
Marsha pun mengobrol dengan Andro di depan kafe, keduanya duduk di kursi yang terdapat di sana. Sesekali Marsha melirik cowok di depannya itu dengan ekor mata.
“Aku sebenarnya masih marah sama kamu,” ketus Marsha sambil bersedekap dada dan memalingkan wajah dari Andro.
“Aku minta maaf, Sya.” Andro menatap Marsha yang memalingkan wajah, berharap gadis itu mau memaafkan kesalahannya.
Marsha mendengkus kasar mendengar ucapan cowok yang sekarang status hubungan dengannya abu-abu itu. Marsha masih tak percaya dirinya selama ini dibohongi dan hanya dimanfaatkan.
“Kamu jangan ge-er ya, karena aku masih menggantung status hubungan kita. Aku tuh sebenarnya sudah mau putus darimu, tapi aku tidak mau diledek Uncle Jerami jomlo,” ujar Marsha.
Ia masih tidak mau memandang Andro. Gadis itu sengaja belum meminta putus demi menjaga harga dirinya di hadapan Jeremy. Marsha berpikir, pria yang belum ada satu bulan menjadi suaminya itu pasti akan meledeknya habis-habisan jika dia putus betulang dengan Andro sekarang.
Andro pun akhirnya hanya diam mendengarkan, dia sudah tak punya ide untuk membuat Marsha percaya lagi kepadanya. Bahkan bekerja pun tak membuat Marsha percaya jika dia sudah tidak mata duitan, Kini Andro hanya bisa menjalani hidup dan berusaha sendiri setelah Zie berhasil membuka mata Marsha atas keburukanya.
__ADS_1
“Kamu bilang mau bayar hutang, ‘kan?” tanya Marsha mengingatkan maksud Andro memintanya datang.
“Iya,” jawab Andro dengan suara lemah, bukan karena kehilangan uang untuk membayar apa yang sudah diambilnya dari Marsha, tapi karena gadis itu bersikap jutek terhadapnya.
Andro mengeluarkan amplop coklat dari saku kemeja, kemudian meletakkan ke meja dan mendorong ke arah Marsha menggunakan telunjuk.
“Aku nyicil dulu, nanti kalau ada lagi, aku pasti nyicil lagi,” ucap Andro. Dia bersungguh-sungguh berubah serta berharap hati Marsha kembali terbuka untuknya.
Andro pun mengangguk saat mendengar ucapan Marsha. Berpura-pura berubah adalah strategi Andro untuk mendapatkan kembali hati gadis itu. Dia melihat Marsha berjalan ke parkiran, hingga sadar jika gadis itu mengemudikan mobil baru.
***
Marsha sampai rumah Cantika bersamaan dengan Jeremy yang baru saja pulang kerja. Jeremy lembur karena menyiapkan segala kesepakatan dengan Tuan Kevin koleganya yang amat sangat penting dan berharga. Mereka sama-sama memarkirkan mobil di depan garasi, tapi mobil Jeremy berada di belakang mobil Marsha.
__ADS_1
“Dari mana kamu?” tanya Jeremy saat Marsha baru saja turun.
Marsha sebenarnya terkejut, tapi mencoba menutupi. Dia lantas menoleh dan melihat Jeremy yang sudah memandangnya curiga. Marsha bersikap tak acuh, lantas memilih buru-buru masuk menuju kamar.
“Dasar anak itu.”
Jeremy tidak terkejut dengan sikap Marsha, melihat gadis itu masuk begitu saja dan mengabaikan pertanyaannya. Dia hanya geleng-geleng kepala lalu berjalan masuk.
Saat sampai di kamar, Jeremy melihat koper milik Marsha yang diletakkan di samping sofa. Bibirnya pun menipis, dia tersenyum karena ternyata Marsha sangat antusias untuk pergi meski terlihat cuek. Hingga tatapannya tertuju pada paper bag yang ada di atas meja. Bola mata Jeremy membulat lebar ketika melihat kutang berenda yang menyembul keluar dari paper bag karena dalam posisi tergeletak.
Jeremy menatap benda pribadi milik Marsha itu, meski heran tapi dia memilih menyimpannya dalam hati dan tak mengutarakannya.
“Apa dia menyiapkan dalaman baru karena mau honeymoon?”
__ADS_1