
Beberapa saat yang lalu
Marsha membalas setiap ciuman Jeremy tak kalah penuh gairah. Tangannya bahkan menggaruk lembut bagian belakang kepala suaminya itu kala tangan Jeremy merayap ke punggungnya.
Jeremy mengangkat tubuh Marsha, dan reflek sang istri melingkarkan ke dua kaki ke pinggangnya.
Perlahan Jeremy menurunkan Marsha di atas ranjang, dengan dua tangan yang menumpu pada ranjang. Jeremy memandangi wajah Marsha yang memerah.
"Apa kamu mencintaiku?"
Sebuah anggukan kecil Marsha berikan sebagai jawaban. Dia pun balas bertanya apakah Jeremy juga memiliki perasaan yang sama padanya.
"Tentu, aku akan memberikan hidupku padamu," tutur Jeremy mesra.
"Meski aku bukan istri yang baik?" tanya Marsha lagi.
"Aku yakin kamu akan menjadi istri yang baik seiring berjalannya waktu."
Kalimat bijak dari Jeremy membuat Marsha terharu. Dia merangkum pipi sang suami lalu mencium bibirnya dengan lembut. Semakin lama ciuman itu semakin liar, tangan Marsha bahkan sudah beralih ke kancing kemeja Jeremy dan melepaskannya satu persatu.
Tak perlu waktu lama, kini mereka sudah hampir setengah telanjaang. Jeremy hanya menyisakan boxer berwarna abu yang nampak sangat seksi.
Ciuman bibirnya kini berpindah ke leher Marsha. Dia mencium dan sesekali menyapukan lidah lalu menyesapnya. Marsha pun mengerang pelan. Tubuh ramping gadis itu menggeliat dan tangannya mulai meraba punggung Jeremy yang kekar.
"Kak Je," panggil Marsha, dadanya nampak naik turun bersamaan dengan bibir Jeremy yang menguluum puncaknya.
Meski kecil dan tak sesintal yang dia bayangkan, tapi Jeremy yakin jika terus diperlakukan seperti ini, dada Marsha juga akan berubah ukuran dengan sendirinya. Jeremy memulas senyum, biji berwarna pink itu terasa mengeras, hingga dia menyambar satunya dengan tangan yang masih meremas dan sesekali mencubit kecil.
"Kak!"
"Iya sayang," jawab Jeremy. Ia melihat sorot mata Marsha yang begitu pasrah hingga tangannya meloloskan lingerie Marsha lewat bagian bawah.
Tak berhenti di sana, Jeremy juga melepaskan panties milik Marsha hingga kaget melihat bagian itu yang sangat mulus.
"Sya!"
"Glowing 'kan? Aku ke salon tadi." Marsha menegakkan sedikit leher sambil menggigit bibir untuk melihat ke bawah sana.
__ADS_1
"Apa kamu menyiapkannya?"
"Tentu saja, aku ingin kakak senang."
"Ya, aku sangat senang!"
Jeremy yang gemas kembali mengurung tubuh Marsha. Dia melumaat kembali bibir istrinya itu sebelum akhirnya melepaskan boxer untuk memulai malam pertama mereka.
Marsha merasa cemas, dia sudah membayangkan di film-film akan sangat menyenangkan rasanya. Hingga Jeremy membuka lebih lebar pahanya dan berlutut di depan lembah yang akan membuatnya merasakan nirwana.
"Aku akan pelan-pelan," bisik Jeremy.
Marsha mengangguk, tapi seketika menjerit hingga Jeremy kaget. Beruntung gadis itu sadar dan membekap mulutnya sendiri.
"Kak, sakit!" Protesnya.
"Maaf, aku akan lebih pelan!"
Setiap kali mencoba Marsha akan melakukan hal yang sama, hingga Jeremy yang sudah kepalang tanggung mendesakknya sedikit kencang.
"Nggak mau, sakit! Kakak menyakitiku." Marsha duduk di bawah dengan menekuk kaki.
"Marsha, apa kamu tidak tahu kalau awalnya memang harus begitu?"
Jeremy menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Ia menggaruk rambut karena bingung dengan tingkah sang istri. Brontosaurus miliknya bahkan terlihat tegak berdiri.
"Punya kakak terlalu besar."
"A.. A ... Apa?" Jeremy kaget dan malah senyum-senyum sendiri, hingga baru ingat ada modnok yang susah payah Peter beli di kantung celana.
"Oh... Ya, hampir saja." Jeremy turun dari ranjang, merogoh kantung celana sambil mengeluarkan modnok itu dan menunjukkan ke Marsha. "Lihat Sya, apa kamu tidak penasaran melihat bagaimana bentuk modnok yang asli?"
Marsha dengan polosnya menjulurkan kepala, hingga meminta Jeremy melemparnya saja. Dia memang pernah memegang bungkusnya, tapi sama sekali belum melihat isi di dalamnya.
Jeremy menggeleng menolak perintah Marsha, dia mendekat lalu berbagi selimut dengan gadis itu dan duduk di lantai.
"Sya, memang seperti itu, sakit, tapi sakitnya cuma sebentar kok habis itu enak," bujuk Jeremy.
__ADS_1
"Kenapa kakak membeli ini?" tanya Marsha sambil membolak-balik bungkus modnok di tangannya.
"Mami berpesan kamu tidak boleh hamil dulu sebelum umur dua puluh tahun."
"Ckkk Mami. Aku nggak mau!" Marsha melempar barang itu jauh-jauh. "Lakukan tanpa itu kak, masa bercinta untuk pertama kali sama suami si brontosaurus dikasih masker."
Jeremy terkekeh, dia belai pipi Marsha lalu memberi syarat,"Tapi jangan menjerit lagi."
"Aku takut!"
"Aku akan pelan-pelan."
Marsha mengangguk. Sayangnya, Jeremy harus memulai lagi dari awal. Dia memberi rangsangan ke gadis itu lagi, benar-benar perjuangan untuk mendapat nikmat duniawinya ini.
"Apa yang mau kakak lakukan?" tanya Marsha melihat Jeremy hendak mencurukkan kepala ke bawah sana.
"Sudah lah, apa keponakan kakek sugiono tidak pernah melakukannya? Kamu pasti sudah pernah melihat. Lagi pula sayang jika aku tidak menikmati hasil dari spa annumu."
"Itu model full Brazilian, Kak! Kalau kakak tidak suka, masih ada banyak model. Tunggu dia tumbuh lagi dulu."
Jeremy kembali terkekeh, malam pertamanya penuh negosiasi layaknya hendak melakukan sebuah kesepakatan.
Mereka kembali bergulat, menyesap bibir satu sama lain, hingga....
Dasar Marsha, dia menjerit lagi bahkan menangis saat si brontosaurus milik sang suami menembus miliknya. Jeremy jelas merasa bersalah, tapi dengan penuh kasih pria itu mengecup keningnya lalu bibir. Dia pun mengusap air mata yang menetes di pipi sang istri sambil menggerakkan perlahan pinggangnya.
Marsha masih saja merintih, hingga tumbukan konstan dari sang suami perlahan membuatnya rileks dan nyaman. Ia mendesah hingga menyunggingkan senyum karena kini rasanya mulai menyenangkan.
Melihat Marsha yang mulai menikmati, Jeremy pun senang, dia bisa tenang dan semakin menenggelamkan makhluk purbanya ke lembah surga. Ia merasa milik Marsha serasa memijat lembut di bawah sana. Hingga si brontosaurus dibuat pusing sampai mabuk tak berdaya.
"Masih sakit?"
"Sedikit."
"Maaf ya!"
"Nggak masalah, aku mau lagi!"
__ADS_1