
Marsha bangkit, entah kenapa dia selalu kesal jika Andro dijelek-jelekkan. Dari pada suasana hatinya hancur, gadis itu memilih untuk mengambil minuman, dan kebetulan dia melihat tetangga depan rumah tantenya sedang mengambil minum di stand yang sama. Jiwa usil Marsha pun seketika meronta-ronta melihat pria bernama Kelana itu tersenyum sendiri.
“Om tersenyum sama siapa?”
Pria itu menoleh kaget, entah kenapa mukanya berubah masam saat melihat Marsha. Mungkin karena pertemuan pertama mereka yang kurang menyenangkan hingga pria itu menganggap Marsha adalah biang kerusuhan.
“Bukan urusanmu,” ketus pria bernama Kelana itu.
“Ganteng sayang galak,” cibir Marsha.
“Cantik tapi mulutnya tidak bisa dijaga.”
Marsha kaget dia bahkan tak bisa langsung membalas ucapan pria itu. Namun, bukannya marah gadis itu malah memukul lengan pria lawan bicaranya bertubi-tubi. Marsha bahkan meletakkan gelas ke meja dan menutup mulutnya dengan ke dua tangan, setelahnya berucap, “Astaga naga, akhirnya aku menemukan laki-laki bermulut pedas selain Om Jerami.”
__ADS_1
“Apa maksudmu?” tanya pria itu dengan kening terlipat halus.
Marsha pun tak menjawab, dia memilih menghindar dan mendekati Rey. Ia bahkan mengeluarkan ponsel dan mengambil beberapa gambar bersama.
“Jangan kamu post di sosial media, aku takut ada yang tidak berkenan,” ucap Rey.
“Kamu malu ya punya calon kakak ipar seperti aku,” ujar Marsha dengan raut wajah yang sangat sedih. Melihat itu Rey pun menggoyangkan ke dua tangannya untuk menolak.
“Bukan-bukan, hanya saja apa kata orang jika tahu kamu calon istri kakakku dan kita dekat.” Rey agak sedikit tak enak mengucapkan hal itu, tapi mau bagaimana lagi, dia memang merasakannya.
Rey pun cengo. Ia sudah bertahun-tahun tinggal di luar negeri, jadi tidak tahu apa yang dimakud oleh Marsha.
“Sudahlah tidak usah dipikirkan,” ucap Marsha pada akhirnya. Gadis itu lantas menoleh ke tengah ruangan di mana orang-orang sudah mulai menari saat musik Bollywood didendangkan.
__ADS_1
Ide jahil pun terlintas di pikiran Marsha, dia menoleh ke sana kemari mencari keberadaan Jeremy. Hingga saat dia menemukan pria itu sedang berbincang dengan sang papi, Marsha pun langsung mendekat.
“Kak, ayo menari!”
Jeremy kaget, dia bahkan merasa nyawanya sedang terancam karena ajakan sang calon istri. Jeremy memilih menolak dengan gelengan kepala, tapi Marsha sepertinya tidak akan melepaskannya dengan mudah, Gadis itu mengambil gelas dari tangannya lantas meletakkan ke meja.
“Ayolah Kak, kalau tidak bisa aku akan mengajarimu,” bujuk Marsha.
Nahas bagi Jeremy, tidak ada satu pun orang yang memihak dirinya. Cantika sang nenek bahkan hanya tertawa, begitu juga dengan Rey yang sudah mendekat ke arahnya dan Marsha. Rey berharap yang ditarik-tarik oleh gadis itu adalah dirinya bukan sang kakak.
"Ayo Kak, ayo!” Marsha benar-benar memaksa, hingga Jeremy dan dirinya sudah berada di garis batas tengah ruangan. Jeremy tetap saja menggeleng, tapi Marsha terus bersikeras, hingga dengan sengaja gadis itu mendorong sang calon suami agar masuk ke lingkaran penari, tapi sayang Jeremy menariknya hingga tubuh mereka berbenturan. Tak siap untuk menjadi tumpuan Jeremy pun terjatuh hingga punggungnya membentur lantai dengan posisi Marsha di atas dan menindihnya.
Jeremy memejamkan mata, dia benar-benar malu dengan apa yang baru saja terjadi, terlebih gadis jahil yang menyebabkan semua ini terjadi malah bertanya seolah tanpa dosa.
__ADS_1
“Om, bagaimana kalau kita pura-pura pingsan berjamaah?"