
Ikatan batin seorang ibu yang mengandung dan melahirkan buah hatinya tentu tidak bisa dianggap remeh. Begitu juga dengan Kimi, setiap hal buruk yang sedang atau akan menimpa putrinya, dia pasti mendapat firasat yang tak bisa dia sepelekan begitu saja.
Pernah satu ketika saat Marsha berumur tiga tahun, bocah itu hampir tenggelam di kolam renang rumah Nova. Kimi yang menitipkan anaknya ke sang mertua untuk membuat susu tiba-tiba menyenggol botol susu Marsha hingga jatuh dan retak, dia pun seketika keluar mencari keberadaan sang putri. Dan benar saja Marsha kecil lolos dari pengawasan omanya dan tercebur ke kolam.
Hal seperti itu terus berulang, hingga terakhir kali dia hendak menjahit luka pasien saat shift malam dan tiba-tiba menyenggol wadah stainles yang berada tak jauh darinya. Di malam itu, tragedi kutang yang melibatkan Jeremy dan Marsha terjadi, meski Kimi merasa sedikit mustahil putrinya berbuat macam-macam, tapi sebagai ibu dia tidak ingin berspekulasi.
Dan sekarang terulang lagi, Kimi memijat kening di depan meja guru BK sekolah Marsha. Kemarin dia mendapat surat, dan entah sudah yang keberapa kali selama Marsha duduk di bangku SMA.
Putrinya itu memang luar biasa, entah dulu ngidam apa dia saat hamil sehingga anak itu terlahir jauh dari bayangannya. Sifat Marsha sangat jauh berbeda dari sifatnya dan Richie, mungkin sifat Marsha ini turunan dari Nova atau Sara. Kimi juga tidak tahu, yang jelas dia bisa menggaransi bahwa Marsha adalah putri kandungnya.
“Kali ini apa lagi Sha?”
Kimi mengingat pertanyaan Richie saat sang putri memberikan surat dengan kop sekolahnya. Gadis itu hanya menekuk bibir dan meminta salah satu dari mereka datang besok.
“Aku belajar biologi saat pelajaran matematika, jadi guruku marah.”
“Kenapa bisa? seharusnya tidak perlu memberi surat jika hanya hal sepele seperti itu.”
__ADS_1
Kimi memejamkan mata mengingat pembelaannya ke sang putri kemarin. Lisannya tak bisa berkata saat sang guru BK menunjukkan bagian belakang buku tulis milik Marsha.
“Anak itu, apa ini pelajaran biologi yang dia sebutkan kemarin?” gumam Kimi dalam hati.
Geli-geli kesal Kimi rasakan, ingin rasanya dia jitak kepala anak semata wayangnya itu yang kini sedang menunggu tepat di luar ruangan BK.
Kimi pun tertawa seperti orang bego, dia pura-pura tidak tahu apa yang digambar putrinya. “Apa ini Bu?” tanyanya ke sang guru BK.
“Penampang alat kelamin jantan,” jawab guru BK itu dengan mantap.
Kimi pun mengatupkan bibir, pikirannya menjadi buruk ke sang putri. Bukankah ini artinya Marsha tidak mendengarkan penjelasan sang guru, tapi malah membayangkan hal berbau plus dua satu.
“Mi, apa aku dikeluarkan dari sekolah? Apa aku tidak bisa ikut ujian?” cecar Marsha.
Kimi yang kesal terus melangkahkan kaki, sampai di dekat mobilnya barulah dokter cantik itu berhenti dan menatap tajam anaknya.
“Kamu harus segera dinikahkan Marsha, otakmu benar-benar sudah tidak benar bagaimana bisa kamu menggambar boa saat pelajaran matematika?” amuk Kimi.
__ADS_1
Marsha malah terlihat bingung, karena dirinya sama sekali tidak merasa menggambar ular. Hingga gadis itu menduga-duga dan memberanikan diri bertanya. “Apa papi memberi nama miliknya boa?”
Kimi semakin megap-megap. Ia pegangi dadanya, setelah itu menggunakan buku tulis Marsha yang masih berada di tangan untuk memukul lengan sang putri.
“Marsha kamu sepertinya harus dirukiyah.”
“Apa kita akan ke rumah tante Mina?”
Kimi semakin ingin menenggelamkan diri ke dalam rawa-rawa, dia lupa bahwa nama pembantu saudarinya adalah Rukiyah.
“Sudahlah Marsha, kamu memang harus dinikahkan segera.”
_
_
_
__ADS_1
Scroll ke Bawah 👇