
Andro tersenyum, dia bingung harus membalas bagaimana ucapan Marsha. Yang pasti dia tidak ingin menunjukkan rasa bahagia ke gadis itu.
“Kamu pasti akan jatuh cinta padanya karena dia bisa memberimu segalanya,” ucap Andro dengan mimik kecewa.
“Tenang saja! aku tidak akan mungkin mencintai bocah tua nakal sepertinya. Ia sudah tua, sudah kepala tiga, yang terpenting kita masih bisa bersama, iya ‘kan?” Marsha tersenyum riang, dia bahkan menarik pergelangan tangan Andro tanpa rasa malu.
“Kamu pasti belum sarapan? ayo kita sarapan,” ajaknya dengan semangat enam sembilan. "Aku akan mentraktirmu."
_
_
Sementara itu, di rumah Nova dibuat berbunga-bunga lantaran sang bestie memberi kabar bahwa cucunya berkata ingin mengadakan pertemuan keluarga. Mereka tertawa cekikikan via panggilan telepon.
“Ya, baru saja Jeremy menghubungi. Dia ingin membooking sebuah restoran untuk kita akhir minggu ini.”
“Akhirnya kita akan menjadi besan bestie,” ucap Nova dengan suara riang, jika seperti ini dia merasa umurnya berkurang dan dia kembali muda lagi.
“Cita-cita kita untuk bisa menyatukan keluarga akhirnya terlaksana juga.” Cantika tak kalah bahagia. Ia bahkan menepuk-nepuk bantal sofa saking semangatnya.
__ADS_1
“Tapi … tapi, ini belum selesai. Kita harus membuat Jeremy menghamili Marsha. Kita harus memiliki cucu sebagai tanda penyatuan keluarga kita,” kata Nova yang diamini Cantika dengan satu kata ‘iya’.
“Pokoknya kamu harus semangat untuk sembuh agar bisa melihat cicit kita lahir ke dunia,” imbuh Nova. Mereka berdua sebenarnya memiliki rahasia yang tak satu pun orang tahu.
“Semangat, aku bisa sedikit tenang karena Jeremy sudah memiliki penyokong, kini tidak akan ada lagi lawan bisnis yang berani macam-macam bahkan mencelakainya karena keluarga Tyaga akan menjadi benteng bagi cucuku yang malang itu,” ujar Cantika. “Aku juga tidak perlu susah-susah mengebom mobil Jeremy.”
***
Sementara itu, pria yang mereka bicarakan sedang duduk di kursi empuknya, Jeremy menatap surat perjanjian yang sudah di tandatangani oleh Marsha. Awalnya dia pikir gadis itu akan menolak dan bahkan mendebatnya habis-habisan. Namun, Marsha malah dengan sukarela menandatangani perjanjian itu.
“Bocah itu jelas tidak bodoh. Aku tahu dia licik, lihat saja mukanya yang sok imut tapi kadang seperti nenek sihir,” gerutu Jeremy, dia tidak sadar bahwa Peter masih berada tepat di depan meja kerjanya.
“Jadi apa Anda akan menyentuhnya Pak?”
“Tentu saja!” jawab Jeremy mantap. Namun, seketika dia mendelik. Dia dongakkan kepala dan menatap Peter dengan netra yang membola. Sekretarisnya itu menahan tawa lantas menunduk.
“Apa maksudmu Ha?” amuk Jeremy.
“Maaf Pak, tidak seharusnya saya bertanya seperti itu, karena saat di toko gelato Anda sudah berkata dengan jelas akan menggaulinya. Maaf, seharusnya tidak perlu menanyakan pertanyaan yang tidak perlu karena sudah tahu jawabannya,” kata Peter.
__ADS_1
Jeremy malah semakin melotot, dia memasang muka galak seperti buto ijo karena tak suka dengan pikiran sekretarisnya itu.
“Apa kamu pikir aku pria brengsek, aku jelas terpaksa menikahinya. Bukankah ini lucu, terpaksa menikah karena kutang, apa ini masuk akal? seperti lelucon,” tanya Jeremy setengah emosi jiwa.
“Tidak Pak, pernikahan bukan lelucon. Jika Anda menikah dengan dia, artinya memang takdir sudah menggariskan seperti itu,” jawab Peter dengan bijak. Jeremy pun kicep, dia yang tak mau kalah pun menimpali –
“Aku akan menceraikannya setelah enam bulan, lihat saja nanti! Dan itu sudah menjadi takdirnya, menjadi janda diusia belum genap dua puluh tahun,” ketus Jeremy. Pikiran pria itu terdengar sangat kejam.
Namun, lebih kejam lagi pikiran putri tunggal kesayangan Kimi dan Richie. Bukannya mendengarkan sang guru membahas cara penyelesaian soal ujian. Marsha malah sibuk menggambar di buku tulisnya. Ia menggambar orang dengan sebuah tali bulat yang menggantung, sedetik kemudian Marsha mencoretnya sampai gambar itu hampir tertutup semua. Gadis itu menggambar lagi, kini sebuah cangkir dengan gambar tengkorak.
Marsha menggeleng, mencoret gambar itu sebelum memutar bola mata malas dan membalik kertas, selanjutnya dia menggambar penampang alat reproduksi pria. Marsha tertawa sendiri, dia bahagia membayangkan sedang menghancurkan kinderjo milik Jeremy dengan stik golf. Sepertinya membuat pria itu mandul lebih baik dari pada membunuhnya, begitu pikir Marsha.
Hingga tanpa dia duga, sang guru sudah berada tepat di samping bangku dan menyambar buku tulis di mana gambar menyerupai sosis bertelor puyuh terpampang jelas di sana. Sang guru pun melotot dan meneriakkan namanya.
“Marsha …. !”
PRANG
Kimi menyenggol wadah berisi jarum suntik. Ia termenung sejenak dan hanya bisa memandangi asistennya membereskan kekacauan yang dia buat.
__ADS_1
“Ada apa ini? Marsha …. Pasti dia membuat ulah lagi,” gumam Kimi dalam hati.