
Kimi diam-diam mengirimkan pesan ke Jeremy untuk menemuinya di ruang kerja. Dia berpesan agar sang menantu tidak memberitahu Marsha.
“Aku keluar sebentar,” kata Jeremy pamit ke Marsha.
“Kak Je mau ke mana?” tanya Marsha.
“Beli kopi sebentar di kantin, nanti langsung balik,” jawab Jeremy berbohong, kemudian mengusap kepala sang istri.
Marsha mengangguk paham, lantas mengizinkan suaminya pergi.
Jeremy pun bergegas ke ruangan Kimi, di sana ternyata sudah ada Kimi dan dokter kandungan yang menangani Marsha.
“Duduk sini, Je.” Kimi memersilakan Jeremy duduk di sofa yang berada di sana.
Pria itu pun duduk, menatap Kimi dan dokter kandungan dengan perasaan was-was. Dia sudah bisa menebak jika pasti ada sesuatu yang terjadi, hingga Kimi pun memintanya datang tanpa memberitahu Marsha.
“Apa ada masalah, Mi?” tanya Jeremy membuka percakapan.
“Hasil tes lab Marsha sudah keluar,” jawab Kimi.
Kimi pun meminta dokter kandungan untuk menjelaskan secara langsung hasil tes sang putri ke Jeremy.
“Hasil labnya baru saja keluar, saya langsung memberitahukan ke Dokter Kimi. Baru kemudian memutuskan untuk membicarakan hal ini dengan Anda,” ujar dokter kandungan.
Jeremy terdiam, mendengarkan apa yang akan dijelaskan oleh dokter.
__ADS_1
“Kandungan protein dalam urine istri Anda sangat tinggi, hal ini mengakibatkan tekanan darah dan menjurus ke preeklamsia,” ujar dokter menjelaskan.
Jeremy terlihat bingung mendengar penjelasan dokter, hingga dia pun bertanya, “Apa itu preeklamsia?”
“Preeklamsia itu kelainan dalam kehamilan. Untuk penyebabnya sendiri sampai sekarang belum diketahui pasti. Kondisi ini diduga terjadi akibat kelainan perkembangan plasenta yang tidak bisa bekerja semestinya, menyebabkan pembuluh darah menyempit, muncul reaksi yang berbeda dari tubuh ibu hamil karena adanya perubahan hormon. Akibatnya terjadi gangguan kesehatan untuk ibu dan calon bayi.”
Jeremy terdiam mendengarkan penjelasan dokter, masih tidak percaya jika ada penyakit tanpa penyebab.
“Pasti ada penyebab pasti yang membuat kelainan itu terjadi. Mana mungkin ada penyakit tanpa pemicu,” ujar Jeremy yang masih tidak bisa memahami penjelasan dokter.
Kimi sendiri memilih diam, hingga dokter pun menjelaskan lagi.
“Sebenarnya kalau dilihat dari kasus ini, bisa jadi umur dan kehamilan pertama yang memicu kelainan ini terjadi.”
“Apa ada solusi untuk menanganinya? Aku harus apa agar Marsha dan bayinya baik-baik saja?” tanya Jeremy sedikit panik.
Jeremy mengangguk, apa pun akan dilakukan demi menyelamatkan Marsha dan calon anak mereka.
“Untuk sekarang, pasien bisa pulang. Namun, tetap harus menjaga kesehatan dan pastikan agar tidak terlalu banyak tekanan,” ujar dokter lagi.
Setelah menjelaskan semuanya, dokter pun pamit meninggalkan ruangan. Jeremy masih di sana dengan bola mata berkaca, tidak menyangka jika kehamilan Marsha akan mengalami kelainan seperti ini.
Jeremy menoleh Kimi, melihat mertuanya itu memijat kening. Jeremy merasa bersalah, semua yang terjadi karena dia yang tidak mengikuti pesan Kimi sejak awal.
“Mi, aku minta maaf,” ucap Jeremy penuh penyesalan.
__ADS_1
Kimi menjauhkan tangan dari kening, lantas menatap Jeremy yang sudah memandangnya.
“Kamu tidak perlu memikirkan hal itu, yang terpenting sekarang adalah bagaimana agar kemungkinan terburuk tidak terjadi,” ujar Kimi.
***
Jeremy keluar dari ruangan Kimi untuk kembali ke kamar Marsha. Saat sedang berjalan, dia sekaligus mencari artikel tentang preeklamsia.
Hingga langkah Jeremy terhenti saat menemukan beberapa penjelasan tentang preeklamsia yang sebenarnya isinya sama.
Jeremy terduduk di kursi selasar panjang yang ada di sana, tidak sanggup menemui Marsha terlebih jika memberitahukan tentang kondisi istrinya itu.
Sementara itu di kamar inapnya, Marsha sesekali menengok ke pintu kamar. Dia menunggu Jeremy yang berkata ingin membeli kopi tapi tidak kunjung kembali. Marsha pun akhirnya memutuskan turun dari ranjang, hendak mencari suaminya di kantin rumah sakit.
Saat baru saja membuka pintu untuk keluar, Marsha melihat Jeremy yang berdiri di hadapannya, ternyata Jeremy juga berniat membuka pintu, tapi Marsha sudah terlebih dahulu membukanya.
“Katanya hanya beli kopi, kenapa lama sekali?” tanya Marsha dengan bibir mengerucut. “Kak Je pergi menemui Mami, ya?” tanya Marsha lagi.
Jeremy terkejut mendengar pertanyaan Marsha.
“Kok kamu tahu kalau aku ketemu Mami?” tanya Jeremy balik.
“Aku bertanya ke perawat yang tadi masuk untuk memeriksa. Dia bilang melihat kakak pergi ke ruangan Mami. Makanya aku tahu,” jawab Marsha.
“Apa kak Je ke ruangan Mami karena bertanya soal kondisiku? Bagaimana hasilnya?” tanya Marsha kemudian.
__ADS_1
“Kamu baik-baik saja, bahkan sekarang boleh pulang,” jawab Jeremy berbohong soal kondisi Marsha yang sebenarnya.