Pernikahan Tak Terduga : UNEXPECTED MARRIAGE

Pernikahan Tak Terduga : UNEXPECTED MARRIAGE
Bab 123 : Penyerangan


__ADS_3

Marsha memutuskan untuk pergi dari pada terus di sana melihat Mia dan Jeremy. Ia berdiri dan hendak keluar dari kafe itu.


Tak ingin sampai Jeremy tahu Marsh pun mengenakan hoodie jaketnya. Namun, sepandai-pandainya tupai melompat akhirnya jatuh juga. Jeremy melihat dan memanggil namanya dengan lantang.


"Marsha!"


“Astaga!” gerutu putri Richard Tyaga itu.


Zie yang mendengar nama sahabatnya dipanggil menoleh, dia yang sibuk mengemasi buku dan hampir memasukkan arak pemberian sahabatnya seketika kaget. Bukan karena panggilan Jeremy barusan, tapi karena seorang pria bertopi dan mengenakan masker hitam berdiri, lalu memasukkan tangan ke dalam kantung jaket. Tak lama, pria itu mengeluarkan pisau lipat lalu menghunuskannya ke arah Marsha.


Zie berteriak. Marsha pun menoleh dan seketika melotot melihat pria itu sudah menghujamkan senjata tajam tepat ke bagian perutnya.


“Marsha!”


Jeremy kaget dan berlari mendekat ke arah istrinya. Suasana kafe yang sepi membuat tak banyak orang yang melihat kejadian penusukan itu.


Marsha terhuyung ke belakang, bibir gadis itu bergetar lalu menunduk melihat ke arah perutnya. Pisau yang ditikamkan pria itu ternyata menusuk tas dan sama sekali tidak menyentuh permukaan kulitnya.

__ADS_1


“Siapa kamu? apa yang kamu lakukan?” bentak Jeremy.


Zie yang melihat kesempatan emas untuk melumpuhkan pria jahat itu pun memilih mendekat, dengan penuh keberanian dia memakai botol arak yang diberikan Marsha untuk memukul kepala pria itu.


“Kata Mama, melukai pelaku kejahatan adalah bentuk pembelaan."


Namun, sayang Zie memukulkan botol arak itu seperti mengetuk pintu. Pria jahat itu menoleh karena kaget dengan apa yang baru saja dilakukan olehnya. Putri tiri pria bernama Airlangga dan Gia itu pun melotot lantas mendekat dan menghunuskan pisau ke arahnya.


“Zie!”


“Siapa kamu? kenapa kamu tiba-tiba menyerang orang seperti ini?” tanya Jeremy sambil menahan tangan pria itu.


Melihat Jeremy kepayahan, Zie tak tinggal diam. Ia berusaha membantu dengan mengangkat kursi dan memukulkannya ke tubuh pria suruhan Nathan itu sampai terhuyung. Berbeda dengan Marsha, Zie memang jauh lebih pemberani.


“Dasar sampah masyarakat,” amukny.


Pria itu malah menyeringai. Ia menyadari satu hal, Jeremy tidak waspada. Ia pun menoleh dan langsung mengincar Marsha, pria itu menghujamkan pisau yang masih berada di tangan ke gadis itu. Namun, secepat kilat Jeremy mendorong, hingga keduanya terguling di lantai lantas bergulat.

__ADS_1


“Om Je hati-hati!” teriak Marsha panik.


Jeremy dan pria jahat itu berusaha saling melumpuhkan, hingga Jeremy nampak tercekat. Ekspresi wajahnya berubah tegang. Mulut Marsha pun menganga. Ia melihat dengan jelas pisau pria jahat itu menusuk perut suaminya.


“Om Je!”


Marsha berteriak kencang, bersamaan dengan pria itu yang bangkit bergegas berlari meninggalkan kafe. Jeremy meringis kesakitan dengan pisau yang masih menancap di perut. Mia pun berlari mendekat dan berlutut di samping Jeremy. Ia meminta Jeremy untuk tidak banyak bergerak dan menyuruh Marsha memanggil ambulans.


Namun, Marsha yang ketakutan hanya berdiri dengan tangan dan lutut yang gemetaran. Gadis itu hampir jatuh jika saja Zie tidak menahannya. Zie pun mengambil ponsel, dia menelepon ambulans bahkan menjelaskan kalau ada pasien dengan luka tusuk dan banyak mengeluarkan darah.


“Marsha, dia tidak kenapa-napa ‘kan?” tanya Jeremy sambil menahan rasa sakit di perut.


“Dia baik-baik saja,” jawab Mia. “Sya!” panggil dokter cantik itu dengan pipi yang basah. Mia menangis melihat pria yang dicintainya terluka.


Marsha mendekat lalu melakukan hal yang sama seperti yang Mia lakukan - berlutut di samping Jeremy. Ia menatap wajah pria itu yang basah akan keringat.


“Om Je … Om Je,” panggil Marsha dengan bibir bergetar. Ia menyentuh tangan Jeremy yang sudah berlumuran darah dengan air mata yang sudah mengalir deras.

__ADS_1


__ADS_2