Pernikahan Tak Terduga : UNEXPECTED MARRIAGE

Pernikahan Tak Terduga : UNEXPECTED MARRIAGE
Bab 3 : Kesialan


__ADS_3

“Jadi itu tadi laki-laki yang mau dijodohin sama kamu?”


Marsha menjawab dengan anggukan kepala dan bibir manyun, sedangkan cowok yang memboncengnya terlihat mengangguk lalu membentuk huruf O dengan bibir.


“Beli bensin dulu ya,” ucap cowok itu sambil menekan tombol lampu sign ke kiri, dia berbelok ke sebuah stasiun pengisian bahan bakar.


Marsha dan cowok itu cukup lama mengantri sampai tiba giliran dan Marsha pun turun dari boncengan, dia mengekor cowok bernama Andro - yang tak lain adalah pacarnya. Marsha bergegas mengeluarkan sebuah kartu untuk membayarkan BBM yang dibeli sang pacar, meski Andro sudah mengeluarkan uang. Tingkah dua remaja itu membuat petugas SPBU bingung karena mereka berebut untuk membayar.


“Sudah Ayank, tidak usah! Biar aku yang bayar, kalau uang jajanku bulan ini tidak habis maka bulan depan akan dikurangi Papi,” ujar Marsha dengan penuh kesungguhan dan nada suara manja.

__ADS_1


Andro tersenyum dan kembali memasukkan uang pecahan lima puluh ribuan miliknya ke dalam kantong celana. Setelah itu dia mendorong motornya sedikit menjauh. Keduanya kembali berboncengan dan pergi, setelah beberapa menit menjelajah aspal jalanan, tanpa sengaja Marsha melihat satu sosok di pinggir jalan dengan wajah nampak emosional.


“Heh … kenapa dia?” gumam Marsha saat melihat dengan jelas Peter sedang berdiri dengan gesture menenangkan, mata gadis itu menyipit kemudian tersenyum mencibir melihat Jeremy yang mengepalkan tangan meremas udara, tak berapa lama pria itu menendang-nendangkan kakinya.


“Astaga apa dia kena ayan?” pundak Marsha mengedik, hingga Andro menoleh dan bertanya ada apa. Cowok itu tidak tahu apa yang baru saja Marsha lihat karena fokus melihat jalanan di depan.


“Tidak ada kok tidak ada apa-apa,” jawab Marsha, dia tidak mau Andro kehilangan kepercayaan atas cintanya.


***

__ADS_1


Diam seribu bahasa, bahkan muka Jeremy berubah sangat masam. Peter mendengkus lalu menggosok hidung. Meski sudah dibersihkan tapi bau tai itu masih saja tercium. Hingga Peter meminta izin ke sang atasan yang selama lima tahun ini dia layani.


“Pak, apa boleh saya membuka jendela?”


Peter melihat Jeremy mengedip. Ia pun membuka semua semua kaca jendela, meski ujung-ujungnya harus ditutup lagi karena Jeremy terganggu dengan bau asap kendaraan dari luar.


Beberapa menit kemudian, akhrinya mereka tiba di lobi perusahaan bernama J Corp - di mana Jeremy menjabat sebagai CEO di sana. Baru saja turun, tapi kesialan kembali menimpa Jeremy. Tanpa ada angin topan dan hujan badai, atap lobi tiba-tiba saja ambrol, beruntung semua orang yang berada di sana berhasil menyelamatkan diri. Jeremy melotot, dia ketakutan bahkan kedua tangannya tertekuk di depan dada. Wajahnya nampak syok, begitu juga Peter yang seketika teringat cerita sang atasan perihal perjodohan dengan Marsha.


“Pak, sepertinya Anda memang harus menikah dengan gadis itu, jika boleh berpendapat sepertinya hanya itu satu cara agar kesialan tidak terus menimpa Anda.”

__ADS_1


Mata Jeremy mengerjab, sepertinya dia harus mengadakan ruwatan dan mandi kembang tujuh rupa.


__ADS_2