Pernikahan Tak Terduga : UNEXPECTED MARRIAGE

Pernikahan Tak Terduga : UNEXPECTED MARRIAGE
Bab 167 : Resiko


__ADS_3

“Kalian ini sebenarnya kenapa?” tanya Cantika keheranan melihat tingkah Marsha dan Jeremy.


“Itu salah Kak Je!” Marsha langsung menunjuk ke Jeremy yang berbaring di sampingnya.


“Padahal aku nggak ngapa-ngapain,” ujar Jeremy membela diri.


Marsha bersungut kesal, lantas bercerita.


“Kak Je jahat, dia ingat kalau kami sebenarnya pernah bertemu dulu, tapi dia malah memilih diam dan tidak pernah cerita ke aku.” Marsha menceritakan hal yang membuatnya kesal.


Cantika gemas karena hal seperti itu bisa membuat Marsha merajuk, hingga dia pun mencubit pelan hidung cucu menantunya itu.


“Karena itu Nenek dan Omano menjodohkan kalian, kalian ini sebenarnya sudah ditakdirkan sejak dulu, meski tidak kalian sadari,” ujar Cantika menjelaskan.


Jeremy tertawa mendengar Marsha mengadu, tapi Cantika lebih membela dirinya. Dia lantas ingin memeluk Marsha, tapi ditolak oleh Marsha.


“Ish … ga usah main peluk. Sana Kak Je pergi jauh-jauh!” Marsha mengusir Jeremy.


Namun, bukannya menjauh, Jeremy malah bangun kemudian meraup tubuh Marsha dalam gendongan, untuk membawa istrinya itu keluar dari kamar Cantika.


Cantika hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan keduanya, mereka ini memang pasangan yang serasi dan unik bagi Cantika.


“Kak Je, turunin!” Marsha berusaha memberontak dan meminta untuk turun.


“Kalau kamu memberontak, aku akan cium di depan nenek. Mau?” Bisik Jeremy.


Marsha seketika diam, karena tidak mungkin membiarkan Jeremy menciumnya di depan Cantika.

__ADS_1


Jeremy pun membawa Marsha kembali ke kamar, lantas merebahkan istrinya dengan perlahan di atas tempat tidur.


“Masa karena hal itu kamu marah,” kata Jeremy saat sudah merebahkan Marsha. Istrinya itu memalingkan wajah, seolah tidak peduli dengan ucapannya.


“Jangan ngambek! kalau ngambek nanti cantiknya hilang,” kata Jeremy lagi.


“Biarin!”


Jeremy gemas dengan tingkah istrinya, hingga kemudian mencoba membujuk.


“Bagaimana kalau sabtu ini kita pergi kencan? aku akan meluangkan waktu agar kita bisa pergi,” kata Jeremy membujuk.


Marsha langsung memandang Jeremy, tampaknya bujukan kencan sangat ampuh membuat Marsha tidak marah lagi.


“Oke, tapi janji jangan ingkar,” ucap Marsha mengiakan.


Marsha mengangguk, dia luluh dengan ucapan suaminya itu.


***


Hari Sabtunya, Jeremy benar-benar menepati janji mengajak kencan Marsha, tapi siapa sangka jika Marsha mengajak Zie dan Peter juga.


Mereka pun memilih pergi nonton dan kini sudah berada di dalam bioskop.


Zie dan Peter mendapatkan tempat duduk di depan Marsha dan Jeremy. Mereka terlihat senang menonton film terbaru yang akan baru saja mulai ditayangkan.


Marsha mengambil popcorn, lantas menyuapkan ke mulut Jeremy tapi tatapan tertuju ke layar lebar yang berada di depan mereka.

__ADS_1


Jeremy senang karena Marsha sangat perhatian. Dia pun mengambil minum dan ingin memberikannya ke Marsha. Saat Jeremy dan Marsha sama-sama menunduk untuk mengambil minum, mereka tidak sengaja melihat adegan di kursi depan mereka.


Zie dan Peter yang sedang asyik menonton, tanpa sadar keduanya sama-sama mengulurkan tangan untuk mengambil popcorn, hingga tanpa sengaja bersentuhan satu sama lain. Zie dan Peter terkejut, keduanya pun tampak malu-malu, Peter mengalah dan meminta Zie mengambil popcorn terlebih dulu.


Marsha dan Jeremy saling tatap, tapi keduanya memilih diam dan lanjut menonton film.


Setelah nonton, mereka pergi makan di kafe yang ada di sekitar bioskop. Mereka sudah duduk dan memesan makanan, kini tinggal menikmati saja.


“Aku bersyukur karena kehamilanku baik-baik saja, dia ini baik dan sangat penurut,” ucap Marsha jemawa, bahkan mengusap-usap permukaan perut sedang membanggakan anaknya.


“Aku nggak sabar nunggu dokter memperbolehkan Kak Je menjenguk dia,” ucap Marsha keceplosan sambil menunduk menatap perutnya.


Jeremy dan Peter langsung tersedak mendengar ucapan Marsha, mereka sampai terbatuk-batuk dibuatnya, sedangkan satu-satunya anak perawan di sana memilih memalingkan muka.


**


Empat bulan kemudian.


Marsha pagi itu baru saja selesai mandi dan kini sedang berdiri di depan cermin. Dia memandang perutnya yang sedikit membuncit.


“Kak Je, belakangan ini kenapa aku sering pusing? Apa ini efek karena perutku makin besar. Apa aku perlu periksa ke dokter?” tanya Marsha saat melihat Jeremy baru saja selesai berganti baju.


Jeremy terkejut mendengar keluhan Marsha, tanpa banyak bicara dia bergegas menelepon klinik eksekutif di rumas sakit Kimi agar bisa memeriksakan kondisi Marsha.


“Kamu tenang saja, jangan terlalu banyak pikiran,” ucap Jeremy mencoba menenangkan Marsha, sambil menunggu panggilannya terhubung.


Jeremy ingat jika Kimi pernah berkata kalau kehamilan di bawah usia dua puluh tahun, mungkin akan beresiko mengalami darah tinggi atau darah rendah, hal ini membuat Jeremy cemas, jangan sampai sesuatu yang buruk terjadi ke Marsha.

__ADS_1


__ADS_2