
Marsha berjalan dengan sedikit canggung, menggunakan seragam putih abu-abu dia datang ke kantor Jeremy siang itu. Semua mata tertuju padanya, kebanyakan bertanya-tanya di dalam hati untuk apa bocah SMA datang ke sana. Marsha sedikit canggung, jelas tak banyak yang mengenalnya, dia bukan Sean yang pernah diculik dan viral di semua lini media masa, dia juga bukan Raiga yang masuk ke berita karena memenangkan olimpiade matematika. Lagi pula orangtuanya memang tidak terlalu mengekspos dirinya ke khalayak.
“Permisi, saya mau bertemu dengan Om …. Ah maksud saya Pak Jeremy,” ucap Marsha saat berdiri di depan meja resepsionis.
“Maaf apa Anda sudah ada janji? Pak Jeremy tidak bisa ditemui jika belum memiliki janji.”
“Em … sudah, dia yang memintaku ke sini bahkan dia mengisi saldo Go back-ku agar aku naik taksi online tadi,” jawab Marsha, dia memperlihatkan aplikasi Go Back-nya yang menunjukkan saldo empat juta. Jelas saja sang resepsionis menelan saliva, berpikir bahwa saldo sebesar itu Jeremy lah yang mengisi. Padahal itu saldo hasil ‘ngepet’ yang dilakukan oleh Marsha.
Setiap pulang dari rumah sang Oma, Marsha pasti meminta diisikan E-money untuk naik taksi. Dan jelas Nova tidak mungkin mengisikannya dengan nominal di bawah seratus ribu, belum lagi jika ada Daniel sang paman di rumah, Marsha pasti akan semakin nglunjak. Pria itu sangat menginginkan anak perempuan sehingga Marsha pun dianakemaskan, bahkan kadang Marsha dengan manjanya meminta hal yang bukan-bukan. Terakhir kali, dia minta dibelikan melon seharga lima juta mirip mbak Siska Kol seorang food vlogger dan tentu saja dia mendapatkannya dari Daniel.
Resepsionis termenung, pikirannya liar ke mana-mana. Mungkinkah pemilik perusahaannya sedang memesan lombok-lombokan?
__ADS_1
“Mba … halo!”
Marsha menggoyangkan tangan tepat di depan muka resepsionis, dia menatap dengan polos dan malah membuat resepsionis yang mungkin berumur sekitar tiga puluhan tahun itu merasa iba.
“Dek, masih banyak pekerjaan yang halal di luar sana, kamu masih muda kenapa memilih jalan sesat?” ucap si resepsionis, jiwa keibuannya tiba-tiba muncul tapi tidak tepat, karena diiringi pikiran negatif.
“Apa maksud orang ini? jalan sesat. Oh … mungkin maksudnya karena aku pacaran dengan om Jeramy yang sudah pantas disebut bujang lapuk itu. Tapi bagaimana dia bisa tahu aku hanya ingin menjadi parasit dan menguras isi dompetnya?” gumam Marsha dalam hati. Ia pun merapatkan tubuhnya ke meja dan berucap dengan cara berbisik-
“Ini cara paling cepat membuat gemuk tabungan.”
“But … but … but … nyebut, begitu maksudnya?”
__ADS_1
Marsha tertawa, gadis itu berpura-pura bodoh dan merasa bahagia bisa mengerjai si resepsionis. Ia menebak lawan bicaranya ini pasti berpikir dia sedang menjual diri.
“Kamu sudah datang?” tanya Peter setelah berdiri tepat di samping Marsha.
Sapaannya yang terlihat akrab membuat resepsionis kantor pusat J Corp semakin megap-megap. Ia berpikir bahkan sekretaris sang CEO pun seperti mendukung tindakan Jeremy.
“Ayo lewat sini! Pak Jeremy memintaku menunggumu di depan tapi ternyata kamu sudah sampai sini.
“Ah … iya ‘kah, dia pasti sudah tidak sabar bertemu dengan mahkluk Tuhan paling seksi sepertiku.” Marsha berucap dengan nada yang sangat manja - membuat si resepsionis hampir pingsan dibuatnya.
_
__ADS_1
_
Scroll ke bawah 👇