencari Mia di dalam tapi ternyata gadis itu tidak memiliki jadwal.


"Apa ada masalah, Dok?" tanya dokter jaga karena Kimi mencari Mia pagi-pagi.


"Tidak ada apa-apa."


***


Marsha mengoceh tiada henti sambil menyuapi Jeremy, dia bercerita bagaimana penjahat itu ingin melukainya. Marsha tak sadar sejak tadi sang suami memandangi dan tertawa sendiri karena tingkahnya.


Jeremy sadar dia menikah dengan gadis yang belum dan mungkin sedang beranjak dewasa, jadi dia harus memperlakukan Marsha berbeda, tak seperti mantan-mantannya dulu.


"Untung kak Je tidak kenapa-napa."


Marsha berhenti bicara, di melongok mangkuk bubur yang sedari tadi dia suapkan ke Jeremy.

__ADS_1


"Oh... sudah habis ya."


Marsha bingung, saking asiknya berbicara dia sampai tak sadar suapan terakhir sudah ditelan suaminya. Gadis itu tersenyum memandang Jeremy, ucapan terimakasih pun lolos dari bibir pria itu diikuti sebuah usapan lembut di pucuk kepala Marsha.


"Kamu ternyata bisa bersikap manis juga."


Semua orang yang mendengar pujian Jeremy ke Marsha merasa seperti obat nyamuk. Rey juga sama, hingga dia memilih untuk undur diri berangkat kerja.


"Nenek juga mau pergi, tadi ke sini pagi-pagi sekarang sudah ngantuk." Cantika berdiri, dia colek-colek lengan Nova agar sahabatnya itu mau berdiri sama seperti dirinya.


"Ah... Iya, Oma juga mau pulang."


Meski terlihat tak konek, tapi Nova menutupinya dengan tawa. Ketiga orang itu akhirnya pergi meninggalkan Marsha dan Jeremy berdua di dalam kamar perawatan.


"Aku mau mandi dulu ya, sudah dibawakan baju sama mami."


"Kenapa tidak pulang saja?"


"Pulang bagaimana? aku tidak mungkin meninggalkanmu yang sedang terbaring terluka," sewot Marsha. Bibirnya mengerucut dan tatapannya kesal ke Jeremy.


"Aku takut kakak mati," lirihnya. Ia membuat hati Jeremy seketika menghangat.

__ADS_1


__ADS_2