
“Terima kasih, aku senang sekali bisa bertemu denganmu.” Linda memeluk Marsha lantas menjauhkan badan. Ia mengusap pipi gadis berumur sembilan belas tahun itu lembut lalu merogoh sesuatu dari dalam tasnya.
“Bu Linda, apa ini? tidak per … “
Marsha tak bisa meneruskan kata-kata, Linda lebih dulu melingkarkan sebuah kalung ke lehernya. Istri Jeremy itu yakin bahwa kalung yang sedang dipakaikan oleh Linda pasti berharga mahal.
“Cantik sekali!” puji Linda.
“Bu Linda!” Marsha merasa sedikit tak enak hati, dipegangnya liontin kalung berbentuk lambang cinta itu di depan dada. “Terima kasih banyak, ini benar-benar cantik,” imbuhnya lalu memeluk Linda dengan muka sedih.
Ya, hari itu mereka harus berpisah dan kembali ke kota masing-masing. Jeremy yang berdiri di samping Tuan Kevin menunduk, dia cukup terharu melihat kedekatan Linda dan Marsha.
“Kamu menemukan wanita yang meski masih berusia muda tapi bisa bersikap dewasa. Aku masih tidak percaya dia memiliki ide untuk membuat pesta kemarin,” puji Tuan Kevin.
Jeremy menegakkan kepala, dia menoleh Tuan Kevin lantas tersenyum. Ia sadar karena Marsha lah kesepakatan dengan koleganya ini bisa berjalan dengan lancar. Ia berhutang pada sang istri, beruntung Marsha hanya meminta dia mengabulkan sepuluh permohonan, dan hanya tinggal sembilan sekarang.
Mereka pun berpisah. Marsha melambaikan tangan saat mobil yang ditumpangi pasangan suami istri itu keluar dari halaman villa. Gadis itu tak menyangka bahwa dia kini memiliki teman yang usianya jauh di atasnya. Linda tak segan memberikan kontak pribadi ke Marsha. Bahkan meminta gadis itu untuk tidak sungkan menghubunginya jika butuh sesuatu.
__ADS_1
“Kita langsung pulang ‘kan, Pak?”
Bersamaan dengan Peter yang bertanya ke Jeremy, Marsha sudah lebih dulu masuk ke dalam villa. Tak lama, dia keluar dengan membawa koper miliknya.
“Ayo pulang! aku banyak urusan,” ketus Marsha. Ia kenakan kacamata lalu menuju mobil.
Sebenarnya sejak membuka mata di pagi hari Marsha memilih menghindar dari Jeremy. Meski mabuk, Marsha masih setengah sadar, Ia ingat sudah mencium Jeremy begitu nakal.
“Berapa ya biaya oplas? Aku malu sekali,” gumam Marsha di dalam hati. Dadanya hampir melompat keluar kala Jeremy masuk dan duduk di sebelahnya.
Putri Kimi dan Richie itu membuang muka, memilih diam saja sampai mobil yang membawa mereka sampai ke bandara.
_
_
Peter meletakkan buah panjang dengan kulit kuning dan daging lembut itu ke depan Marsha. Gadis itu hanya memandangi dari balik kacamata dengan tatapan kesal. Marsha melempar balik pisang itu ke Peter dan sekretaris suaminya itu pun terbahak.
__ADS_1
“Ada apa? kenapa kamu menjadi diam seperti ini? apa kamu malu karena kemarin seperti anak TK menyanyikan lagu gempa bumi?” tanya Peter dengan nada menggoda.
Jeremy pun terkekeh kecil, dan membuat Marsha menoleh dengan tatapan tajam nan menusuk. Ingin rasanya Marsha mencubit seluruh permukaan tubuh Jeremy, karena sejak bangun pagi pria itu terus menggodanya dengan kata ‘ciuman’ dan ‘manis’.
“Sya, apa kamu belum pernah berciuman bibir dengan Andro? Jadi mungkinkah ciuman pertamamu kamu berikan padaku?”
“Astaga Sya, apa kamu tahu? kemarin kamu melepas semua baju dan ingin berbuat hal yang tak senonoh. Apa kamu tidak tahan untuk melakukan itu?”
“Diam kau!”
Marsha membentak dan membuat dua pria dewasa yang berada satu kabin dengannya di pesawat terjingkat. Gadis itu berperang dengan pikirannya sendiri saat mengingat ledekan demi ledekan yang dilakukan oleh sang suami.
“Tidak ada yang bicara di sini Sya, siapa yang kamu minta untuk diam?” tanya Jeremy. Meski lisannya mengucapkan kalimat yang serius, tapi ekspresi wajahnya menghina.
“Apa mungkin kamu kemarin mencuri sesaji di depan rumah penduduk?”
__ADS_1
Pertanyaan Peter semakin membuat Marsha kesal. Gadis itu cemberut, menyandarkan punggung dengan kasar lalu bersedekap dada.
“Sialan, aku ingat memang menggerayangi bahkan menggosokkan dada ke tubuh uncle jerami, tapi bukankah dia juga mendesaah? Lalu apa karena aku mabuk dia bisa meledekku seenaknya?”