
“Sebenarnya, mau Sesar atau normal. Seorang wanita yang melahirkan, tetaplah disebut ibu. Tidak ada bedanya sama sekali,” ujar dokter Rere menjelaskan.
Marsha hanya diam mendengarkan penjelasan, tak ada sedikitpun niatnya untuk membantah.
“Begini saja, kita lihat dulu kondisi ibu dan bayinya, jika semua memungkinkan kita usahakan normal,” ujar dokter Rere lagi untuk menenangkan pikiran Marsha.
Setelah mendengarkan penjelasan serta menerima resep dari dokter Rere, Marsha pun keluar dari ruangan periksa. Ia masih terus memikirkan ucapan dokter, bahkan Marsha berjalan di koridor rumah sakit tanpa memperhatikan sekitar. Dia sedikit tidak percaya dengan ucapan dokter itu.
“Bukankah seharusnya bayi lahir dari jalannya, kalau lewat jalan lain, bukankah itu tidak sah?"gumam Marsha memikirkan ucapan dokter Rere.
***
Setelah praktek di poliklinik selesai, dokter Rere pergi menemui Kimi untuk memberitahukan kedatangan Marsha hari itu. Ia yakin Kimi pasi tidak tahu.
“Putri Anda tadi memeriksakan kondisi kandungannya, saya merasa dia tidak memungkinkan untuk melahirkan secara normal. Saya sudah menjelaskan kalau sesar adalah jalan yang paling aman untuknya melahirkan, tapi tampaknya dia kurang bisa menerima. Meski saya mencoba menghibur jika boleh berharap melahirkan dengan normal, tapi saya pun tidak yakin dengan hal itu,” ujar dokter Rere.
“Lalu, bagaimana menurutmu yang selama ini menangani kondisi Marsha?” tanya Kimi meminta pendapat
“Saya sendiri menyarankan agar Marsha segera melakukan operasi saja. Saya sudah mengecek keseluruhan kondisi kandungannya, dan janin di rahimnya sudah cukup siap untuk dilahirkan."
Kimi terlihat berpikir sejenak, kemudian berkata, “Aku akan memberitahu hal ini ke suaminya dulu.”
Dokter Rere pun mengangguk dan menunggu keputusan yang akan diambil oleh pihak keluarga.
__ADS_1
Namun, ternyata setelah perbincangan itu Kimi memiliki jadwal operasi penting yang harus dilakukan, sehingga dia belum sempat menghubungi sang menantu.
***
Sore harinya Marsha tiba-tiba merasa begitu mual. Bahkan tak sampai ke kamar mandi, dia lebih dulu mengeluarkan isi perutnya. Di saat bersamaan, Marsha juga merasakan kram di perutnya hingga wajahnya begitu pucat.
Rey yang kebetulan baru saja pulang, melihat Marsha yang membungkuk sambil memegangi perut, belum lagi di lantai ada bekas muntah Marsha.
Rey pun panik dan langsung menghampiri Marsha untuk melihat kondisinya.
“Sya, apa yang terjadi?” tanya Rey panik.
Marsha menggeleng sambil memegangi perut.
“Perutku sakit.” Marsha memekik kesakitan sambil terus memegangi perutnya.
“Kak, Marsha muntah dan mengatakan perutnya sakit! Kamu di mana?” tanya Rey panik, satu tangan memegang lengan Marsha untuk menopang tubuh kakak iparnya itu.
“Apa? Aku baru saja akan pulang, kamu bawa Marsha ke rumah sakit, aku akan menyusul ke sana!” Suara Jeremy terdengar begitu panik dari seberang panggilan.
Rey pun buru-buru memapah Marsha menuju mobil dan langsung membawanya ke rumah sakit milik Kimi.
Begitu sampai di UGD, dokter jaga dan perawat langsung panik serta kebingungan melihat kondisi Marsha yang hampir tidak sadarkan diri. Mereka langsung mengecek kondisi Marsha, hingga diketahui jika tekanan darah Marsha mencapai dua ratus.
__ADS_1
Dokter Rere segera dipanggil ke UGD, setelah mengecek kondisi Marsha, dia pun bicara dengan Rey yang mengantar Marsha ke UGD.
“Kondisinya tidak stabil, saya butuh persetujuan untuk operasi karena tekanan darahnya sangat tinggi. Di mana suaminya? Saya butuh persetujuan dari suami,” kata dokter Rere ke Rey.
Rey pun kebingungan karena Jeremy belum datang, lantas memilih mencoba menghubungi kembali sang kakak, tapi sayangnya tidak diangkat.
“Ada apa?” Kimi muncul di UGD setelah perawat memberitahu kalau putrinya masuk UGD.
“Dokter Kim, saya butuh persetujuan untuk operasi persalinan pasien,” kata dokter Rere, tidak lupa dia juga menjelaskan kondisi Marsha.
“Lakukan, aku yang akan bertanggung jawab,” perintah Kimi karena Jeremy tidak ada di sana.
Begitu mendapatkan persetujuan, dokter Rere pun menginstruksikan agar Marsha segera dibawa ke ruang operasi.
“Kamu tunggu di sini, jika Jeremy datang, katakan Marsha sedang melakukan persalinan,” ucap Kimi ke Rey.
Rey pun mengangguk menuruti instruksi Kimi.
Kimi sendiri memilih menemani Marsha di ruang operasi, dia harus memastikan putrinya baik-baik saja.
Semua persiapan operasi dilakukan dengan cepat, semua dokter dan perawat termasuk Kimi sudah siap melakukan operasi begitu bius bekerja.
Kimi begitu cemas, menatap Marsha yang sudah lemas.
__ADS_1
Dokter Rere bersiap melakukan operasi, tangannya sudah memegang pisau untuk menyayat bagian yang digunakan untuk mengeluarkan bayi Marsha. Hingga saat dokter Rere baru membuat sayatan, tiba-tiba mesin EKG Marsha menunjukkan ke kondisi abnormal, membuat semua tim di ruang itu panik.
“Apa yang terjadi?” Kimi ikut panik dan ketakutan.