
“Kak Je, kenapa obatnya semakin banyak?” tanya Marsha saat melihat obat dari rumah sakit semakin bervariasi.
Marsha sudah pulang dan hendak meminum vitaminnya seperti biasanya, tapi heran karena obat yang diberikan Jeremy semakin banyak.
“Ini hanya vitamin tambahan,” jawab Jeremy berbohong.
Marsha merasa curiga dan aneh, dia hanya mengeluh sakit kepala, tapi kenapa obatnya sangat banyak.
“Kak Je, apa sebenarnya ada masalah dengan kandunganku?” tanya Marsha merasa ada yang tidak beres.
Jeremy terkejut mendengar pertanyaan Marsha, tapi mencoba sebisa mungkin menutupinya.
“Nggak ada, ‘kan aku sudah bilang kalau semuanya baik-baik saja,” jawab Jeremy sambil memulas senyum.
"Nggak mungkin nggak kenapa-napa tapi aku disuruh minum obat sebanyak ini. Biasanya juga hanya tiga jenis, kenapa ini sampai ada enam. Kakak nggak mau jujur ke aku?” tanya Marsha yang masih tidak percaya.
Jeremy masih menutupi, dia tidak ingin Marsha sedih kalau sampai tahu kondisi yang sebenarnya.
“Aku merasa ada yang tidak beres, Apa Kak Je nggak mau bercerita?” Marsha terus mendesak agar Jeremy jujur.
Jeremy akhirnya tidak punya pilihan karena Marsha terus memaksa, hingga akhirnya dia menceritakan yang terjadi.
“Sebenarnya kamu terkena preeklamsia, Sya.”
"A-apa itu kak?"
Marsha yang bertanya-tanya memilih meraih ponsel dan mengetikkan kata itu di gulugulu. Ia sangat terkejut membaca penjelasan di sana, apalagi saat Jeremy menyebutkan alasan Marsha terkena preeklamsia sesuai dengan yang dokter terangkan. Ia syok, hingga tanpa sadar buliran kristal bening luruh dari kelopak matanya. Marsha menatap Jeremy dengan air mata yang terus mengalir di pipi.
“Kenapa bisa begini?” Marsha menangis, dia takut dan sedih.
__ADS_1
“Jangan menangis! aku yakin semuanya pasti akan baik-baik saja,” ucap Jeremy mencoba menenangkan.
“Kak Je, jika nantinya Kakak diminta memilih antara aku atau bayi kita, aku ingin Kakak memilih bayi kita,” ucap Marsha sesenggukan.
Jeremy terkejut karena Marsha mengatakan hal seperti itu, dia pun meraih tubuh sang istri dan memeluknya erat. Marsha juga membalas pelukan Jeremy, menenggelamkan wajahnya yang basah di dada bidang Jeremy.
“Kamu dan anak kita pasti baik-baik saja. Aku janji akan menjaga kalian dengan baik, jadi tolong jangan sedih karena bisa membuatmu semakin tertekan dan memperburuk kondisimu,” ucap Jeremy mencoba menenangkan Marsha. Gadis itu tidak bicara apa-apa, memilih larut dalam kesedihan di pelukan Jeremy.
***
Malam itu, saat Marsha sudah tidur, Jeremy pergi ke ruang keluarga dan menemui Cantika juga Rey.
“Jadi seperti itu kondisinya, saat ini aku hanya bisa berusaha untuk menjaganya."
Jeremy menceritakan apa yang sebenarnya terjadi dengan Marsha. Ia membuat Cantika dan Rey saling tatap, mereka tak menyangka Marsha akan mengalami hal itu.
Hari berikutnya, Marsha terlihat bangun lebih awal dan sudah keluar dari kamar. Ternyata dia keluar ke teras samping dan duduk di sana.
Rey yang juga baru saja bangun, melihat Marsha di kursi yang terdapat di teras, membuat pria itu mendekat dan duduk di samping Marsha.
“Lagi ngapain?” tanya Rey sambil menatap sang kakak ipar.
“Nunggu matahari terbit, sekalian nyari udara segar,” jawab Marsha, dia menoleh Rey dan mengulas senyum.
“Kak Je semalam sudah cerita tentang kondisimu, aku harap kamu kuat dalam menghadapinya dan terus berjuang. Aku yakin kalau kalian baik-baik saja sampai proses persalinan,” ucap Rey.
Marsha tersenyum mendengar ucapan Rey, lantas menganggukkan kepala.
Setelah puas duduk di teras, Marsha kembali ke kamar dan mendapati Jeremy sudah bangun.
__ADS_1
“Kamu dari mana?” tanya Jeremy.
“Dari teras, nyari udara segar,” jawab Marsha.
“Kak, aku sudah memutuskan. Aku akan cuti kuliah untuk sementara waktu, bagaimana menurut Kakak?” tanya Marsha meminta pendapat.
Awalnya Jeremy terkejut mendengar hal itu, tapi dia tahu sang istri pasti memutuskannya karena mengingat kondisi kehamilan saat ini.
“Kalau kamu meresa itu pilihan yang baik, aku pasti setuju,” ucap Jeremy mengiakan.
***
Marsha pun ke kampus untuk mengajukan cuti, dia bertemu dengan Zie dan menyampaikan maksudnya ke sahabatnya itu.
“Aku akan ambil cuti selama hamil, Zie.”
“Kenapa? Apa ada masalah?” tanya Zie. Ia cukup terkejut mendengar kabar dari Marsha.
“Tidak ada, hanya saja ingin fokus ke kandunganku saat ini,” jawab Marsha sambil mengulas senyum.
“Aku sedang butuh banyak istirahat,” imbuh Marsha.
“Apa kamu yakin hanya karena butuh istirahat? Kenapa aku merasa aneh?”
“Iya, karena memang ingin fokus dengan kehamilan sampai lahiran,” jawab Marsha meyakinkan.
Meski Marsha mengatakan jika tidak ada apa-apa, tapi Zie tetap tidak percaya dan curiga.
"Ada apa Sya, apa kamu tidak mau bercerita ke aku?"
__ADS_1