Pernikahan Tak Terduga : UNEXPECTED MARRIAGE

Pernikahan Tak Terduga : UNEXPECTED MARRIAGE
Bab 55 : Diantar Pulang


__ADS_3

“Meski Om sok baik hati mengantarku pulang seperti ini, aku tetap tidak akan mengucapkan terima kasih,” ucap Marsha. Ia bersedekap dada membuang muka ke arah pintu.


Sedangkan Jeremy malah menguap, dia menutup mulutnya lalu menyandarkan punggung ke sandaran kursi. Pria itu mengemudi dengan santai, seolah sengaja mengabaikan ucapan Marsha. Ia berhasil memaksa mengantarkan gadis itu pulang.


“Dasar! Kenapa bukan Rey saja yang harus aku nikahi. Jika Rey sepertinya aku akan mempertimbangkan putus dari Andro.” Marsha berucap dengan suara yang dibuat sedikit lantang. Ia memang sengaja ingin membuat Jeremy kesal


“Jangan coba-coba!” bentak Jeremy


Benar saja pria itu terpancing emosi dan Marsha pun tersenyum lebar. Entah dari siapa sifat jahilnya itu diturunkan, yang pasti dia sukses membuat Jeremy tergelak ironi.


Marsha tersenyum sinis, dia memilih mendiamkan calon suaminya dan menyibukkan diri berbalas pesan dengan Andro. Hingga tanpa dia sadari mobil Jeremy sudah tiba dan masuk ke halaman rumahnya. Marsha pun melepaskan sabuk keselamatan meski mobil sang calon suami belum berhenti dengan sempurna.


“Ingat bersikap natural, seperti kita adalah sepasang kekasih yang saling mencintai,” kata Jeremy.

__ADS_1


“Tenang saja! aku tidak akan bersikap seperti sugar baby. Dasar om-om!” ledek Marsha, dia bahkan menaikkan dagu seolah mengajak Jeremy berkelahi. Sungguh, tak terbayangkan oleh Jeremy harus menikahi gadis yang sepertinya akan memusuhi dan membuat onar di hidupnya sepanjang hari.


_


_


“Papi, Mami sedang apa di luar?” tanya Marsha. Ia menjauh dari mobil Jeremy untuk mendekat. Gadis itu heran mendapati orangtuanya sudah menunggu di teras, tak biasanya seperti ini.


Kimi dan Richie seketika lega saat melihat sosok Jeremy keluar dari dalam mobil. Pria itu menggulung kemejanya sampai siku. Wajahnya terlihat tetap tampan meski belum mandi. Awalnya pasangan suami istri itu takut anak gadisnya pergi ke tempat yang tidak benar. Pamit pergi jalan-jalan tapi hampir seharian tidak memberi kabar.


Setelah sedikit berbasa-basi, Jeremy langsung pamit undur diri. Pria itu berkata besok ada rapat pagi, jadi tdak bisa berlama-lama di sana.


Marsha mengangguk, dia bahkan membiarkan Jeremy menepuk puncak kepalanya lembut. Jika saja benar ada cinta di antara mereka, perlakuan seperti ini pasti sungguh sangat romantis

__ADS_1


“Sya!” panggil Kimi saat Marsha hendak masuk ke dalam kamarnya. Wanita itu mendekat lantas bertanya tanpa basa-basi. “Kamu sudah benar-benar putus dari pacarmu itu, ‘kan?”


“Hah … “


Marsha tergagap, dia jelas panik. Pertanyaan sang mami yang to the point seperti ini tidak bisa dijawab dengan mudah. Gadis itu tidak siap dan bahkan belum memiliki jawaban. Perlukah berbohong untuk menyelamatkan diri?


“Astaga, Mi. Aku baru saja pulang tapi Mami sudah bertanya seperti ini? Tidak bisakah nanti saja? Aku lelah,” balas Marsha dengan pundak turun, dia menghentakkan kaki. Sungguh tingkahnya sama sekali tak mencerminkan seorang mahasiswi.


“Jawab dulu,” ucap sang mami. Kimi tak bisa membiarkan Marsha pergi begitu saja tanpa mendapatkan jawaban.


“Mi … percuma juga aku menjawabnya kalau Mami tidak percaya. Aku lelah.” Marsha memutar gagang pintu kamarnya lantas masuk ke dalam.


Langkah kakinya sengaja dipercepat. Hanya itu satu-satunya cara untuk menyelamatkan diri. Hari ini dia mungkin mendapat kelonggaran tetapi belum tentu kedepannya nanti, dia bisa selamat seperti ini. Marsha harus merencanakan sesuatu agar hubungannya dan Andro tetap berjalan lancar.

__ADS_1


“Kenapa Mami tiba-tiba bertanya soal Andro? Apa om Jerami mengatakan sesuatu? Jika iya, aku akan mencubit ginjalnya, awas saja!” gerutu Marsha.


__ADS_2