Pernikahan Tak Terduga : UNEXPECTED MARRIAGE

Pernikahan Tak Terduga : UNEXPECTED MARRIAGE
Bab 97 : Pelit, Kikir, Bakhil


__ADS_3

“Lho Sya, kenapa pulang? tadi Mami baru minta mba …. “


Kimi tak meneruskan kalimatnya, dia heran mendapati Marsha pulang ke rumah dan langsung menaiki anak tangga menuju kamarnya tanpa menyapa dirinya. Wanita itu heran, hingga perasaannya menjadi tidak enak.


“Duh … jangan sampai baru menikah dua hari dia sama Jeremy sudah marahan,” gumam Kimi. Ia yang hendak pergi ke rumah sakit memilih mengurungkan niat.


Sementara itu, Jeremy tak langsung mengejar Marsha tadi. Ia menatap kaus pasangannya dan Mia yang tadi dilempar sang istri.


“Apa aku keterlaluan?” Jeremy merasa bersalah. Kenapa juga harus begitu reaksioner sampai memarahi Marsha hanya karena hal sepele. “Dia menangis, aku lihat pipinya basah.”


Di sisi lain Marsha yang sedang dia pikirkan langsung melepas baju dan menggantinya. Marsha menutup pintu kamar, tapi lupa menguncinya. Gadis itu merebah di atas ranjang, mencari posisi yang nyaman dengan memeluk guling, lalu menarik selimut sampai sebatas leher. Marsha tak peduli dengan pikiran orang, dia hanya ingin tidur nyenyak meski hari masih sore.


_


_


_

__ADS_1


[ Je, Marsha pulang ke rumah, apa ada masalah? ]


Kimi tak bisa tinggal diam dan mengirimkan pesan ke sang mantu. Ia harap-harap cemas, berdiri di depan pintu kamar Marsha, setelah memeriksa ke dalam kamar, dan mendapati Marsha tertidur.


[ Hanya salah paham. Marsha merajuk. Apa dia pulang ke rumah? Orang yang mengantar bajunya baru saja kembali ] balas Jeremy


[ Iya, ini jam segini sudah tidur dia. Bagaimana ya, kalau sampai papinya tahu bisa sampai mana-mana. Masa baru dua hari menikah sudah marahan ]


Kimi benar-benar cemas, hingga merasa sedikit lega saat Jeremy memberikan solusi. Karena tak mungkin memaksa Marsha, atau memindahkan gadis itu yang sedang tidur, maka Jeremy menyusul ke rumah Kimi. Ia terus mengingat kesepakatan bernilai triliunan yang akan dilakukan dengan Tuan Kevin. Jeremy berniat menurunkan ego setidaknya sampai liburan ke Bali terlewati.


***


“Dia menggunakan kausku tanpa izin, dan karena itu kaus favorit, jadi aku sedikit tak terima tadi.” Begitu yang diucapkan Jeremy.


“Marsha memang tidak bisa memakai baju yang sudah bau keringat, meski bekas keringatnya sendiri,” ujar Kimi merespon kalimat sang menantu.


Jeremy mengangguk paham, dia seharusnya sadar kalau sang istri adalah tipe princess di era modern. “Heran, apa dia akan gatal-gatal jika memakai baju bekasnya sendiri,” gumam Jeremy di dalam hati.

__ADS_1


Mengayunkan langkah masuk ke dalam kamar Marsha, Jeremy melihat gadis itu tidur meringkuk. Namun, siapa sangka kalau Marsha ternyata sudah bangun. Ia menegakkan badan dan menghardik Jeremy yang berdiri canggung di dekat meja pajangan.


“Ngapain ke sini? pergi sana!” usir Marsha, dia ternyata tidak bisa tidur lelap.


“Ah … Marsha, jangan galak-galak!”


Jeremy mengeluarkan jurus merayu. Ia sadar bahwa Marsha sangat dia butuhkan. Tuan Kevin adalah pria yang sangat menjunjung tinggi kaharmonisan rumah tangga, dia begitu sangat menghargai wanita. Jadi, jika Tuan Kevin tahu bahwa dia jahat ke istrinya, bisa-bisa kesepakatan itu batal, dan mungkin Tuan Kevin akan jadi benci kepadanya.


“Galakan mana sama pria yang bentak-bentak, hanya karena dipakai kausnya sama istri sendiri,” sewot Marsha. “Dasar pelit, kikir, bakhil!” imbuhnya dengan nada suara penuh amarah.


“Marsha, aku minta maaf ya, tadi bukan maksudku membuatmu tersinggung dan menangis,” kata Jeremy. Ia mencoba berbicara lembut agar istrinya luluh.


“Menangis? siapa yang menangis, yang Om lihat tadi bukan air mata, aku cuma kemasukan debu, kamar Om itu kotor, bau dan tidak higienis,” elak Marsha. Ia membuang muka seolah tak sudi menatap suaminya.


“Marsha, sudah ya marahnya. Apa kamu mau uang jajan?” bujuk Jeremy.


Sayang sekali pria itu salah menawarkan hal berbau cuan ke sang istri, karena Marsha langsung menoleh dan menyipitkan mata.

__ADS_1


“Uang jajan? Tidak mau, kalau ingin aku maafkan, maka berikan aku ATM milik om beserta pinnya.”


__ADS_2