
“Apa? jadi kamu akan menikah akhir tahun ini?”
Marsha mengangguk, wajahnya seketika berubah kaget. Gadis itu meletakkan jari telunjuknya ke depan bibir Andro lalu menoleh ke sekeliling. Untung saja kantin sepi, jadi tidak ada yang bisa mendengar ucapan cowok itu tadi.
“Hem … kenapa kamu terkejut seperti itu? seharusnya kamu sudah tahu, aku sudah bilang ‘kan tentang semua ini.” Marsha mencebikkan bibir, dia menusukkan sedotan ke susu kotak yang dibelikan Andro untuknya.
“Aku pikir kamu akan menikah tepat setelah lulus, jika seperti itu lama juga,” gerutu Andro.
Cowok mata duitan itu berharap Marsha menikah sesegera mungkin, dengan begitu dia bisa mulai melancarkan aksi dengan meminta jatah uang bulanan Marsha yang diberikan oleh Jeremy.
“Apa maksudmu?” tanya Marsha yang sedikit aneh dengan sikap sang pacar.
“Ah … maksudku, lebih cepat bukankah lebih baik, kita bisa bebas pacaran karena orangtuamu tidak akan melarang dan curiga,” ucap Andro. Ia acak-acak rambut Marsha dan membuat gadis itu tertawa. Entah Kenapa Marsha suka sekali diperlakukan seperti itu. Ia merasa sangat dimanja.
_
__ADS_1
_
Malam harinya, seperti biasa keluarga Richie berkumpul di ruang keluarga, mereka membicarakan tentang kegiatan mereka seharian tadi. Richie pun bertanya soal acara peresmian gedung baru di rumah sakit milik sang istri.
“Minggu ini, kamu sudah mengosongkan jadwal ‘kan? awas saja kalau tidak.”
Richie tertawa, dia belai pipi istrinya dan merapikan helaian rambut Kimi yang sedikit berantakan. Marsha yang melihat keromantisan sang papi dan mami pun tersenyum sendiri, dia menyuapkan potongan apel yang baru saja diantarkan oleh pembantu. Dalam hati gadis itu berdoa agar dia bisa disayangi suaminya seperti maminya. Marsha membayangkan dia dan Andro sedang duduk berdua dan berpelukan mesra. Kimi dan Richie sampai keheranan, hingga Kimi mengurai pelukan dan mendekat ke putrinya, dia pegang kening Marsha dan bertanya -
“Kamu nggak kesambet ‘kan?”
“Ih … Mami, anaknya waras gini dikatain kesambet.” Marsha mencebikkan bibir kesal. Ia pun semakin manyun saat Kimi mencubit pipinya.
“Tidak ada tanda tanya besar apa Mi? orang yang selalu berpikiran negatif pasti tetap akan berpikir negatif, kita tidak bisa mengendalikan pikiran orang,” jawab Marsha
Ucapannya yang sangat dewasa itu membuat Richie tersenyum, ada sedikit rasa bangga di hati. Putrinya itu kadang bisa sangat manja, tapi kadang juga bisa berpikir jauh di atas umurnya.
__ADS_1
Marsha mengangguk mengiyakan permintaan Kimi, tapi di dalam hati agak malas juga dia mengajak Jeremy. Sejatinya dia tidak ingin sering bertemu dengan calon suaminya itu, lagi pula Jeremy juga sudah menjelaskan dengan gamblang bahwa dia memiliki tambatan hati. Hal ini seharusnya Marsha bicarakan juga, seperti Andro yang sudah tahu bahwa dia akan menikah dalam tanda kutip saja. Marsha pun bertanya-tanya apakah Jeremy juga jujur ke pacarnya.
“Bagaimana kalau aku besok memanfaatkan hubungan si om Jerami itu dengan pacarnya, aku bisa ‘kan berpura-pura menjadi istri yang tersakiti lalu meminta cerai dengan dalih diselingkuhi. Ya, benar. Kemungkinan besar Omano pasti juga tidak akan bisa menolak jika alasan itu aku pakai, Omano ‘kan ketua aliansi Oma-oma anti pelakor-pelakor Club.”
Marsha bermonolog di dalam hati, hingga Kimi dan Richie bingung karena putrinya itu mengangguk sendiri.
“Kim, dia mirip siapa sih kalau sedang seperti ini?” tanya Richie.
“Kamu lah, itu ‘kan hasil cetakanmu.”
_
_
_
__ADS_1
Scroll ke bawah 👇
Oh … ya yang penasaran soal kisah Kimi dan Richie aku tulisnya di PF berbayar, jadi semoga nggak ada yang tanya, kisahnya di mana wkwkwkkw follow aja IG ku kalau kepo ya.