
Seolah tak peduli dengan apa yang dialami Jeremy, Marsha mengajak Rey kembali berjalan menyusuri trotoar. Seperti melupakan keberadaan calon suaminya, gadis itu malah asyik membicarakan banyak hal dengan Rey.
“Setelah menikah aku harus memanggilmu apa? meski kamu lebih tua dariku, tapi secara hirarki aku adalah kakak iparmu,” ucap Marsha.
Rey hanya membalas dengan senyuman. Dari apa yang diucapkan oleh Marsha, dia yakin bahwa gadis itu dan sang kakak memang saling suka. Meski Jeremy kemarin bilang pernikahannya dan Marsha yang akan berlangsung beberapa bulan lagi tergolong tak terduga, tapi Rey meyakini baik Jeremy dan juga Marsha pasti sama-sama memiliki rasa.
“Kamu bisa memanggilku Rey, bagaimana? terdengar lebih dekat ‘kan?”
Marsha mengangguk, dia menggigit sedotan minumannya dan meminta Rey untuk mempercepat langkah, mereka berjalan membelah keramaian cipeyem sambil membahas banyak hal.
“Biarkan saja dia, salah siapa ikut,” sinis Marsha saat Rey memilih untuk menghentikan langkah menunggu sang kakak. “Lihat! belum juga umurnya menginjak tiga puluh lima tahun tapi kakakmu sudah seperti jompo,” sindir Marsha karena Jeremy tertinggal jauh darinya dan Rey.
Pemuda itu menoleh tak percaya, Rey baru saja menyadari sesuatu. Sejak tadi Marsha sedikit ketus saat membicarakan Jeremy, dia pun berpikir mungkinkah mereka sedang bertengkar sehingga Marsha sebal.
__ADS_1
“Apa kalian ada masalah?” tanya Rey setelah Jeremy berdiri tepat di dekatnya dan Marsha.
Jeremy melempar pandang ke sang calon istri lalu mengedikkan bahu, dia mengacak lagi rambut Marsha seperti saat menjemput di rumah tadi. Pria itu menolak dugaan sang adik. “Aku dan dia baik-baik saja, iya ‘kan Marca?”
Marsha seketika mual mendengar Jeremy memanggilnya dengan gaya seimut itu, tapi mau bagaimana lagi? dia sadar harus pencitraan di depan anggota keluarga, yang boleh tahu tentang hubungan mereka hanya Mia dan Andro. Marsha semakin kaget saat Jeremy meraih jemarinya dan menautkannya erat.
Rey membuang muka, rasanya ingin sekali mencibir kebucinan sang kakak, tapi dia memilih diam. Rey takut kalau sampai Jeremy berpikir dirinya menaruh hati ke Marsha, meski sebenarnya memang iya.
Kalau sudah begini, apa memang benar cinta pada pandangan pertama itu nyata adanya?
_
_
__ADS_1
“Aku dengar dari nenek Cantik, besok Senin ada acara wisuda sekolahmu di Sky Hotel, apa betul?” tanya Jeremy saat mereka berkendara untuk mengantar Marsha pulang ke rumah.
“Hem … “ jawab Marsha seperti malas-malasan, gadis itu sibuk mengetik sesuatu di ponselnya.
Ternyata Marsha sedang berbalas pesan dengan Andro. Sudah dua hari mereka tidak bertemu. Pacarnya itu sedang mengeluh karena motornya masuk bengkel lagi.
[ Motormu terlalu sering masuk bengkel, akan merepotkan saat kamu kuliah nanti. Sudahlah kamu beli saja motor baru, aku akan memberimu uang. Apa empat puluh juta cukup untuk membeli motor yang jauh lebih bagus? ]
Marsha tersenyum saat Andro membalas dengan kata ‘cukup’. Dan tanpa berpikir panjang, gadis itu langsung mengirimkan uang ke nomor rekening sang pacar. Marsha tidak tahu bahwa orangtuanya sudah curiga sejak lama. Richie dan Kimi yakin tidak pernah kurang memberi uang jajan putri tunggal mereka,. Namun, ada satu hal yang membuat keduanya resah. Richie dan Kimi tahu Marsha tidak suka dan jarang sekali berbelanja barang branded, tapi entah kenapa saat ditanya ada berapa saldo uang jajannya, putri mereka itu tak mau terbuka. Hingga Kimi menemukan banyak struk belanja di kamar Marsha dan semua struk itu berisi item pembelian barang pria. Mulai saat itu Kimi yakin putrinya hanya dimanfaatkan oleh Andro.
“Apa kakak mau datang?” tanya Marsha setelah menyimpan ponselnya ke dalam tas, dia menoleh ke Jeremy menunggu jawaban pria itu.
“Haruskah? Aku tidak janji.”
__ADS_1
“Bagaimana kalau aku saja yang datang? Aku ingin melihat seperti apa acara wisuda anak SMA zaman sekarang.” Rey menoleh ke belakang, dia tersenyum lebar terlebih Marsha sudah mengangguk mengiyakan.
Namun, lagi-lagi ada om-om yang tidak suka dengan kedekatan sang adik dan sang calon istri. “Aku akan menjemputmu di rumah, katakan saja jam berapa?"