
Rey tak bisa menjawab langsung permintaan Marsha, dia malah terbahak karena menurutnya keinginan kakak iparnya itu sungguh tak masuk akal. Namun, bukan Marsha jika menyerah begitu saja, dia meminta Rey berjanji untuk mengizinkannya melakukan hal itu suatu hari nanti.
“Oh … ya, aku masih punya hutang kepadamu. Nanti setelah aku mencairkan cek dari nenek Aprilia aku akan membayarnya,” ujar Marsha.
“Hutang apa? apa maksudmu yang dulu? Haish … Kak Je sudah membayarnya. Aku sudah bilang tidak perlu, tapi tetap saja. Dia memiliki nomor rekeningku, jadi tiba-tiba saja sejumlah uang terkredit ke akunku,” ungkap Rey.
Jawabannya membuat Marsha mengerutkan alis, mungkinkah Jeremy tidak bercerita yang sesungguhnya soal uang itu?
“Ah … dia memang baik hati dan tidak sombong, rajin menabung dan hormat kepada orang tua,” sambung Marsha memuji sang suami.
Setelah berbincang dengan Rey, Marsha berkata ingin istirahat di kamar. Namun, tak dia sangka berpapasan dengan Peter saat hendak menaiki anak tangga.
“Hei … Captain Pet,” sapa Marsha. Selalu seenak jidatnya memanggil nama orang.
__ADS_1
Peter menunduk seakan memberi hormat, mau dipanggil dengan sebuatan apa saja oleh Marsha, pria itu tak peduli. Asalkan gadis itu masih dalam koridor menghormati. Setidaknya hal itu dia pelajari dari Jeremy.
“Apa Kak Je menyuruhmu datang karena urusan pekerjaan? Dia itu, bahkan tidak memikirkan mengajakku bulan madu dan langsung ingin bekerja, awas ya nanti! Akan aku gelitiki pinggangnya,” kata Marsha dengan sangat manis.
Padahal ucapannya barusan hanya dia buat untuk mengelabuhi Peter. Ia tak tahu saja, sedikit banyak sekretaris Jeremy itu tahu bagaimana bentuk hubungan yang terjalin di antara mereka.
“Sepertinya kamu bisa honeymoon, karena apa yang akan aku sampaikan ke Pak Jeremy sedikit berhubungan dengan …. “ Peter sengaja memotong ucapannya. Ia tak melanjutkan kata dan malah tertawa sambil berlalu meninggalkan Marsha.
“Awas ya membuatku penasaran!” sewot Marsha.
Peter mengetuk pintu, sampai suara sang atasan terdengar, dan memintanya masuk ke dalam.
“Pak, Tuan Kevin menginginkan penjadwalan ulang untuk penandatanganan kesepakatan,” ucap Peter menyampaikan informasi penting itu ke Jeremy. Dan persis seperti yang Peter duga, atasannya itu seketika semringah.
__ADS_1
Teringat jelas di benak Peter saat pria bernama Kevin itu menggagalkan pertemuan karena sang istri sedang sakit. Kesepakatan bernilai trilliunan rupiah itu sempat membuat Jeremy down dan bahkan merasa sial. Hingga Jeremy berpikir harus baik ke Marsha lagi, dan karena informasi yang baru saja disebutkan Peter, Jeremy semakin berpikir Marsha memang jimat hidup, bagaimana bisa kabar sebaik ini dia terima hanya selang beberapa hari setelag pernikahannya dan gadis itu.
“Akomodir saja semua keinginan Tuan Kevin,” titah Jeremy ke Peter.
“Kenapa?” tanyanya kemudian karena melihat ekspresi wajah sang sekretaris yang sedikit berubah.
Peter menggaruk belakang daun telinganya dengan telunjuk, dia agak sedikit kurang yakin dengan perintah Jeremy barusan.
“Untuk mengakomodir semua keinginan Tuan Kevin, asistennya bilang dia ingin bertemu di Bali dengan Anda dan istri Anda Pak, dia ingin semacam liburan bersama. Menjamu Anda sebagai hadiah pernikahan.”
“Apa?” Jeremy kaget, dia bahkan menghentikan kegiatannya menyisir laporan perusahaan.
“Bahasa gaulnya double date,” ucap Peter sambil menutup samping bibirnya dengan telapak tangan, seolah ada orang lain yang tidak boleh mendengar perkataannya itu.
__ADS_1
“Habis sudah aku, bagaimana jika dia tahu istriku masih sembilan belas tahun, petakilan, dan pembuat onar?"
Kepala Jeremy seketika berputar. Kesepakatan trilliunan seperti sedang dia pertaruhkan. Sukses atau tidaknya kesepakatan itu seperti berada di tangan Marsha.