Pernikahan Tak Terduga : UNEXPECTED MARRIAGE

Pernikahan Tak Terduga : UNEXPECTED MARRIAGE
Bab 175 : Ibu Sejati


__ADS_3

Empat bulan kemudian.


Sinar matahari pagi itu mulai merayap masuk melalui celah jendela, menghangatkan ruangan yang awalnya begitu dingin karena pendingin yang semalam dinyalakan.


Marsha mulai menggeliat, tanganny meraba sisi ranjang tapi tidak menemukan yang dicari. Dia pun buru-buru membuka mata, hingga tidak mendapati Jeremy di sebelahnya.


“Kak Je ke mana?” Marsha duduk di atas ranjang, menengok ke kanan dan kiri, mencari keberadaan Jeremy tapi tidak ada di kamar.


Dengan perut yang sudah membesar, dia pun memutuskan untuk keluar kamar mencari keberadaan Jeremy yang tidak biasanya sudah bangun sepagi itu.


“Kak Je!” Marsha memanggil nama Jeremy, dia menuruni anak tangga untuk mencari suaminya di lantai bawah.


Begitu sampai di ruang keluarga, Marsha sangat terkejut melihat semua orang berkumpul di sana dan menyambutnya dengan senyum hangat.


“Selamat ulang tahun,” ucap Jeremy begitu melihat Marsha. Dia langsung menghampiri istrinya dan memeluk.


Marsha benar-benar tidak menyangka jika Jeremy dan orang rumah akan memberinya kejutan di hari ulang tahunnya. Marsha sangat terharu karena kejutan yang diterima.


“Terima kasih Kak Je,” ucap Marsha sambil membalas pelukan sang suami.


Jeremy melonggarkan pelukan, lantas mengusap pipi dan rambut Marsha penuh kasih sayang.

__ADS_1


“Selamat kepala dua sayangku, semoga segala keinginanmu terkabul tahun ini. Aku hanya bisa mengucapkan semoga hal-hal baik terus menghampirimu,” ucap Jeremy.


Marsha mengangguk, kemudian kembali memeluk Jeremy. "Terima kasi Kak, aku sangat mencintai Kakak."


“Kalian mau pelukan sampai kapan? Aku sudah ingin makan kuenya,” seloroh Rey karena Marsha dan Jeremy berpelukan tanpa henti.


Marsha dan Jeremy tertawa, lantas mereka pun memotong kue sebagai ritual perayaan ulang tahun. Pagi itu Marsha benar-benar begitu bahagia karena suaminya memberikan kejutan yang tidak pernah terpikirkan olehnya.


***


Kandungan Marsha hampir memasuki usia tiga puluh enam Minggu. Akhir-akhir ini Marsha lebih manja dan Jeremy sendiri tidak keberatan karena memaklumi kondisi istrinya. Marsha juga lebih sering kontrol untuk mengecek kondisi tubuh juga calon bayinya, karena sejak awal kehamilan dia mengalami kasus berbeda dari ibu hamil pada umumnya.


Hari itu Marsha pergi ke rumah sakit sendiri diantar sopir. Marsha tidak menggunakan layanan eksekutif, sehingga dia harus antri seperti pasien umum lainnya.


“Ibu Marsha.”


Akhirnya giliran Marsha tiba setelah beberapa pasien sebelumnya selesai diperiksa. Marsha pun masuk ke ruang pemeriksaan untuk mengecek kondisi tubuh dan kehamilannya.


Dokter Rere yang biasa menangani Marsha tampak terkejut melihat istri Jeremy itu masuk setelah beberapa pasien lainnya. Dokter itu merasa bersalah karena membuat Marsha sampai antri.


“Kenapa Anda tidak langsung masuk saja tadi? Maaf karena sudah membuat Anda menunggu,” ucap dokter Rere yang merasa tidak enak hati.

__ADS_1


Marsha mengulas senyum, lantas berkata, “Tidak apa-apa, Dok. Sekali-kali antri, ini bukan masalah besar.”


“Anda datang sendiri?” tanya dokter Rere. Biasanya kalau bersama Jeremy, Marsha pasti akan lewat jalur eksekutif.


“Iya,” jawab Marsha ketika sudah duduk. “Sebenarnya ada hal yang ingin saya keluhkan, sehingga saya memilih datang sendiri.”


Dokter Rere mengangguk dan bersiap mendengar keluhan Marsha.


“Sebenarnya beberapa hari ini saya merasa pusing, tapi saya takut cerita ke suami saya karena tidak ingin membuatnya cemas,” ujar Marsha menceritakan kondisinya.


Dokter Rere terkejut mendengar keluhan Marsha karena kondisi kehamilannya memang sangat spesial dan perlu perhatian khusus. Dokter Rere pun meminta perawat untuk mengecek tekanan darah Marsha terlebih dahulu.


“Tekanan darah Anda sangat tinggi, seharusnya Anda segera berkonsultasi dengan saya,” ucap dokter Rere.


Marsha terlihat berpikir, hingga kemudian melontarkan pertanyaan ke dokternya itu.


“Dok, apa saya bisa melahirkan secara normal? Saya ingin sekali melahirkan seperti ibu hamil pada umumnya.”


Dokter Rere semakin terkejut mendengar ucapan Marsha. Dia dan Kimi sudah membicarakan tentang persiapan dan rencana persalinan Marsha, untuk menghindari kejadian yang tidak diinginkan.


“Tapi, saya dan Bu Kimi sudah mempersiapkan persalinan yang aman untuk Anda,” ucap dokter Rere.

__ADS_1


“Saya tahu, tapi apa bisa jika saya berusaha melahirkan secara normal dulu, setidaknya saya tidak menyerah begitu saja. Apa dokter tidak bisa bantu? Kata orang, kalau tidak melahirkan secara normal, maka tidak bisa dibilang sebagai seorang ibu sejati. Saya hanya ingin menjadi seorang ibu yang berusaha melahirkan anaknya.”


"Kenapa bisa Anda berpikir seperti ini?"


__ADS_2