
“Kenapa kamu meminta hal segila itu? Marsha, kamu akan membuat banyak orang terluka dengan sikapmu ini.”
Rey menasehati, meski berat baginya untuk mengatakan hal ini tapi tetap saja, dia tidak ingin sampai rencana pernikahan Jeremy berantakan.
“Aku galau Rey, kenapa aku harus menikah semuda ini?”
Marsha menunduk, semua ini dia lakukan demi cinta buta. Namun, sekarang cintanya juga sedang diambang jurang kehancuran, dan dia bingung harus berbuat apa.
“Apa yang harus aku lakukan? jika sampai Marsha kabur dari pernikahannya dan kak Je, jelas kak Je pasti akan terluka. Omano dan nenek Cantik bisa-bisa terkena serangan jantung dan mati bersamaan. Aku tidak ingin sampai hal seperti itu terjadi,” gumam Rey dalam hati. Ia terus menatap Marsha yang duduk tertunduk di sampingnya.
“Baiklah, aku akan membantumu. Minggu depan aku akan membawamu kabur. Jadi bersiaplah, mengerti!”
Marsha kaget, dia menoleh dengan sorot mata penuh harap. Gadis itu bahkan menggenggam erat tangan Rey dan mengucapkan kata terima kasih berulang. Ia tidak menyangka bahwa Rey akan mau membantunya seperti ini.
_
_
__ADS_1
“Menikah, minggu depan?”
Mia tak percaya, meski Jeremy terus menenangkan, tapi hatinya merasa tak rela. Ia membayangkan pria itu mengucapkan kalimat akad tapi bukan namanya yang disebut.
“Tenang saja, seperti apa yang aku bilang sebelumnya. Aku akan menceraikan Marsha enam bulan dari sekarang, ingat itu! aku janji.”
Jeremy meraih tangan Mia, mereka sedang berada di dalam mobil Jeremy dan berhenti di sebuah taman di pinggiran kota. Tempat teraman untuk melarikan diri.
“Lalu, bagaimana hubungan Marsha dan Andro. Bukankah kamu bilang Marsha seperti menjaga jarak dengan cowok itu, kalau sampai mereka putus, bagaimana jika Andro membeberkan semuanya?”
“Cowok itu tidak akan berani, lagi pula aku tidak yakin kalau Marsha mau putus dengan Andro. Dia itu bucin, mereka pasti masih bersama.”
Tepat setelah mengucapkan kalimat itu, Jeremy melihat dua mahkluk yang dikenalinya sedang berboncengan lalu berhenti dan duduk di kursi taman. Pria itu mengerjab untuk memastikan, hingga membuang muka tak percaya sebelum memberitahu Mia, sambil menunjuk apa yang dia lihat.
“Bukankah itu mereka?” tanya Jeremy. “Lihat! mereka itu ABG labil, sebentar bertengkar, sebentar baikan.”
Mata Mia mengarah ke posisi di mana Jeremy menunjuk, dia cukup terkejut melihat Marsha dan Andro yang sudah kembali berbaikan.
__ADS_1
_
_
“Sya, aku janji! Aku tidak akan meminta apapun lagi, aku sudah kerja part time di sebuah kafe, jadi aku punya uang yang cukup untuk mentraktirmu makan sushi.”
Bujukan Andro membuat Marsha luluh, entah jampi-jampi apa yang dipakai cowok itu tapi nyatanya putri tunggal Kimi dan Richie itu memilih untuk memaafkan.
“Aku akan memberimu kesempatan ke dua, tidak apa-apa kamu tidak kaya yang penting kamu kerja, mulai detik ini aku tidak akan memberikan atau membelikan barang sesuai keinginamu. Aku tidak ingin dicoret juga nanti dari kartu keluarga om Jeremy,” jawab Marsha. Ia masih berpikir bahwa cowoknya bisa berubah dan memperbaiki diri.
“Baiklah aku janji!” Andro mengulurkan jari kelingking dan Marsha pun menyambutnya, mereka masih duduk dan tak menyadari bahwa Mia dan Jeremy masih mengawasi.
Si bodoh Marsha tidak ingat bahwa dia meminta Rey membantunya kabur dari pernikahan. Ia lupa memberitahu calon adik iparnya itu untuk membatalkan keinginannya.
Beruntung sebuah rencana besar sudah Rey siapkan. Alih-alih membantunya kabur seperti keinginannya dulu, Rey malah berniat menjebak Marsha. Dia akan membawa Marsha ke KUA.
Namun, sayang rencana ini sepertinya tidak akan berjalan mulus, karena di hari H pernikahan sesuatu yang buruk terjadi.
__ADS_1