Pernikahan Tak Terduga : UNEXPECTED MARRIAGE

Pernikahan Tak Terduga : UNEXPECTED MARRIAGE
Bab 84 : Melepas Gaun Mahal


__ADS_3

Pesta usai, tapi Marsha tak mau ditinggal Kimi dan Richie di hotel bersama Jeremy. Ia menarik pergelangan tangan sang mami, memohon untuk ditemani tidur malam ini.


“Apa’an sih Sya, mahasiswa kok kayak gini,” hardik Kimi. Heran dia dengan kelakuan putri semata wayangnya ini. “Kamu sudah menikah, sudah jadi istri. Mami dan Papi sudah tidak ada tanggung jawab ke kamu, sekarang Jeremy yang menjadi pelindungmu.”


“Biarkan saja Mi, dia memang kadang sengaja bersikap aneh. Untung saja tidak pura-pura kesurupan selama resepsi tadi,” ucap Jeremy, dia membuang muka muak melihat kelakuan istrinya.


“Sudah! baik-baik di hotel bersama Jeremy, besok kamu bisa ke tempat Omano untuk menghadiri pengajian sekaligus syukuran karena pernikahan kalian lancar hari ini,” ucap Richie.


Marsha akhirnya melepaskan tangan Kimi, meski terpaksa dia akhirnya rela ditinggalkan di hotel bersama Jeremy.


Baru sekitar lima puluh meter, mobil yang ditumpangi Kimi dan Richie pergi tapi Jeremy sudah tidak sabar untuk menghina Marsha. Mulutnya sudah pahit sejak tadi ingin meledek gadis itu.


“Kita lihat siapa yang akan lari malam ini,” kata Jeremy dengan senyum di sudut bibir.

__ADS_1


Mendengar itu, Marsha seolah baru sadar. Ia tidak boleh terlihat takut apalagi gentar di depan Jeremy. Gadis dengan gaun pengantin yang masih membalut tubuh itu menoleh, matanya menyipit dan mengangkat dagu.


“Aku tidak akan lari, aku bahkan sudah menyiapkan baju jaring laba-laba untuk membuat imanmu terganggu,” ucap Marsha dengan nada sedikit ketus. Ia menyibabkan gaunnya sebelum masuk kembali ke dalam hotel menuju kamarnya.


“Hei … memang sudah kamu ambil kuncinya?” goda Jeremy, dia tersenyum tapi seketika murung mengingat Mia. Perlahan Jeremy masuk menyusul Marsha sambil mengetikkan pesan untuk gadis itu.


Marsha sudah mengambil kunci kamar, dia juga meminta bell boy membantunya membawa koper kecil yang sudah dia siapkan dari rumah. Marsha kebingungan, dia kesusahan membuka gaunnya. Tangannya susah payah menggapai ritsleting tapi tetap saja tak bisa. Bersamaan dengan itu Jeremy masuk ke dalam, gadis bodoh itu bahkan tak menutup pintu dengan benar.


“Marsha!” pekik Jeremy. Ia memasukkan ponsel ke kantung celana dan segera berjalan cepat meraih ritsleting gaun Marsha. Terang saja gadis itu menghindar dengan kecepatan cahaya.


“Kenapa sih? bikin kaget aja?”


“Kamu mau apa? gaun itu mahal, jangan sembarangan merusaknya. Kamu bisa menjualnya lagi atau mendonasikannya nanti,” kata jeremy.

__ADS_1


“Iya ‘kah? bisa jadi duit?” Jiwa matre Marsha meronta, dia mengerjab sebelum mendekat kembali ke Jeremy sambil menunjukkan punggungnya.


“Hari ini aku sangat lelah, tidak usah mencari gara-gara. Aku akan memesan kamar lain dan kita bisa tidur terpisah.”


Jeremy berakhir sadar dia harus bersikap dewasa, jangan sampai terpancing dengan kelakuan Marsha yang aneh dan mengada-ada.


Marsha diam, apa begini konsepnya cerita-cerita di saluran burung berenang yang berjudul ‘Suamiku tak mau menyentuhku di malam pertama kami’. Gadis itu membiarkan saja sang suami. Jeremy benar-benar meninggalkannya setelah mengambil koper yang tadi memang dibawa bersamaan dengan koper Marsha.


“Sudahlah, biarkan saja!” ucap Marsha, dia meloloskan gaun dari badan memunggungi pintu. Namun, tak lama kaget dan menoleh saat mendengar bunyi koper ditarik tergesa dan pintu ditutup dengan kencang.


“Ada Apa Om?” tanya Marsha, dia heran mendapati Jeremy ketakutan.


 

__ADS_1


__ADS_2