Pernikahan Tak Terduga : UNEXPECTED MARRIAGE

Pernikahan Tak Terduga : UNEXPECTED MARRIAGE
Bab 163 : Takut dan Cemas


__ADS_3

Jeremy terkejut mendengar suara Masha, hingga menoleh dan tersenyum canggung ke istrinya itu.


“Bukan apa-apa,” ucapnya.


“Kak, apa Mami marah?” tanya Marsha kemudian karena tadi sempat melihat Kimi di kamar itu.


Jeremy menggelengkan kepala, lantas mengusap lembut kening Marsha.


“Mami pasti nggak akan marah, kamu jangan cemas,” jawab Jeremy mencoba melegakan hati Marsha.


“Bagaimana perasaanmu sekarang?” tanya Jeremy memberikan perhatiannya.


“Masih sedikit pusing,” jawab Marsha dengan suara lemah.


“Tadi dokter memberikan obat anti mual via infus, apa sekarang masih terasa mual?” tanya Jeremy. Ia jelas sangat cemas memikirkan kondisi sang istri.


Marsha menggelengkan kepala, dia merasa lapar karena sama sekali belum ada asupan makanan yang masuk ke lambungnya.


“Kak Je, aku lapar."


“Ah... iya, aku suapi, ya!"


Jeremy mengambil jatah makan untuk Marsha yang sudah tersedia di atas nakas. Ia dengan telaten menyuapi Marsha, berharap istrinya itu bisa makan banyak dan segera bugar.

__ADS_1


“Mami bilang akan datang lagi setelah selesai memeriksa pasien, jadi kamu jangan cemas,” ucap Jeremy.


Marsha mengangguk sambil membuka mulutnya untuk menerima suapan dari Jeremy.


Namun, alangkah sedihnya seorang Marsha. Sampai malam menjelang, Kimi ternyata sama sekali tidak kembali ke kamarnya, hal ini membuat Marsha cemas dan takut jika sang mami marah karena dia hamil.


Nova yang mendapatkan kabar kalau Marsha masuk rumah sakit, datang berkunjung untuk melihat cucunya itu bersama Cantika. Namun, Marsha terlihat tidak gembira karena memikirkan sang mami, saat Nova dan Cantika mengajak bicara, Marsha malah fokus ke ponsel, berharap wanita yang melahirkannya itu menghubungi.


“Wah … ternyata kamu benar-benar hebat, nggak nyangka kalian akan secepat ini punya anak,” seloroh Cantika ke cucunya.


Jeremy mengangguk dengan seulas senyum, sesekali melirik Marsha yang terlihat murung dan sedih.


“Udah, Marsha nggak bakal pergi ke mana-mana, jangan dilihatin terus,” kelakar Nova kemudian.


***


Sementara itu Kimi ternyata memilih pulang ke rumah tanpa menemui Marsha lagi. Dia diam di kamar, bahkan saat Richie pulang dan menyapa dia masih seperti orang yang melamun.


Richie sendiri tidak ambil pusing dengan perubahan sikap Kimi, pria itu memilih masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Setelah selesai mandi, Richie menatap Kimi yang masih saja diam, hingga dia akhirnya sadar jika ada yang aneh dengan sikap sang istri.


“Ada apa? Apa ada masalah?” tanya Richie sambil duduk di samping Kimi.

__ADS_1


Wanita yang sangat dicintainya itu pun menoleh, hingga membuang napas kasar.


“Marsha masuk rumah sakit."


“Apa?”


Richie sangat syok mendengar hal itu, dia belum tahu sang putri masuk rumah sakit karena morning sickness yang cukup parah.


“Marsha kenapa bisa sampai masuk rumah sakit? Lalu, kenapa kamu malah di rumah?” tanya Richie yang panik bercampur heran.


Kimi mengusap kasar wajah mendengar pertanyaan Richie, terdengar suara helaan kasar seolah dia sedang menanggung beban yang begitu berat.


“Marsha hamil Rich, aku tidak tahu harus bagaimana,” jawab Kimi.


Richie sangat terkejut mendengar cerita Kimi, terlebih saat melihat raut kecemasan di wajah istrinya itu.


“Aku harus bagaimana, Rich. Aku takut kalau Marsha sampai mengalami komplikasi kehamilan seperti remaja yang datang ke rumah sakit beberapa saat yang lalu. Aku tidak mau kalau sampai terjadi hal buruk kepadanya.” Tanpa terasa bulir kristal bening luruh dari kelopak mata Kimi.


Richie mencoba memahami perasaan Kimi, dia sadar akan kecemasan sang istri karena Marsha adalah anak satu-satunya mereka. Dia pun merangkul pundak Kimi, lantas membawa sang istri ke dalam pelukan.


“Sudah, kamu jangan berpikir yang berlebih dulu. Kita juga tidak tahu nasib orang seperti apa. Mungkin kita sekarang hanya bisa menjaga, agar kondisi Marsha tidak seperti remaja itu,” ujar Richie untuk menenangkan Kimi.


Kimi masih menangis karena takut dan cemas, dia tidak bisa membayangkan jika Marsha mengalami hal yang sama dengan remaja itu.

__ADS_1


“Sekarang lebih baik kita ke rumah sakit untuk melihat Marsha. Dia pasti menunggu kita datang.”


__ADS_2