Pernikahan Tak Terduga : UNEXPECTED MARRIAGE

Pernikahan Tak Terduga : UNEXPECTED MARRIAGE
Bab 83 : Marsha Takut


__ADS_3

“Apa harus terus tersenyum seperti ini? gigiku sudah kering ini,” gerutu Marsha.


Jeremy yang ada di sebelahnya menunduk sambil terus memasang ekspresi bahagia. “Ini belum seberapa, tamu orangtuamu belum datang semua.”


Marsha menoleh, matanya menyipit ke Jeremy sebelum dia tersenyum lebih lebar karena sadar sang Mami sedang menatapnya. Marsha seketika meraih lengan sang suami tapi bergumam lagi-


“Kenapa aku merasa lapar? Apa benar berpura-pura bahagia itu butuh energi?”


“Apa kamu mau makan? kamu bisa makan kue pengantin itu,” ujar Jeremy. Ia terus tersenyum karena sadar Rey, Sean dan Raiga menatapnya dari meja keluarga. “Nenek bilang kue itu kamu yang memintanya, apa itu tidak berlebihan.”


“Berlebihan? Kamu bercanda? suamiku ‘kan miliarder, kue seperti menara itu hanya seharga motor Pakrio."


Mendengar ucapan Marsha, Jeremy hanya mengedikkan bahu. Dia lebih memilih menganggap ucapan istrinya tadi adalah sebuah pujian baginya dan kembali tersenyum.


Namun, tak lama senyum Jeremy meredup melihat sosok wanita yang dicintainya berjalan mendekat ke pelaminan. Dengan balutan kebaya modern berwarna nude, Mia tetap memasang senyuman. Meski hati gadis itu hancur melihat pemandangan di hadapnya saat ini. Di mata Mia, Jeremy sangat serasi bersanding dengan Marsha.


“Selamat ya,” ucap Mia, dia menyalami Jeremy dan masih bisa berpura-pura ikut bahagia padahal hatinya hancur.


Apa lagi saat Kimi mengucapkan terima kasih karena Mia sudah mau datang ke acara pernikahan putri tunggalnya. Mia semakin ingin mundur dan meninggalkan saja Jeremy, tapi dia tidak bisa. Gadis itu masih butuh sokongan dana dari pria itu untuk biaya pendidikannya. Hal yang tidak Marsha ketahui, dan bahkan tidak akan mungkin diceritakan Jeremy padanya. Pria itu ternyata sama, tak ada bedanya dengan Marsha yang dimanfaatkan Andro sebagai ATM berjalan.

__ADS_1


Mia sudah berjalan menuruni tangga panggung di mana pelaminan berada, tapi diam-diam Rey menyadari satu hal. Kakaknya beberapa kali menatap ke arah gadis itu, hingga Rey menaruh curiga, apa Mia gadis yang pernah diceritakan Jeremy kepadanya dulu? Rey masih menatap gadis itu sampai Raiga menghardiknya.


“Apa kamu sedang melihat gadis cantik?”


“Cih … gadis tercantik di sini jelas hanya dia.” Rey menunjuk dengan dagu kakak iparnya yang ada di atas pelaminan.


“Marsha?” tanya Raiga meski sudah tahu dengan jelas.


“Hem … “ jawab Rey tanpa menatap pemuda yang berumur tiga tahun di bawahnya itu.


_


_


“Sialan kau Jer, pintar kali kau cari bini. Awet muda kau, tak cepat mati,” ujar teman Jeremy saat berdiri di samping cucu kesayangan Cantika itu.


Jeremy tak menggubris, bukannya memandangi sang istri, pria itu malah mencari-cari keberadaan Mia. Ia tak tahu bahwa kekasihnya itu sudah pulang karena tak kuat berlama-lama melihatnya bersanding dengan Marsha di pelaminan.


Beberapa menit kemudian, Marsha nampak berdansa dengan papinya. Gadis itu bersandar di dada Richie sambil bergerak pelan ke kanan dan kiri mengikuti alunan musik. Richie terharu, dia tak menyangka bayi kecil yang dulu hanya bisa ngompol dan tidur karena mabok ASI, kini sudah menjelma menjadi gadis cantik dan bahkan menikah.

__ADS_1


“Sya, kamu harus bahagia. Terlepas kamu belum sepenuhnya mencintai Jeremy, tapi Papi yakin cinta itu bisa tumbuh seiring waktu karena terbiasa,” bisik Richie. “Dia pria baik, Papi yakin Jeremy pasti akan menjagamu sepenuh hati.”


“Papi, kenapa Papi berucap seolah sebentar lagi mau mati?"


“Huss … kamu itu,” bentak Richie. Ia hampir melepaskan pelukannya dari Marsha tapi putrinya itu memeluk semakin erat.


"Berikan semua warisan Papi atas namaku!"


"Marsha!"


“Papi! Sejujurnya, aku ingin terus menjadi gadis kecil Papi. Aku takut dengan langkah yang aku ambil, Pi.” Marsha terdiam sejenak, dia sadar tidak boleh membuat Richie khawatir.


Merasa ucapannya salah, Marsha pun kembali berucap,” Pi, aku takut diajak tawuran Kak Je nanti malam.”


Richie melonggarkan pelukan, dia memegang pundak Marsha dan menatap lekat wajah putrinya itu. “Apa maksudmu?” tanyanya seolah tidak tahu bagaimana kelakuan sang putri.


“Tawuran, Pi. Membuat keributan di atas ranjang.”


“Astaga Marsha!”

__ADS_1


__ADS_2