
Kata orang perasaan aneh ini disebut gelisah, galau, merana. Namun, bagi Jeremy apa yang dia rasakan saat ini sangat aneh. Ia yakin ini bukan tentang rasa cemburu karena jelas dia sama sekali tidak ada waktu untuk memikirkan Marsha. Jeremy meyakini perasaan anehnya ini karena sang adik kesayangan. Pria itu takut jika sampai Rey terpikat dan jatuh ke dalam jerat seorang Marsha.
Rapat yang sedang membahas pembicaraan serius sampai tidak dipedulikan oleh Jeremy. Pikiran pria itu terbagi. Tidak mudah baginya untuk berkonsentrasi pada rapat kali ini.
“Diamlah!” ucap Jeremy tiba-tiba. Jelas saja semua mata langsung memandang ke arahnya.
Jeremy tidak biasanya membentak dan bersikap seperti itu. Untuk seseorang yang profesional dengan pekerjaannya, kelakuan pria itu jelas membuat karyawannya menjadi takut. Ada apa gerangan sampai sang CEO memotong ucapan staff yang sedang melakukan presentasi.
Jeremy kikuk, dia tahu sudah membuat kesalahan lalu berdehem untuk mengobati rasa canggung yang mendera. “Ah … maaf! ayo lanjutkan!” titahnya.
Wajah Karyawan yang melakukan peresentasi itu seketika pucat. Dia tidak tahu apa yang sedang terjadi dan kesalahan apa yang dibuatnya sampai menerima perlakuan seperti ini?
“Aku bilang, lanjutkan! Apa kamu tidak dengar?” Jeremy memerintah sekali lagi.
“Pak, mohon kendalikan emosi Anda.” Peter mengingatkan dengan cara berbisik pelan. Ia tak ingin suasana rapat itu mencekam bak sedang berada di persidangan.
__ADS_1
Rapat pun akhirnya dilanjutkan kembali meski keadaan di dalam sana menjadi tak begitu menyenangkan karena ulah Jeremy. Alhasil, saat selesai rapat dan kembali ke ruangan, Pater langsung mengatakan semua yang dirasakannya.
“Pak, tadi Anda benar-benar sangat tidak profesional. Saya tidak biasanya melihat Anda seperti itu. Apa yang sedang terjadi? Apa tentang pernikahan Anda yang akan digelar sebentar lagi?” tanya Peter. Dia bisa merasakan bagaimana suasana saat rapat tadi sangat berbeda.
“Mana mungkin?” elak Jeremy. “Sudah Jangan bertanya! Aku tidak ingin menambah beban pikiran.”
Peter tak percaya, dia mengerucutkan bibir mencibur Jeremy, Menurutnya tidak masuk akal jika atasannya itu marah tanpa sebab. Jiwa keingintahuan Peter pun meronta, hingga dia memilih bertanya.
“Ah …. apa ini Pak Jeremy yang saya kenal? Maaf kalau saya lancang. Hanya saja, setelah bertahun-tahun bekerja dengan Anda baru kali ini Saya mendapati tingkah Anda yang aneh. Dan juga tidak biasanya Anda memainkan ponsel selama rapat. Tadinya saya pikir ….”
“Sudah cukup omelanmu itu! Kamu seperti emak-emak yang sedang memarahi anaknya. Hentikan itu!” Titah Jeremy, sedikit merasa tidak senang karena tingkah sang sekretaris.
Jeremy pun menyunggingkan senyum jemawa lalu berkata, “Perhatikan batas di antara kita. Kamu hanya perlu fokus dengan pekerjaanmu dan tak perlu mengurusi hal-hal yang di luar itu, apa lagi gayaku.
Peter terbungkam. Mau bagaimana lagi, meski di luar mereka berteman baik, tapi tetap saja di kantor pria itu adalah atasannya.
__ADS_1
Namun, tak Peter sangka ucapannya berhasil membuat Jeremy berpikir. Pria itu terdiam sejenak dan mulai menelaah apa yang baru saja diperbuatnya. Jeremy sadar, memang seharusnya kejadian tadi tidak terjadi saat sedang rapat. Beberapa orang di sana bisa melihatnya sebagai sosok arogan dan tidak profesional.
“Kita adakan rapat lagi minggu depan. Banyak hal yang perlu diperbaiki. Meski seolah tidak fokus, tapi bukan berarti aku tidak menyimak apa yang dipresentasikan. Masih banyak yang kurang. Minta bagian pemasaran untuk presentasi ulang.”
“Baik, Pak. Akan saya lakukan sesuai perintah Anda.” Peter menunduk, ekspresi wajah sekretaris itu berubah dan membuat Jeremy merasa tak enak hati.
“Peter, aku tidak suka kalau kamu langsung bersikap seperti ini,” ucap Jeremy. “Apa kamu mau aku traktir makan barbeque?” bujuknya merayu.
_
_
_
Untuk sementara UP malam ya
__ADS_1
aku kerja RL dan fokus dulu ke apk berbayar
mohon pengertiannya 🙏