Pernikahan Tak Terduga : UNEXPECTED MARRIAGE

Pernikahan Tak Terduga : UNEXPECTED MARRIAGE
Bab 89 : Menyambung Kata


__ADS_3

Cantika tertawa sendiri, dia memakai kacamata sambil menatap ponselnya di ruang tengah. Wanita tua itu membaca pesan yang dikirimkan oleh Mastur pembantu yang sejatinya adalah tukang kebunnya. Pria itu sangat dia percaya karena memiliki keahlian menyamar bak agen mata-mata.


Rey baru bangun, pria itu hendak pergi mengambil minum tapi dibuat heran dengan tingkah neneknya yang senyum-senyum sendiri. Alih-alih bertanya, Rey memilih mengabaikan, dia adalah tipe orang yang tidak suka mengganggu kesenangan orang lain, tapi itu mungkin hanya berlaku untuk sekarang, entah nanti saat dia benar-benar tinggal satu rumah dengan Marsha. Bisa saja Rey tak mampu lagi mengelak apa yang dirasa.


Sementara itu, Jeremy sudah kembali ke kamar. Ia masih mendapati Marsha tidur pulas di atas ranjang. Karena tidak tahan dengan pegal yang dia rasakan, Jeremy membuka kaus yang dikenakan. Ia menekan-nekan sendiri bagian tubuhnya yang sakit untuk bisa ditempel koyo pedas yang baru saja dibeli.


Namun, ternyata menempel koyo tak semudah seperti pikirannya. Ia kesusahan. Terlalu fokus, Jeremy sampai tidak sadar Marsha bangun dan meraih koyo dari tangannya.


“Pegal ya?” tanya gadis itu dengan suara lengket.


Jeremy menoleh kaget, hingga mengangguk dan membiarkan Marsha membantunya. Ia bahkan menunjuk bagian yang sakit. Punggung dan pinggangnya linu-linu karena semalaman tidur di sofa.

__ADS_1


“Seharusnya Om tidur di lantai saja jangan di sofa, kalau di lantai ‘kan datar jadi punggung dan pinggang Om tidak akan sakit.” Marsha menasehati, lagaknya sudah seperti Kimi.


“Iya, tapi aku bisa masuk angin,” sembur Jeremy. Ia membalik badan, bukannya berterima kasih Jeremy malah mengatakan hal yang sedikit membuat Marsha malu. “Lihat ada liur kering di sudut bibirmu!”


Marsha mencebik kesal, sebelum berjalan masuk ke kamar mandi untuk mencuci muka, dari dalam sana Marsha mendengar Jeremy berkata bahwa dia akan tidur di ranjang mulai nanti malam, mau Marsha menolak, Jeremy tidak akan peduli. Gadis itu tidak boleh mengambil haknya sebagai manusia untuk mendapatkan tidur yang nyaman.


“Astaga, ‘kan salah Om sendiri, tinggal naik ke ranjang setelah aku tidur apa susahnya?” Marsha geleng-geleng kepala seolah menyayangkan sikap Jeremy. Tingkahnya membuat geram pria itu.


Marsha melotot, dia bergegas menarik selimut di atas ranjang mengecek hinaan Jeremy, setelahnya menatap Jeremy kesal. “Om jangan melakukan pencemaran nama baik ya, mana ada seorang Marsha Tyaga anak dari papi Richie dan mami Kimi yang seperti princess tidur ngiler.”


Jeremy tersenyum miring, dia membuang muka sebelum bergumam sendiri,” Aku penasaran apa Mastur masih mengintai, apa dia dan nenek berpikir aku bodoh? mau menyamar seperti apa pun mukanya yang mirip artefak purba itu sangat mudah dikenali.”

__ADS_1


“Om kenapa? apa pikiran Om juga linu? Otak Om butuh ditempel koyo juga?” tanya Marsha asal, dia duduk di tepi ranjang dan menenggak sebotol air mineral.


“Kamu ingat ‘kan kemarin aku bilang kalau ada orang yang memata-matai kita, namanya Mastur dia tukang kebun rumah nenek.”


“Brttt … Brtttt.”


Marsha hampir saja menyemburkan air di dalam mulut. Air itu bahkan sudah menetes keluar sedikit dan dia mengusapnya cepat-cepat. Jangan sampai Jeremy menganggapnya benar-benar suka ileran.


“Siapa Om tadi namanya? Mastur?" tanya Marsha dengan wajah heran. "Nama panjangnya tidak ditambah kata basi ‘kan Om?” imbuhnya jahil.


Jeremy seolah belum sadar kalau gadis yang sudah menjadi istrinya itu kembali mengerjai. Ia berpikir keras untuk menyambung nama Mastur dengan kata basi.

__ADS_1


“Marsha!” pekik Jeremy setelah sadar.


__ADS_2